Kartini, Setelah Seremoni Upacara

Tadi pagi, 21 April 2026, sekitar jam 07.00 kurang sedikit, saya mengantar anak saya ke sekolah di SDNU. Tidak seperti biasanya. Dia menggunakan busana khas. Kebaya berbasis jarik. Saya baru sadar, hari ini adalah hari Kartini. Ya, tanggal 21 April selalu disambut dengan cara yang hampir sama. Ada kebaya. Ada lomba. Ada pidato. Ada foto repro Kartini yang digantung lagi di dinding sekolah. Ada lagu “Ibu Kita Kartini,” yang dinyanyikan dengan khusyu’. Semua tampak tertib, khidmat. Lalu selesai. Sesudah itu, mungkin hidup akan berjalan seperti biasa. Padahal Kartini bukan nama untuk seremoni. Kartini adalah gangguan bagi kenyamanan yang beku. Kartini adalah suara yang menolak nasib dijadikan pagar. Kartini adalah hasrat belajar yang inginmenembus tembok tafsir agama tertentu, adat, kuasa, dan ketakutan.

Tanggal 21 April sudah lama ditetapkan sebagai Hari Kartini. Negara menetapkan tanggalnya. Sejak Keppres No.108 Tahun 1964, 21 April diperingati secara resmi. Kampus, sekolah, madrasah, menyambunya dengan upacara. Dengan seremoni. Ruang publik juga tetiba dipenuhi ucapan selamat. Namun pertanyaan eksistensialnya adalah, sesudah seremoni itu, apa yang sungguh berubah dalam hidup perempuan? Perkembangan mutaakhir adalah gerakan yang menyebut dirinya sebagai Aliansi Laki-laki Baru. Jika dulu yang diuthek-uthek adalah Perempuan, sekarang bergeser ke laki-laki. Hasilnya? Tanyalah pada rumput yang bergoyang, mengutip Ebiet G. Ade.

Di sinilah, pentingnya memaknai lebih jero Hari Kartini. Meski penulis banyak tidak sepakat dengan tulisan-tulisan Kartini. Misalnya, Kartini banyak talbis soal agama, tafsirnya, dan pemeluk yang mempraksiskannya. Itu hal ha lain. Yang jauh lebih penting adalah justru bagaimana cara bangsa ini membaca ghiroh di balik nama itu. Mengapa? Karena Kartini lahir dari kegelisahan. Dari luka pikir. Dari hasrat belajar. Dari keberanian mengusik pagar yang dianggap wajar. Dari surat-suratnya bisa terbaca nuansa itu.

Realitas Saat ini

Perempuan hari ini masih berhadapan dengan banyak problem. Tidak kalah dengan yang dihadapi Kartini dulu. BPS mencatat TPAK perempuan pada 2024 sebesar 56,42 persen. Bank Dunia, lewat portal gender dan kajian ekonomi perawatan, masih menggambarkan partisipasi kerja perempuan Indonesia berada di kisaran rendah-50 persen dan tertahan lama oleh beban pengasuhan dan kerja domestik yang tak dibayar. Di ranah politik, UN Women mencatat kursi parlemen nasional yang dipegang perempuan per Februari 2024 baru 21,91 persen. Pada saat yang sama, 16,3 persen perempuan usia 20–24 tahun tercatat menikah sebelum usia 18 tahun. Angka-angka itu kuantitatif, namun bermakna kualitatif mendalam. Dari angka itu tampak bisa disimpulkan bahwa jalan perempuan masih panjang dan belum lapang. Pintu sudah ada. Lorongnya masih sempit.

