Lelaki yang Membuat Belanda Gemetar

Pangeran Mangkubumi dan Kelahiran Yogyakarta dari Bara Pengkhianatan

(Sari Sejarah Mataram Islam)

Ada sebuah momen di tahun 1746 yang nyaris tak pernah dibicarakan secara jujur oleh sejarah resmi kita. Seorang pangeran berdiri di hadapan gubernur jenderal VOC, Baron van Imhoff, di dalam keraton Pakubuwana II di Surakarta. Ia bukan sembarang pangeran, ia adalah Bendara Pangeran Harya Mangkubumi, saudara kandung raja, penakluk Sukawati, komandan 13.000 prajurit, dan tokoh yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung eksistensi dinasti Mataram.

Di depan orang-orang istana, di depan para punggawa dan prajurit, di depan mata seluruh kerajaan, van Imhoff menghina Mangkubumi secara terbuka.

Sejarah tidak mencatat kata-kata persis yang diucapkan. Yang dicatat oleh sejarawan M.C. Ricklefs dalam Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749–1792 (1974) adalah akibatnya: Mangkubumi meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dengan membawa luka yang tidak akan pernah sembuh. Bukan luka fisik. Luka yang jauh lebih berbahaya, luka harga diri seorang bangsawan Jawa.

Dan dari luka itulah, dari satu penghinaan yang sembrono di hadapan umum, lahirlah sebuah kerajaan yang kita kenal hingga hari ini sebagai Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Belanda mengakui sendiri: perang melawan Mangkubumi adalah perang terberat yang pernah mereka hadapi di Jawa sejak 1619.” Ricklefs, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi, 1974

I. ANAK YANG LAHIR DARI SELIR

Nama kecilnya adalah Raden Mas Sujana. Lahir di Keraton Kartasura pada 5 Agustus 1717, bukan dari permaisuri, melainkan dari seorang selir bernama Mas Ayu Tejawati. Dalam hierarki keraton Jawa yang sangat ketat, ini adalah posisi yang ambigu, cukup mulia untuk mendapat gelar pangeran, namun cukup rendah untuk tidak pernah dianggap sebagai pewaris utama takhta.

Ayahnya adalah Amangkurat IV, susuhunan Mataram kedelapan. Kakak tirinya yang lahir dari permaisuri akan menjadi Pakubuwana II. Dua saudara kandung, satu di atas takhta, satu di bawah bayang-bayangnya. Dalam kondisi seperti ini, seorang anak yang cerdas dan ambisius hanya bisa melakukan satu hal: membuktikan diri.

Dan Mangkubumi membuktikan diri. Ia tumbuh menjadi panglima yang luar biasa, ahli strategi, dan pemimpin yang karismatik.

Ketika pemberontakan etnis Tionghoa meletus pada 1740 yang dikenal sebagai Geger Pecinan, dan apinya menjalar ke seluruh Jawa, Mangkubumi-lah yang mengambil peran aktif di garis depan. Sementara Pakubuwana II berputar-putar dalam kebimbangan dan oportunisme politik, kadang mendukung pemberontakan, kadang berlindung kepada VOC, Mangkubumi bergerak dengan kepastian seorang ksatria.

FAKTA

Amangkurat IV adalah ayah biologis Mangkubumi (lahir dari selir Mas Ayu Tejawati) sekaligus ayah Pakubuwana II (lahir dari permaisuri). Ricklefs mengkonfirmasi silsilah ini berdasarkan sumber-sumber Belanda dan babad sezaman. Lihat: M.C. Ricklefs, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749–1792, Oxford University Press, 1974, hlm. 4–9.

Sukawati: Kemenangan yang Dicuri

Pada 1742, Keraton Kartasura diserbu oleh pemberontak Cina-Jawa yang dipimpin oleh Sunan Kuning. Pakubuwana II terpaksa mengungsi. Keraton hancur. Ini adalah salah satu tragedi terbesar dalam sejarah dinasti Mataram, dan itu terjadi bukan karena invasi dari luar, melainkan karena keruntuhan dari dalam.

