Catatan Perjalanan Ibnu Batutta tentang Kerajaan Islam di Asia Tenggara

Buku berjudul “Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa-Aja’ib al-Asfar” yang di kemudian hari lebih dikenal luas dengan sebutan “Rihlah Ibn Batutta” atau “Perjalanan Ibnu Batutta” merekam salah satu kisah perjalanan tak ternilai harganya di Asia Tenggara, lebih tepatnya di Kerajaan Samudra Pasai dan Semenanjung Melayu. Kerajaan-Kerajaan ini merupakan kesultanan Islam yang pada pertengahan abad ke-14 M telah berdenyut sebagai salah satu pusat perdagangan dan keilmuan Islam di seluruh gugus kepulauan Nusantara.

Ibnu Batutta (1304-1368/1369 M) adalah seorang ahli fiqh dan penjelajah muslim yang berasal dari Tangier, Maroko yang telah melakukan perjalanan menembus batas cakrawala dan melebihi batas imajinasi orang-orang pada masa itu. Selama kurang lebih tiga dekade, beliau telah melakukan perjalanan sepanjang 120.000 km, melewati padang pasir Arabia, melintasi stepa-stepa Asia Tengah, menyelami hiruk-pikuk istana-istana di Delhi dan Konstantinopel, hingga akhirnya mengarahkan haluan kapalnya menuju Timur jauh dan berlayar ke negeri-negeri muslim yang kala itu di dunia Arab disebut dengan bilad al-Jawi, atau tanah orang Jawa (pada masa itu, orang Arab menyebut dunia Melayu-Nusantara secara luas sebagai bilad al-Jawi (negara orang Jawa).

Sebelum singgah ke Samudra Pasai, Ibnu Batutta menerima perintah dari penguasa Kesultanan Delhi bernama Sultan Muhammad bin Tughluq untuk memimpin misi diplomatik ke istana Kaisar Tiongkok di bawah Dinasti Yuan. Ia berangkat dengan armada Kakam dari pelabuhan Calcutta menuju ke Maladewa kemudian melanjutkan pelayaran dan singgah di Samudra Pasai.

Ia menggambarkan kota Samudra sebagai permukiman yang terletak sekitar empat mil ke hulu dari garis pantai, dikelilingi tembok dan menara yang seluruhnya terbuat dari kayu, dengan sebuah kawasan pelabuhan di muara sungai yang ia sebut Sarha dan dikelola oleh seorang pejabat yang dalam bahasa Melayu dikenal sebagai laksamana. Di sinilah kapal-kapal dari India, Arab, Persia, dan Tiongkok membuang sauh; di sinilah lada, kapur barus, cengkih, dan timah dan berbagai hasil bumi Sumatra yang begitu diburu pasar dunia  berpindah tangan dengan cara yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Dalam persinggahannya di Samudra Pasai pada sekitar 1345—1346 M, ia disambut langsung oleh Sultan Malik azh-Zahir, seorang penguasa yang ia saksikan sendiri duduk bersimpuh di masjid, berdiskusi dalam majelis-majelis fiqih, dan memerintah negeri dengan semangat ketakwaan yang membuat Ibn Battuta memujinya dengan penuh kekaguman.

Dalam Rihlahnya, ia menulis “Usai shalat ashar, Sultan Malik azh-Zahir menghilang ke dalam satu bilik khusus, dan lima belas menit kemudian beliau keluar sudah bukan dengan pakaian putih lagi, tetapi dengan pakaian kebesaran raja. Dengan menunggang kuda dan diiringi para pengawalnya, sultan pulang ke istana. Di kiri dan kanan jalan rakyat berjejer mengelu-elukan sultan yang adil itu. Aku berpikir, rupanya waktu berangkat dari istana menuju masjid, sultan hanyalah hamba Allah biasa seperti rakyat lainnya, tetapi waktu pulang ke istana barulah beliau tampil sebagai sultan dari kerajaan Samudra Pasai”.

Meskipun Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam, daerah tersebut juga banyak dihuni oleh masyarakat Hindu-Buddha seperti di India pesisir dan kerajaan Asia Tenggara lainnya. Ibu Batutta mencatat bahwa kerajaan ini masih memiliki corak Hindu-Buddha, namun lingkungan istana sangat taat dalam menjalankan ajaran Islam. Dalam catatannya, ia juga menyebut daerah al-Jawi merupakan pos pelosok dari Darul Islam (negara-negara Islam), sebab tidak ada lagi negeri di sebelah timurnya yang berada di bawah kekuasaan muslim.

Setelah 15 hari berada di Samudra Pasai, Ibnu Batutta melanjutkan perjalanan ke Tiongkok dan tiba di daerah bernama Mul-Jawa dan singgah di pelabuhan Qaqula. Kedua nama tempat ini masih menjadi perdebatan para sejarawan. Sebagian mengidentifikasinya sebagai bagian al-Jawi (bagian utara pantai Sumatra), sebagian lain menunjuk Semenanjung Melayu. Sejarawan Dunn menyebut kemungkinan Ibnu Batutta  sempat singgah di beberapa pelabuhan seperti di pesisir timur Semenanjung Melayu, Champa, dan Tonkin.

Perjalanannya didukung oleh Sultan Malik Azh-Zhahir yang membekalinya dengan perbekalan yang memadai dan mengutus salah seorang pejabat negara untuk menemani dan melayaninya hingga sampai di Tiongkok.

Setelah menyelesaikan tugasnya di Tiongkok, Ibnu Batutah memutuskan untuk kembali ke Maroko. Ia bertolak dari Quanzhou, kota yang ia sebut sebagai “kota zaitun.” Para ahli sejarah abad pertengahan memperkirakan bahwa dalam perjalanan pulangnya itu, ia kembali singgah di Samudra Pasai yang kala itu merupakan salah satu pusat perdagangan internasional yang ramai.

Sebelumnya, Ibnu Batutah sudah memiliki kapal sendiri yang digunakannya hingga ke Samudra Pasai, sehingga diduga perjalanan pertamanya ke Tiongkok menggunakan jung milik sultan. Dalam rangka melanjutkan perjalanan pulang dan menunaikan ibadah haji di Makkah, ia kemudian mengganti kapalnya di Sumatra. 

Ganggas Wibowo
Ganggas Wibowo
peneliti, alumni antropologi UGM dan PPM Aswaja Nusantara

Related Articles

Artikel baru