Bahkan pada ruang yang dianggap aman, ancaman masih dekat. Komnas Perempuan dalam CATAHU 2025 mencatat total 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan. Pengaduan yang diterima Komnas Perempuan mencapai 4.597 kasus. Dari pengaduan langsung yang terverifikasi, rata-rata sekitar 19 kasus per hari harus direspons. Kekerasan seksual menempati porsi terbesar. Kekerasan berbasis gender online juga tetap dominan, dengan 1.091 kasus KBGO pada 2025. Rumah, kantor, kampus, layar ponsel, semua bisa berubah menjadi tempat genting. Hari Kartini, pada zaman seperti ini, bukan soal kostum nasional. Hari Kartini adalah soal hak untuk aman. Hak untuk belajar tanpa direndahkan. Hak untuk bekerja tanpa diganggu. Hak untuk bersuara tanpa dibuli ejekan digital.

Kearifan dari Pesantren

Di titik ini, Imam Al-Ghazali sudah lama wanti-wanti. Dalam Ayyuhaal-Walad, ada kalimat pendek yang menyengat kita:  “العلم بلا عمل جنون، والعمل بغير علم لا يكون Ilmu tanpa amal adalah kegilaan. Amal tanpa ilmu ora kanggo, seperti tidak ada, tak akan tegak. Kalimat ini keras. Namun harus keras. Sebab masyarakat sering memuji pendidikan perempuan, lalu pelan-pelan menutup jalan setelah ijazah didapat. Sekolah dibuka, ruang kerja menyusut. Perempuan diminta cemerlang, lalu dibebani banyak urusan tak semestinya. Seolah karier adalah hobi tambahan. Pada titik itu, pujian pada pendidikan berubah jadi basa-basi. Imam Al-Ghazali mengingatkan, ilmu harus turun menjadi tindakan. Dalam bahasa zaman ini, akses belajar harus menjelma menjadi kebijakan, perlindungan, upah layak, fasilitas pengasuhan, dan ruang kerja yang manusiawi. Tanpa itu, pidato tentang emansipasi tinggal suara keras karena sound-system.

Imam Fakhruddin al-Razi, dalam mafatihulghoyb, memberi dasar yang lebih ontologis. Dalam tafsir atas frasa “من أنفسكم”, sang imam menulis “الصحيح أن المراد منه من جنسكم”. Yang sohih, maknanya adalah dari jenis kalian sendiri. Ada rekognisi besar di sini. Perempuan bukan makhluk pinggiran. Bukan manusia kelas dua. Bukan pelengkap yang nilainya turun saat masuk ruang ilmu, ruang politik, atau ruang ikhtiar sosial. Perempuan berasal dari martabat kemanusiaan yang sama. Dari jinis yang sama. Dari asal yang sama. Bila ada tafsir sosial yang merendahkan perempuan, padahal asal penciptaan dibaca sebagai kesetaraan jenis dan kemanusiaan, yang bermasalah bukan perempuan. Yang bermasalah adalah mazhab-tafsir yang dipakai. Dan sering kali, tafsir itu ditradisikan sebagai adat, lalu ditaqdis dengan ibarot.

Sang sufi Imam Rumi datang dari jalan yang lain. Jalan suara batin. Dalam terjemahan Arab yang masyhur dari ungkapan Rumi, ada seruan: “استمع إلى صوت الناي كيف يبث آلام الحنين”. Dengarkan seruling. Dengarkan bagaimana bunyi itu mengabarkan pedih rindu. Kartini juga dapat dibaca dari sana. Suara perempuan kerap terdengar lirih bukan karena kurang akal, kurang nyali, atau kurang cita-cita. Sering justru karena terlalu lama dipotong dari sumber suaranya sendiri. Dari hak bertanya. Dari hak salah. Dari hak memilih jalan hidup.

Lalu Imam Shohibul Hikam, Imam Ibn Athaillah menegur dengan hikmah nan tajam.

