‎Membaca Api dalam Keheningan: Konjungsi Peradaban Persia-Nusantara

‎Di antara riuh peradaban yang memuja bentuk dan melupakan subtansi, manusia modern kian terperangkap dalam ritual tanpa jiwa dan kesadaran tanpa arah. Di satu sisi, ia rajin menunaikan ibadah, namun sering kehilangan denyut kemanusiaan; di sisi lain, ia mengagungkan rasio, tetapi tercerabut dari kedalaman batin. Kegersangan ini menuntut suatu jembatan–sebuah sintesis yang mampu mempertemukan kesadaran spiritual dengan tanggung jawab sosial, keheningan batin dengan keberanian historis. Dalam lanskap inilah, pemikiran Ali Shariati menemukan resonansinya ketika dibaca melalui laku Nusantara yang diwakili Kejawen: dua horizon yang tampak berjauhan, namun sesungguhnya saling menyapa dalam kedalaman yang sama. Membaca Ali Shariati dalam cermin Kejawen ibarat menyandingkan dua mata air yang berbeda arah, namun bermuara pada samudra yang sama: kesadaran.
‎
‎Membaca Ali Shariati dalam cermin Kejawen ibarat menyandingkan dua mata air yang berbeda arah, namun bermuara pada samudra yang sama: kesadaran. Yang satu lahir dari pergulatan sejarah, penindasan, dan jeritan sosial umat manusia; yang lain tumbuh dari keheningan batin, dari laku sunyi yang menembus lapisan diri. Namun keduanya sepakat pada satu hal yang paling mendasar–bahwa manusia tanpa kesadaran adalah bayang-bayang yang kehilangan ruhnya.
‎
‎Dalam pandangan Shariati, ibadah yang tidak melahirkan keberpihakan sosial hanyalah gerak tubuh yang kosong–“senam yang melelahkan,” tanpa jiwa yang bercahaya. Ia mengkritik manusia yang tenggelam dalam ritual, tetapi tuli terhadap penderitaan. Baginya, sujud harus melahirkan keberanian, zikir harus melahirkan gerakan, dan iman harus menjelma menjadi perlawanan terhadap ketidakadilan.
‎
‎Sementara dalam Kejawen, manusia diajak kembali kepada “rasa sejati”–sebuah kesadaran halus yang tidak sekadar mengetahui, tetapi menghayati. Dalam laku “eling lan waspada,” manusia diajarkan untuk hadir sepenuhnya dalam dirinya, menyadari gerak batin, dan menembus ilusi dunia yang semu. Namun, kesadaran ini tidak berhenti pada kontemplasi; ia menuntut keselarasan antara batin dan laku, antara rasa dan tindakan.
‎
‎Di sinilah Shariati dan Kejawen bertemu–pada titik di mana kesadaran tidak boleh berhenti sebagai pengalaman batin, tetapi harus menjelma menjadi tindakan yang hidup. Dalam bahasa Kejawen, orang yang telah “sampurna rasa” tidak akan hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia menjadi “urip kang urup”–hidup yang memberi cahaya bagi yang lain. Dalam bahasa Shariati, manusia seperti itu adalah manusia yang telah bangkit dari kesadaran individual menuju kesadaran sosial.
‎
‎Keduanya juga mengkritik bentuk keberagamaan yang terlepas dari makna. Dalam Kejawen, orang yang hanya menjalankan laku atau ibadah tanpa rasa disebut sebagai “wong kang kelangan pancer”–manusia yang kehilangan pusat dirinya. Dalam Shariati, manusia seperti itu adalah korban dari agama yang dibekukan oleh kekuasaan–agama yang tidak lagi membebaskan, tetapi justru meninabobokan.
‎
‎Jika Mulla Sadra berbicara tentang gradasi wujud–bahwa manusia bergerak dari yang kasar menuju yang halus, dari tubuh menuju kesadaran–maka Shariati seakan melanjutkan perjalanan itu ke ranah sosial: bahwa kesadaran tertinggi bukan hanya mengetahui Tuhan, tetapi menjadi manifestasi nilai-nilai-Nya di bumi. Dan Kejawen menyempurnakannya dengan laku: bahwa kesadaran harus dirawat dalam diam, tetapi dibuktikan dalam tindakan.
‎
‎Maka membaca Shariati dalam perspektif Kejawen adalah membaca api dalam keheningan. Ia mengajarkan bahwa diam bukan berarti pasif, dan gerak bukan berarti kehilangan pusat. Kesadaran sejati adalah perpaduan keduanya: hening yang melahirkan keberanian, dan keberanian yang berakar pada keheningan.
‎
‎Pada akhirnya, manusia yang sejati bukanlah yang banyak berbicara tentang kebenaran, tetapi yang menjadi jalan bagi kebenaran itu sendiri. Ia tidak hanya sembahyang, tetapi menghadirkan makna sembahyang dalam hidupnya. Ia tidak hanya mencari Tuhan di langit, tetapi menemukannya dalam tanggung jawab terhadap sesama.
‎
‎Dan di titik itu, ibadah tidak lagi menjadi “senam yang melelahkan,” melainkan napas kehidupan–yang mengalir, menghidupkan, dan membebaskan.

Related Articles

Artikel baru