Setelah situasi stabil dengan bantuan VOC dan Cakraningrat IV dari Madura, Pakubuwana II memindahkan ibu kota ke Surakarta pada 1745. Namun masalah belum selesai: sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa berhasil menguasai tanah Sukawati di barat daya Mataram.

Pakubuwana II mengumumkan sayembara: siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukawati dari tangan Sambernyawa akan mendapat hadiah tanah seluas 3.000 cacah. Mangkubumi maju. Ia memimpin ekspedisi militer, menggempur Sambernyawa dengan taktik yang cerdas dan berani, dan berhasil mengusirnya pada 1746.

Ia telah memenuhi janjinya. Ia datang menagih hadiah yang dijanjikan oleh saudaranya sendiri.

Yang terjadi selanjutnya adalah pengkhianatan yang paling memalukan dalam sejarah dinasti Mataram: Patih Pringgalaya, perdana menteri Pakubuwana II menghasut raja untuk membatalkan perjanjian sayembara. Dengan kata lain, Mangkubumi menang di medan perang, namun kalah di istana karena ada yang bekerja di belakang layar.

TITIK BALIK

Pembatalan hadiah sayembara Sukawati oleh Pakubuwana II atas hasutan Patih Pringgalaya adalah pemicu utama perlawanan Mangkubumi. Ricklefs menyebutnya sebagai ‘a fateful breach of promise’, sebuah pengkhianatan janji yang mengubah sejarah Jawa. Lihat: M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1200, Edisi ke-4, Palgrave Macmillan, 2008, hlm. 93–95.

II. API YANG TIDAK PADAM: PERLAWANAN 1746–1755

Lukisan Pangeran Mangkubumi tengah Mengendarai Kuda (Sumber Gambar: FB Mohammad Basyir)

Baron van Imhoff datang ke Surakarta bukan untuk memperburuk keadaan, atau setidaknya begitulah klaimnya. Ia datang sebagai gubernur jenderal VOC dengan misi menstabilkan situasi Mataram yang kacau pasca Geger Pecinan. Namun ia membawa mentalitas kolonial yang tidak bisa menyembunyikan dirinya: bahwa raja-raja Jawa adalah mitra junior, dan bahwa VOC berhak memaksakan kehendak ekonominya.

Ia mendesak Pakubuwana II untuk menyewakan wilayah pesisir utara Jawa kepada VOC seharga 20.000 real, untuk ‘melunasi hutang keraton’ kepada Belanda. Mangkubumi menentang keras. Baginya, ini bukan sekadar soal uang. Ini soal kedaulatan. Menyewakan pesisir berarti menyerahkan urat nadi perdagangan kerajaan kepada tangan asing.

Van Imhoff tidak menyukai penolakan ini. Dan dalam kemarahannya atau mungkin dalam kesombongannya sebagai tuan kolonial, ia menghina Mangkubumi di depan umum.

“Satu penghinaan di depan umum. Itulah yang diperlukan untuk membakar seorang pangeran Jawa menjadi pemberontak paling berbahaya yang pernah dihadapi VOC di Nusantara.”

Embas, berdasarkan analisis atas sumber Ricklefs (1974)

Mangkubumi meninggalkan Surakarta. Bukan dengan emosi yang meledak-ledak. Ia pergi dengan tenang dan itu justru yang paling menakutkan bagi VOC. Ia bergabung dengan Raden Mas Said, keponakannya, sang Pangeran Sambernyawa. Untuk mengukuhkan aliansi, ia menikahkan putrinya, Rara Inten (kelak bergelar Gusti Ratu Bendara), dengan Raden Mas Said. Dua orang paling berbahaya di Jawa kini berdiri bersama.

Perang Takhta Jawa III: 13.000 Prajurit dan Satu Misi

Para sejarawan menyebutnya Perang Takhta Jawa III. Dalam skala dan durasinya, ini adalah konflik militer paling dahsyat yang pernah melanda Jawa di abad ke-18. Ricklefs mencatat bahwa pada tahun 1747, kekuatan Mangkubumi telah mencapai 13.000 prajurit, sebuah angka yang melampaui kapasitas militer VOC di seluruh Jawa.

