Sanggul dan Singgasana: Dialektika Tubuh dalam Ruang Publik

Tubuh perempuan dalam tradisi Jawa seringkali diposisikan sebagai axis mundi yang statis—pusat dunia yang harus diam demi menjaga keseimbangan kosmos. Kartini, dalam pergulatan batiniyahnya, mulai mempertanyakan: apakah kesucian ruh harus dibayar dengan pemenjaraan raga? Di sinilah emansipasi menjadi sebuah laku tasawuf yang transformatif. Ia tidak melihat raga sebagai sekadar daging, melainkan sebagai baitullah (rumah Tuhan) yang harus memiliki akses terhadap cakrawala.

Dalam diskursus feminisme eksistensialis, Judith Butler pernah mengutarakan bahwa gender adalah sebuah performativitas. Kartini dipaksa “memainkan peran” sebagai putri bangsawan yang santun, namun di dalam kepalanya, ia adalah seorang pemberontak kosmopolit. Satir yang muncul kemudian adalah: Betapa lucunya sebuah peradaban yang mampu membangun candi-candi megah yang menembus langit, namun gemetar ketakutan melihat seorang gadis remaja memegang buku di bawah sinar lampu minyak.

Sosiologi kekuasaan di Jawa saat itu membangun sebuah mitos bahwa kecerdasan perempuan akan mengurangi “wahyu” sang suami. Kartini membedah mitos ini dengan pisau bedah rasionalitas. Ia berdzikir melalui nalar. Baginya, Tuhan tidak menciptakan otak manusia hanya untuk menjadi hiasan sanggul yang berat. Ia mengutip dalam diam pemikiran revolusioner Virginia Woolf:

“A woman must have money and a room of her own if she is to write fiction.”

Bagi Kartini, “ruang sendiri” itu bukan sekadar kamar pingitan, melainkan ruang intelektual yang tidak boleh diintervensi oleh dogma yang membatu.

Membaca sebagai Mi’raj Intelektual

Dalam tradisi Sufisme, “Iqra” (Bacalah) adalah perintah pertama yang meruntuhkan sekat antara makhluk dan Khalik. Kartini menjadikan literasi sebagai bentuk mujahadah atau “perjuangan sungguh-sungguh”. Setiap buku yang ia baca dari Abendanon atau surat yang ia kirim ke Stella Zeehandelaar adalah anak tangga menuju penyatuan spiritual dengan kemanusiaan universal.

Secara sosiologis, surat-surat Kartini adalah bentuk “protes dari dalam”. Ia tidak membakar keraton, ia membakar kebodohan yang bersarang di dalam kurikulum feodalisme. Ia memahami bahwa ketertindasan sosiologis berakar pada kemiskinan ontologis. Jika perempuan tidak tahu siapa dirinya, maka ia akan menerima saja ketika didefinisikan oleh orang lain.

Seorang Feminis Post-Kolonial, Gayatri Spivak, pernah bertanya: “Can the Subaltern Speak?” (Bisakah kaum yang tertindas berbicara?). Kartini menjawabnya dengan tinta yang lebih tajam dari keris pusaka. Ia berbicara tidak hanya untuk dirinya, tapi untuk heningnya suara-suara di dapur yang berasap dan bilik-bilik yang pengap.

Ada sebuah kisah satir sosiologis tentang seorang guru ngaji di desa yang mengajarkan bahwa perempuan harus seperti gula dalam teh: Larut sepenuhnya, memberikan rasa manis, namun tidak boleh kelihatan wujudnya.

Kartini, melalui pemikirannya, menyahut satir itu: “Jika aku menjadi gula yang larut, maka teh itu akan menjadi terlalu manis hingga mematikan akal sehat. Aku lebih baik menjadi air yang mengalir; jernih, menghidupi, dan mampu membelah batu karang kekakuan meski ia tampak tenang.”

Konsep “larut” dalam tasawuf adalah fana, namun fana Kartini adalah fana yang baqa (kekal dalam amal). Ia melepaskan ego pribadinya—keinginannya untuk sekolah ke Belanda—demi sebuah pengabdian yang lebih besar: mendirikan sekolah bagi gadis-gadis di tanah airnya. Ini adalah pengorbanan spiritual tingkat tinggi, sebuah bentuk ithar (mendahului kepentingan orang lain) yang menjadi inti dari ajaran tasawuf.

Air Mata Kartini: Menuju Fajar Kemanusiaan

Secara sosiologis, air mata Kartini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bensin bagi motor perubahan. Dalam setiap tetesnya, terkandung visi sosiologis tentang masyarakat yang egaliter. Ia membayangkan sebuah dunia di mana gelar bangsawan tidak lagi berarti dibandingkan gelar kemanusiaan.

Fatima Mernissi, pemikir feminis Islam asal Maroko, memberikan sebuah perspektif yang selaras dengan kegelisahan Kartini:

“The liberation of women is the liberation of the soul of the people.”