“اجتهادك فيما ضمن لك، وتقصيرك فيما طلب منك، دليل على انطماس البصيرة”. Engkau sibuk pada hal yang sudah dijamin, lalu lalai pada hal yang dituntut. Itulah tanda mata batin yang gelap. Hikmah ini terasa relevan bagi negara, keluarga, kampus, juga masyarakat. Kita sering sibuk merayakan simbol. Sibuk pada seremoni. Sibuk pada slogan “perempuan hebat”. Sibuk pada foto-foto peringatan. Namun lalai pada tuntutan yang nyata soal perlindungan hukum, penanganan kekerasan yang cepat, transportasi yang aman, cuti yang adil, tempat kerja yang aman nyaman, sekolah yang tak mem-bully anak perempuan, dan ekosistem perawatan yang tak dibebankan secara diam-diam hanya pada satu pihak. Pada titik ini, Hari Kartini meminta praksis. Aksi nyata, bermakna dan berdampak. Bukan upacara.

Karena itu, perempuan jangan terus didorong menjadi makhluk super yang menanggung semuanya sendiri. Narasi “perempuan kuat” kadang terdengar indah, tapi sebenarnya kejam. Ucapan itu sering dipakai untuk membiarkan kelelahan. Untuk menormalkan beban berlapis. Untuk memaklumi kerja pengasuhan yang tak terlihat. Bank Dunia menekankan bahwa investasi pada ekosistem care penting agar perempuan bisa masuk dan bertahan di dunia kerja. UN Women juga menunjukkan masih lebarnya kekosongan data pada kerja domestik tak berbayar dan kesenjangan pasar kerja. Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar semangat individu. Masalahnya struktural. Ada jam kerja. Ada transportasi. Ada pengasuhan anak. Ada relasi kuasa. Ada algoritma digital. Ada hukum. Ada budaya organisasi. Ada bahasa sehari-hari yang suka bercanda pada luka perempuan seolah itu kewajaran.

Hari Kartini, Dari Upacara ke Impactfull

Kartini hari ini layak dibaca ulang dengan mata-bathin. Ma khoroja min-qolbin, waqonga fi-qolbin. Bukan sebagai ikon yang dibingkai rapi di dinding. Bukan sebagai nama jalan. Bukan sebagai lomba busana tahunan. Agar seragam rapi yang dipakai anak saya tadi pagi lebih bermakna. Kartini adalah kata kerja, strategi kebudayaan, kerja panjang untuk memulihkan martabat. Di situ Imam Al-Ghazali memberi kaidah ilmu dan amal. Imam Al-Razi memberi fondasi kemanusiaan yang setara. Maulana Rumi memberi bahasa bagi luka yang lama dibungkam. Imam Ibn Athaillah memberi cambuk agar kita tak mabuk simbol. Lalu dari semua itu, tersisa satu pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat bera. Setelah 21 April lewat, setelah Upacara Kartini, adakah hidup perempuan sungguh akan menjadi lebih aman, lebih berilmu, lebih merdeka, lebih didengar, lebih ma’rifat-hakekat?

Barangkali Hari Kartini memang tak perlu banyak seremoni. Cukup jujur. Jujur melihat bahwa bangsa ini masih berutang. Jujur mengakui bahwa kemajuan ada, namun belum utuh. Jujur menyebut bahwa ada perempuan yang sudah terbang tinggi, namun banyak yang masih meniti tangga sambil memanggul beban rumah, stigma, ancaman digital, dan sakit yang tak tercatat. Dari kejujuran seperti itu, hormat pada Kartini baru terasa bersih. Bukan hormat yang sibuk memuji masa lalu. Hormat yang bekerja di masa kini. Hormat yang mengubah ruang hidup. Hormat yang tak berhenti pada bunga, lalu berani turun menjadi dunia yang lebih adil. Namun, kaum Perempuan juga harus muhasabah. Harus berani kritik-oto-kritik. Kesalahan bisa dari semua sisi. Bisa laki-laki, bisa Perempuan, bisa nilai, bisa struktur. Jika hanya merasa paling benar, ya hanya menggeser bandul.[]

Muhammad Mustafid
Muhammad Mustafid
Pimred kanal www.aswajanusantara.com dan Dewan Pengasuh Pesantren Pelajar-Mahasiswa (PPM) Aswaja Nusantara Mlangi

Related Articles

Artikel baru