Mangkubumi tidak bertempur seperti pemberontak yang putus asa. Ia bertempur seperti seorang raja yang ingin memulihkan kerajaannya. Pertempuran demi pertempuran ia menangkan: di Demak, di Grobogan, dan puncaknya, pertempuran di tepi Sungai Bogowonto pada 1751 di mana ia menghancurkan pasukan VOC yang dipimpin oleh Kapten de Clerck (yang oleh orang Jawa dikenal sebagai Kapten Klerek).

Pakubuwana II, yang sedang sekarat oleh penyakit, akhirnya membuat keputusan yang paling kontroversial dalam sejarah Mataram: pada 11 Desember 1749, ia menyerahkan kedaulatan penuh Mataram kepada VOC dengan imbalan perlindungan bagi keluarga kerajaannya. VOC langsung mengangkat putranya, Raden Mas Suryadi, sebagai Pakubuwana III.

Sehari kemudian, pada 12 Desember 1749, di markas pertahanannya di Desa Banaran (wilayah Sukawati), Mangkubumi mengangkat dirinya sendiri sebagai susuhunan bergelar Pakubuwana III. Tiba-tiba ada dua raja dengan gelar yang sama di Jawa.

FAKTA

Pada Desember 1749, secara bersamaan terdapat dua orang yang bergelar Pakubuwana III: Raden Mas Suryadi yang diangkat oleh VOC pada 15 Desember 1749 di Surakarta, dan Mangkubumi yang diangkat oleh pengikutnya pada 12 Desember 1749 di Banaran. Mangkubumi dikenal dengan gelar Sunan Kabanaran, karena bermarkas di desa Banaran. Sumber: Ricklefs, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi, 1974, hlm. 47–52.

Retaknya Aliansi: Mangkubumi dan Sambernyawa Berpisah Jalan

Jika ada satu kenyataan pahit dalam perang ini, ia adalah ini: dua pemberontak yang paling kuat tidak bisa berbagi takhta yang sama. Pada 1752, Mangkubumi dan Raden Mas Said, sang Sambernyawa pecah kongsi. Perselisihan ini bukan soal strategi perang atau soal uang. Ini soal supremasi tunggal atas Mataram. Keduanya ingin menjadi satu-satunya raja Jawa yang sesungguhnya. Dan tidak ada ruang untuk dua matahari dalam satu langit Jawa.

Perpecahan ini adalah kelemahan yang VOC tunggu-tunggu. Nicolaas Hartingh, gubernur wilayah pesisir utara Jawa, melihat celah ini dengan jelas. Pada 1754, ia mendekati Mangkubumi dengan tawaran yang tidak bisa ditolak: setengah wilayah Mataram, pengakuan resmi sebagai sultan, dan bagian dari uang sewa pesisir. Mangkubumi menerima tawaran itu. Bukan karena ia kalah. Bukan karena ia lemah. Ia menerima karena ia realistis, dan mungkin karena ia sudah menghitung bahwa setengah Mataram yang merdeka dan berdaulat jauh lebih baik daripada seluruh Mataram yang hancur dalam perang tak berakhir.

DEBAT ILMIAH

Para sejarawan masih memperdebatkan motivasi Mangkubumi menerima Perjanjian Giyanti. Ricklefs cenderung melihatnya sebagai pragmatisme politik. Sementara sebagian sejarawan Jawa menafsirkannya sebagai strategi jangka panjang untuk membangun kekuatan dari dalam. Yang pasti: setelah Giyanti, Mangkubumi tidak pernah berhenti mencoba untuk merebut kembali keutuhan Mataram.

III. PERJANJIAN GIYANTI: LAHIR DARI LOGIKA KOLONIAL

Tanggal 13 Februari 1755. Di sebuah desa bernama Giyanti, sekarang masuk wilayah Karanganyar, Jawa Tengah, sebuah dokumen ditandatangani yang akan mengubah peta politik Jawa untuk selamanya.