Kartini sadar bahwa jika satu perempuan tercerahkan, ia akan mencerahkan satu generasi. Jika satu perempuan dibiarkan bodoh, ia akan mewariskan kegelapan pada seluruh bangsa. Ini adalah hukum sosiologis yang tak terbantahkan.

Dalam diksi yang paling puitis, Kartini adalah embun yang jatuh di padang gersang tradisi. Ia tidak membasahi permukaan saja, ia meresap hingga ke akar, mengguncang fondasi-fondasi keyakinan lama yang menganggap bahwa surga hanya bisa dicapai melalui kepatuhan tanpa tanya.

Menanam Kartini di Dalam Diri

Dzikir Emansipasi Kartini akhirnya membawa kita pada sebuah kesimpulan filosofis: Bahwa kemerdekaan bukan sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah proses menjadi (becoming). Kartini tidak pernah melihat hasil akhir dari perjuangannya, ia wafat di usia muda setelah melahirkan. Namun, kematiannya adalah sebuah kelahiran kembali yang bersifat metaforis.

Secara spiritual, ia telah mencapai Ma’rifat—pengetahuan tertinggi—bahwa kasih sayang Tuhan tidak membedakan jenis kelamin. Tuhan tidak melihat konde atau blangkon, melainkan qalb (hati) yang bergetar karena cinta pada kebenaran.

Marilah kita merenungkan bahwa emansipasi adalah sebuah ibadah. Membaca adalah doa. Menulis adalah zikir. Dan memperjuangkan keadilan adalah bentuk tertinggi dari ketaatan kepada Yang Maha Adil.

Kartini telah meletakkan pena, kini giliran kita untuk meneruskan narasinya. Bukan dengan sekadar memakai kebaya setahun sekali, melainkan dengan menjaga api intelektualitas tetap menyala di tengah badai pendangkalan makna. Karena di akhir hari, “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar janji sejarah, melainkan kontrak pribadi antara jiwa manusia dengan Tuhannya untuk tidak pernah menyerah pada kegelapan.

“Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan takkan memberimu cobaan yang tak mampu kau lalui. Jika gelap kian pekat, itu tandanya fajar segera tiba. Teruslah berdzikir dengan akalmu, teruslah mencinta dengan jiwamu.”

Inilah esensi dari Dzikir Emansipasi: Sebuah perjalanan dari kesunyian menuju bunyi, dari penjara menuju semesta, dari tanah menuju cahaya.

Emansipasi Sunyi di Beranda Jepara

Di sebuah beranda kayu yang wangi jatinya berkelindan dengan aroma garam Laut Jawa, seorang perempuan duduk mematung. Namanya bukan sekadar deretan huruf, melainkan sebuah frekuensi. Raden Adjeng Kartini. Ia tidak sedang menulis surat; ia sedang melakukan dzikir. Namun, dzikirnya bukan sekadar komat-kamit lisan yang mekanis, melainkan sebuah resonansi eksistensial antara keterbatasan raga dan tak berhingganya pikiran.

Kartini adalah pengejawantahan dari dialektika antara das Sein (kenyataan pahit pingitan) dan das Sollen (keharusan moral untuk merdeka). Ia adalah sebuah anomali sosiologis di masanya. Dalam struktur feodal Jawa yang rigid, di mana perempuan dianggap sebagai suwargo nunut, neroko katut (ke surga ikut, ke neraka terbawa), Kartini muncul sebagai subjek yang menolak menjadi objek.

Dalam kacamata Tasawuf, emansipasi Kartini adalah sebuah perjalanan mi’raj intelektual. Jika kaum sufi mendambakan fana atau peleburan diri dalam Tuhan, Kartini mendambakan fana dalam ilmu pengetahuan demi membangkitkan bangsanya. Ia memahami bahwa ketertindasan perempuan bukan sekadar masalah sosial, melainkan hijab yang menutupi cahaya Tuhan dalam jiwa manusia. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa mengenal Tuhannya dengan utuh jika akalnya dipasung oleh tembok-tembok pingitan?

Arkeologi Penindasan: Sebuah Anekdot Satir

Mari kita sejenak menengok sebuah anekdot yang getir. Konon, di sebuah perjamuan kolonial, seorang pejabat Belanda bertanya pada seorang Bupati tentang mengapa perempuan Jawa harus dipingit. Sang Bupati, dengan senyum simpul yang penuh wibawa semu, menjawab: “Sebab perempuan adalah permata. Dan permata harus disimpan di dalam kotak yang terkunci rapat agar tidak pudar cahayanya.”

Rubiyem, seorang abdi dalem yang sedang menuangkan teh, bergumam dalam hati: “Permata? Jika aku permata, mengapa aku digunakan untuk menggosok lantai? Dan jika kotak ini untuk melindungiku, mengapa kuncinya dipegang oleh orang yang bahkan tidak tahu cara menghargai kilauku?”