Perjanjian Giyanti membagi Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwana III, dan Kesultanan Yogyakarta di bawah Mangkubumi yang kini bergelar Sultan Hamengkubuwana I. Masing-masing mendapat setengah wilayah. Keduanya sama-sama terikat perjanjian sewa pesisir dengan VOC seharga 20.000 real, yang kemudian dibagi dua: 10.000 real untuk Yogyakarta, 10.000 real untuk Surakarta.

Bagi VOC, ini adalah kemenangan diplomatik yang brilian. Mereka berhasil memecah kekuatan Mataram tanpa harus bertempur sampai titik darah penghabisan. Prinsip devide et impera, pecah belah dan kuasai, berjalan dengan sempurna.

Bagi Mangkubumi, ini adalah… apa? Kemenangan? Kompromi? Kekalahan yang terselubung?

“Giyanti bukan hanya perjanjian pembagian wilayah. Ia adalah sertifikat lahir Yogyakarta, dan sekaligus surat kematian Mataram yang utuh.”

Embas

Yang sering dilupakan oleh narasi heroik tentang HB I adalah kenyataan ini: untuk mendapat pengakuan atas legitimasinya, Mangkubumi harus bersekutu dengan pihak yang sama, VOC yang dahulu menghina dan mengkhianatinya. Ia harus duduk semeja dengan Pakubuwana III, yang merupakan raja yang dinobatkan oleh VOC dari wilayah yang seharusnya menjadi miliknya.

Dan lebih dari itu: sebagai bagian dari kesepakatan Giyanti, Mangkubumi berbalik melawan Raden Mas Said keponakannya sendiri, menantunya sendiri, dan bersama VOC mengepung Sambernyawa hingga akhirnya menyerah pada 1757 dalam Perjanjian Salatiga.

BATAS KLAIM

Sumber-sumber Belanda (arsip VOC, laporan Hartingh) cenderung menggambarkan Giyanti sebagai ‘pacifikasi’ yang sukses. Sumber-sumber Jawa (babad) cenderung menarasikannya sebagai kemenangan Mangkubumi. Kebenaran yang lebih kompleks ada di antara kedua narasi tersebut. Peneliti disarankan membaca: P.B.R. Carey, The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855, KITLV Press, 2008, untuk konteks yang lebih luas.

IV. MEMBANGUN YOGYAKARTA: DARI HUTAN KE KERAJAAN

Foto Keraton Yogyakarta (Sumber: FB Mohammad Basyir)

April 1755. Hamengkubuwana I menghadapi tugas yang luar biasa: membangun sebuah kerajaan baru, bukan dari kekosongan, melainkan dari fondasi yang sudah ada namun belum pernah dimaksimalkan.

Di kawasan hutan Pabringan yang ia pilih, ternyata sudah berdiri sebuah dusun kecil bernama Pachetokan, dan sebuah pesanggrahan yang dibangun Pakubuwana II bernama Garjitowati, tempat istirahat resmi iringan jenazah raja-raja Mataram dalam perjalanan menuju Imogiri. Pakubuwana II sendiri telah mengubah nama pesanggrahan itu menjadi Ayogya, sebuah nama yang berakar dari bahasa Sansekerta, a-yodhya, yang berarti “yang tak bisa ditaklukkan”, merujuk pada kota suci Ayodhya dalam epos Ramayana. HB I mengambil nama itu dan memperbesar maknanya: Ngayogyakarta Hadiningrat, kota yang tak tertaklukkan, makmur, dan mulia.

Yang sesungguhnya ia lakukan bukan babat alas dari nol. Ia adalah sintesator agung: mengambil yang sudah ada, memahami lapisannya, dan mengangkatnya menjadi sesuatu yang jauh melampaui zamannya.

Namun ada detail yang sering hilang dari narasi populer: Mangkubumi membutuhkan modal untuk membangun keraton. Ia mengajukan permintaan uang persekot dari sewa pesisir kepada VOC. VOC tidak segera membayar. Seorang raja baru, dengan legitimasi baru, harus menunggu pembayaran dari kongsi dagang asing yang menjadi ‘mitra’-nya.

Ini adalah ironi yang pahit: kerajaan yang lahir dari perlawanan terhadap ketamakan VOC, harus membangun fondasi pertamanya dengan bergantung pada uang VOC juga.

Keraton sebagai Manifesto

Namun Hamengkubuwana I bukan orang yang terjebak dalam ironi. Ia adalah seorang arsitek peradaban yang berpikir jauh ke depan. Pada 7 Oktober 1756, ia pindah secara resmi dari Banaran ke Yogyakarta. Dan apa yang ia bangun di sana bukan sekadar keraton, ia membangun sebuah pernyataan.

Tata letak Keraton Yogyakarta adalah karya arsitektur yang merupakan representasi kosmologi Jawa-Islam: sumbu utara-selatan yang menghubungkan Gunung Merapi (simbol kekuatan alam) dengan Laut Selatan (simbol kekuatan spiritual), dengan keraton sebagai titik pusat alam semesta.

Pakubuwana III mendapat Surakarta yang sudah ada; Mangkubumi membangun Yogyakarta dari kosong, dan justru karena itulah ia bisa merancangnya sesuai visinya sendiri.

Kemudian lahirlah Taman Sari, kompleks taman dan kolam pemandian kerajaan yang dirancang oleh seorang arsitek Portugis yang terdampar di pantai selatan dan kemudian mengabdi kepada kesultanan dengan nama Jawa Demang Tegis. Taman Sari bukan sekadar fasilitas mewah; ia adalah simbol bahwa Yogyakarta adalah kerajaan yang berkelas, berbudaya, dan mampu mengintegrasikan estetika dari berbagai tradisi dunia.

FAKTA

Taman Sari dibangun antara 1758–1765 di bawah pengawasan langsung HB I. Arsiteknya adalah seorang berkebangsaan Portugis yang dikenal dengan nama Jawa Demang Tegis. Kompleks ini mencakup kolam pemandian, masjid bawah tanah (Sumur Gumuling), dan sistem pengairan yang kompleks. Sumber: Fredy Heryanto, Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, 2007; juga Abdurrachman Surjomihardjo, Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe, Komunitas Bambu, 2008.

V. SULTAN DI BALIK SENYUM DAMAI

Perjanjian Giyanti ditandatangani. Yogyakarta berdiri. Namun dalam hati Hamengkubuwana I, apakah perdamaian itu sungguh-sungguh ia terima?

Ricklefs mencatat sesuatu yang sangat signifikan: meskipun HB I telah bersumpah damai dengan Pakubuwana III dan VOC, ia tidak pernah sungguh-sungguh melepaskan ambisinya untuk menyatukan kembali Mataram. Yogyakarta di bawah kepemimpinannya tumbuh menjadi kekuatan militer yang melebihi Surakarta, bahkan melebihi kekuatan tempur VOC di Jawa.

Ia juga secara konsisten berusaha menghalangi VOC untuk terlalu dalam mencampuri urusan internal kesultanannya. Ketika VOC ingin mendirikan benteng di Yogyakarta, HB I memperlambat prosesnya dengan berbagai cara diplomatik. Ia tidak menolak secara langsung, karena ia tahu VOC bisa memaksakan kehendak. Namun ia bermain dengan waktu, dengan prosedur, dengan negosiasi yang tidak pernah selesai.

1790: Koalisi Aneh Melawan Surakarta

Ketegangan dengan Surakarta tidak pernah benar-benar mereda. Ketika Pakubuwana IV naik takhta pada 1788, seorang raja muda yang cerdas dan ambisius, yang juga bermimpi menyatukan kembali Mataram, situasi menjadi genting. PB IV mengangkat saudaranya dengan gelar Pangeran Mangkubumi, sebuah provokasi yang disengaja terhadap Yogyakarta, karena nama itu adalah gelar kebesaran HB I.