Satir ini menggambarkan realitas antropologis yang tragis. Perempuan dijadikan komoditas estetis sekaligus budak domestik. Simone de Beauvoir dalam The Second Sex memberikan kutipan yang menghujam jantung realitas ini:

“One is not born, but rather becomes, a woman.” Kartini menyadari hal ini. Ia tahu bahwa “keperempuanan” Jawa di zamannya adalah konstruksi budaya yang diciptakan untuk menjinakkan potensi spiritual manusia. Emansipasi, bagi Kartini, adalah upaya untuk “menjadi manusia kembali” sebelum menjadi perempuan.

Ontologi Pingitan: Penjara sebagai Laboratorium Ruhani

Secara sosiologis, pingitan adalah bentuk isolasi sosial yang bertujuan memutus akses terhadap realitas. Namun, dalam tangan Kartini, ruang sempit itu berubah menjadi laboratorium pemikiran. Ia membaca Louis Couperus, Augusta de Witt, dan berbagai pemikir Eropa lainnya. Di sini terjadi sinkretisme pemikiran yang dahsyat: etika Kristen Eropa bersentuhan dengan mistisisme Islam Jawa.

Dalam perspektif spiritual, Kartini melakukan apa yang disebut sebagai Khalwat—penyunyian diri. Namun, berbeda dengan para pertapa yang mencari kesaktian, Kartini mencari pencerahan bagi kaumnya. Dzikir emansipasinya adalah: “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini bukan sekadar judul buku, melainkan sebuah mantra kosmologis. Minadz-zhulumati ilan-Nuur.

Ia mengutip pemikiran feminis radikal, Mary Wollstonecraft:

“I do not wish them [women] to have power over men; but over themselves.”

Kartini tidak ingin menggulingkan laki-laki; ia ingin perempuan berdaulat atas jiwanya sendiri. Inilah esensi dari kedaulatan spiritual. Seseorang yang tidak menguasai dirinya sendiri adalah budak, meskipun ia tinggal di istana.

Tasawuf Pembebasan: Menemukan Tuhan dalam Literasi

Kartini sering menyebut “Tuhan” dalam surat-suratnya bukan sebagai hakim yang kejam, melainkan sebagai “Cinta” dan “Cahaya”. Secara antropologis, ini adalah pergeseran dari Islam legalistik-formal ke Islam esoteris yang membebaskan. Ia melihat pendidikan bukan sebagai alat untuk mencari kerja, melainkan sebagai jembatan untuk memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta.

Nawal El Saadawi, feminis asal Mesir, pernah menulis:

“They said, ‘You are a savage and dangerous woman.’ I am speaking the truth. And the truth is savage and dangerous.”

Kartini adalah “perempuan berbahaya” bagi tatanan feodal. Bahayanya bukan pada senjata, tapi pada penanya. Setiap goresan tinta Kartini adalah dzikir yang meruntuhkan tembok ketidaktahuan. Ia memahami bahwa kebodohan adalah dosa sosial terbesar. Dalam sosiologi agama, Kartini melakukan dekonstruksi terhadap tafsir-tafsir maskulin yang melegitimasi penindasan perempuan.

Gema Dzikir Emansipasi di Abad Digital

Kini, seratus tahun lebih setelah wafatnya, apakah dzikir Kartini masih terdengar? Di era sosiologi digital ini, perempuan memang sudah keluar dari pingitan fisik, namun seringkali terjebak dalam pingitan algoritma dan standar kecantikan industri.

Kita membutuhkan kembali semangat Kartini yang melihat emansipasi sebagai perjalanan spiritual. Emansipasi bukan berarti menjadi “sama” dengan laki-laki dalam segala hal material, melainkan memiliki hak yang sama untuk melakukan perjalanan kembali kepada Tuhan melalui ilmu dan amal.

Bell Hooks, pemikir feminis kulit hitam, menyatakan:

“Feminism is for everybody.”

Begitu pula dengan semangat Kartini. Dzikir emansipasinya adalah panggilan bagi seluruh kemanusiaan untuk melepaskan belenggu ego, tradisi yang membatu, dan ketidaktahuan.

Sebagai penutup, bayangkan Kartini hari ini berdiri di pesisir Jepara. Ia tidak lagi melihat surat-surat kertas, melainkan hamparan data. Namun pesannya tetap sama, dibisikkan oleh angin laut yang abadi:

“Wahai jiwa-jiwa yang rindu akan cahaya, janganlah kau biarkan lentera akalmu padam oleh tiupan badai prasangka. Merdekalah di dalam Tuhan, dan temukanlah surga itu bukan di telapak kaki yang pasif, melainkan di dalam langkah-langkah perjuangan yang penuh ilmu.”

Itulah dzikir emansipasi. Sebuah dzikir yang tidak pernah selesai, selama masih ada kegelapan yang menanti datangnya fajar.

Veyya Elma Ladunnie
Veyya Elma Ladunnie
Mahasiswi Geografi Pembangunan UGM

Related Articles

Artikel baru