PB IV juga menolak mengakui hak waris putra mahkota Yogyakarta. Dan yang paling mengkhawatirkan VOC: PB IV dikelilingi oleh penasihat-penasihat spiritual yang kuat, yang dianggap bisa memantik perlawanan bersenjata baru.

Pada 1790, terjadilah sesuatu yang luar biasa: Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I, dua musuh lama dari era pemberontakan bersekutu untuk pertama kalinya. Bersama VOC, mereka mengepung Surakarta. PB IV akhirnya menyerah dan membubarkan lingkaran penasihat spiritualnya.

Sejarawan bisa membaca ini dengan dua cara yang sama-sama valid: pertama, ini adalah bukti bahwa HB I masih memainkan permainan kekuasaan yang kompleks dan tidak pernah berhenti berstrategi. Kedua, ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap kebangkitan Islam-politik di keraton adalah ancaman yang dirasakan bersama oleh semua pihak, termasuk penguasa Jawa sendiri.

DEBAT ILMIAH

Peristiwa 1790, koalisi HB I, Mangkunegara I, dan VOC melawan PB IV, adalah salah satu episode paling ambigu dalam sejarah akhir HB I. Apakah ini pragmatisme realpolitik, atau cermin dari ketakutan bersama terhadap radikalisme keagamaan di istana? P.B.R. Carey dalam The Power of Prophecy (2008) memberikan analisis mendalam tentang konteks ‘penasihat spiritual’ PB IV yang dianggap berbahaya. Pembaca disarankan memverifikasi langsung ke sumber primer ini.

VI. WARISAN: BENCI YANG DIWARISKAN, KEINDAHAN YANG DIABADIKAN

Hamengkubuwana I meninggal pada 24 Maret 1792, di usia 74 tahun, di keraton yang ia bangun sendiri. Ia telah memerintah selama 37 tahun, masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta.

Apa yang ia tinggalkan?

Pertama: sebuah keraton yang pada saat kematiannya sudah menjadi salah satu pusat peradaban Jawa yang paling bersinar. Ricklefs mencatat bahwa Yogyakarta di akhir era HB I sudah berhasil mengungguli Surakarta dalam hampir semua aspek: kekuatan militer, kemakmuran ekonomi, dan prestise budaya.

Kedua: sebuah rasa benci terhadap penjajah asing yang ia wariskan kepada penerusnya. Hamengkubuwana II, putranya yang naik takhta setelah kematiannya, mewarisi luka dan amarah itu, dan kelak akan memimpin perlawanan bersenjata terbuka melawan Belanda yang terakhir sebelum era Diponegoro.

Ketiga: Taman Sari. Kompleks ini adalah jejak fisik yang paling abadi dari visi HB I, bahwa kekuasaan sejati bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi tentang kemampuan menciptakan keindahan.

“Seorang raja yang membangun kerajaan dari hutan, dari penghinaan, dan dari kekalahan diplomatik namun berhasil meninggalkan keindahan yang bertahan lebih lama dari semua musuhnya.”

Embas

Mengapa Belanda Mengaku Kalah?

Pihak Belanda sendiri dalam catatan-catatan resmi VOC, mengakui bahwa perang melawan Pangeran Mangkubumi adalah perang paling berat yang pernah mereka hadapi di Jawa sejak VOC pertama kali menginjak Batavia pada 1619. Bukan karena Mangkubumi mengalahkan mereka secara militer dalam pertempuran terbuka. Tetapi karena selama hampir satu dekade, ia berhasil membuat seluruh aparatus militer dan diplomatik VOC di Jawa tidak berdaya menghadapi seorang pangeran yang berjuang bukan untuk kekayaan, melainkan untuk kehormatan.

Dan ketika Perjanjian Giyanti akhirnya ditandatangani ketika VOC berhasil membujuk Mangkubumi untuk berdamai, itu pun bukan kemenangan sejati bagi VOC. Karena sejak hari itu, mereka harus selamanya hidup dengan ancaman: bahwa sultan di Yogyakarta, di balik senyum diplomatisnya, tidak pernah lupa bahwa ia pernah dihina. Dan ia tidak pernah lupa bahwa Mataram seharusnya utuh.

TITIK BALIK

Pada 10 November 2006, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Hamengkubuwana I sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden No. 085/TK/2006. Penetapan ini terjadi beberapa bulan setelah gempa bumi dahsyat melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006, sebuah kebetulan historis yang penuh makna.

VII. REFLEKSI: YOGYAKARTA ADALAH LUKA YANG MENJADI MAHKOTA

Foto Alun-Alun Utara Yogyakarta (Sumber: FB Mohammad Basyir)

Kita sering menceritakan sejarah pendiri kota dengan cara yang terlalu bersih, terlalu heroik, terlalu tanpa cela. Hamengkubuwana I dalam narasi populer adalah panglima tanpa tanding, sultan yang bijaksana, dan pahlawan nasional yang penuh martabat.

Semua itu benar. Namun ada dimensi yang lebih manusiawi, lebih kompleks, dan justru karena itu lebih menarik: ia adalah manusia yang pernah merasa ditolak oleh saudaranya sendiri, dikhianati oleh sistem keraton yang seharusnya melindunginya, dan dihina secara publik oleh tamu asing di tanah airnya sendiri.

Dan dari semua penghinaan itu, ia tidak memilih untuk tenggelam. Ia memilih untuk membangun.Yogyakarta bukan sekadar kota. Ia adalah bukti bahwa dari luka yang paling dalam, dari pengkhianatan seorang saudara, dari keangkuhan seorang kolonial, dari janji yang dilanggar di tengah alun-alun Surakarta, bisa lahir sesuatu yang indah, yang bertahan, dan yang memanggil jutaan manusia untuk datang dan merasakannya hingga hari ini.

Setiap kali Anda berdiri di halaman Keraton Yogyakarta, setiap kali Anda menyentuh dinding Taman Sari yang berlumut, setiap kali Anda menyebut nama kota ini, ingatlah: semua ini dimulai dari satu penghinaan. Dan dari satu tekad manusia untuk tidak membiarkan penghinaan itu menjadi akhir ceritanya.

SUMBER PUSTAKA

Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber yang terverifikasi secara akademik.

  1. M.C. Ricklefs, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749–1792: A History of the Division of Java, Oxford University Press, London, 1974. [Sumber primer utama untuk keseluruhan artikel ini, mencakup kronologi perlawanan, Perjanjian Giyanti, dan pembangunan Yogyakarta berdasarkan arsip VOC dan babad sezaman.]
  2. M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1200, Edisi ke-4, Palgrave Macmillan, Basingstoke, 2008. [Konteks Geger Pecinan, Perang Takhta Jawa III, dan signifikansi Giyanti dalam perspektif sejarah Indonesia modern.]
  3. H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java, Martinus Nijhoff, Den Haag, 1974. [Konteks sejarah Mataram Islam dan genealogi dinasti.]
  4. P.B.R. Carey, The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855, KITLV Press, Leiden, 2008. [Konteks akhir era HB I, peristiwa 1790, dan warisan yang diterima oleh HB II menuju era Diponegoro.]
  5. Abdurrachman Surjomihardjo, Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe: Sejarah Sosial 1880–1930, Komunitas Bambu, Jakarta, 2008. [Konteks pembangunan kota Yogyakarta dan perkembangannya setelah era HB I.]
  6. Fredy Heryanto, Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta, 2007. [Arsitektur keraton dan Taman Sari sebagai warisan HB I.]
  7. Naskah Babad Tanah Jawi, edisi J.J. Meinsma, Martinus Nijhoff, Den Haag, 1874. [Sumber babad Jawa sezaman yang menjadi bahan bandingan dengan sumber Belanda dalam penelitian Ricklefs.]

Mohammad Basyir Zubair (Embas) | Yogyakarta 26 April 2026

Sumber Artikel : FB Mohammad Basyir

Mohammad Basyir Zubair
Mohammad Basyir Zubair
Pengamat Arkeologi & Penulis Populer-Akademik | Kotagede, Yogyakarta

Related Articles

Artikel baru