Nasihat Imam Khomeini dalam mendisiplinkan informasi dalam suasana Perang

Dalam sejarah modern, hanya sedikit figur yang mampu berdiri di persimpangan antara spiritualitas dan kekuasaan politik dengan keteguhan seperti Imam Sayyid Ruhollah Khomeini. Dia bukan sekadar arsitek revolusi, melainkan juga penjaga kesadaran kolektif sebuah bangsa yang diuji oleh perang. Dalam salah satu pesannya yang tajam namun sarat hikmah, ia menyinggung satu aspek yang kerap diabaikan dalam konflik bersenjata: disiplin informasi.

Dalam situasi perang antara Republik Islam Iran dan Saddam Iraq yang ditopang oleh seluruh kekuatan dunia, Imam Khomeini menyampaikan pesan yang sangat penting dalam mendisiplinkan informasi tentang perang.

Imam Khomeini berpesan:

“Saya menasihati mereka agar dalam persoalan perang yang saat ini kita hadapi, tidak datang lalu menyampaikan pendapat pribadi dengan mengatakan: ‘Menurut saya begini.’ Apa pun pendapat Anda, jangan diumumkan.
Harus dipahami bahwa masyarakat umum tidak mengetahui kondisi perang yang sebenarnya. Yang mengetahui situasi perang adalah pihak militer, itu pun hanya tingkat pimpinan tertinggi, bukan semuanya.
Jika suatu hari terjadi kemajuan, dan di hari lain terjadi kemunduran, hal itu tidak seharusnya dibicarakan di majelis, di pasar, atau di berbagai tempat dengan mempertanyakan: ‘Mengapa ini terjadi?’
Jangan menyampaikan sesuatu yang dapat menimbulkan kegelisahan bagi para pimpinan militer, bagi presiden, atau bagi pemerintah. Seringkali seseorang berbicara tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan. Ia mengira sedang berbuat kebaikan, padahal kenyataannya bukanlah kebaikan.
Hal-hal seperti ini harus diperhatikan. Siapa pun yang pergi ke medan perang lalu kembali, jangan kemudian berteriak-teriak menceritakan seperti apa medan perang itu.
Anda dan saya tidak mampu menentukan apa yang seharusnya terjadi di medan perang. Yang berhak menentukannya adalah mereka yang ahli—mereka yang memahami bagaimana mengelola medan perang dan bagaimana menjalankan kaidah-kaidah peperangan.
Jika–na’udzubillah–akibat ucapan atau tindakan kita muncul kelemahan atau demoralisasi di medan perang, maka kita semua bertanggung jawab atas hal itu.”

Di tengah hiruk-pikuk perang, manusia cenderung merasa perlu berbicara, menafsirkan, bahkan menghakimi jalannya peristiwa. Seolah-olah dengan menyampaikan opini, ia turut ambil bagian dalam perjuangan. Namun, bagi Imam Khomeini, sikap ini justru dapat menjadi celah kelemahan. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak di permukaan dapat dipahami oleh akal awam. Medan perang bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang kompleks yang dipenuhi pertimbangan strategis, psikologis, dan bahkan metafisik yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang memiliki otoritas dan keahlian.

Di sinilah letak pentingnya disiplin informasi. Bagi Imam Khomeini, menjaga lisan dalam situasi perang bukanlah bentuk pasifitas, melainkan tindakan etis yang berakar pada kesadaran spiritual. Dalam perspektifnya, kata-kata memiliki daya cipta sekaligus daya hancur. Satu kalimat yang diucapkan tanpa pengetahuan dapat menjelma menjadi benih keraguan, merambat ke dalam hati para prajurit, dan pada akhirnya melemahkan barisan yang sedang berjuang. Dalam konteks ini, berbicara tanpa ilmu bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi juga bentuk ketidakadilan terhadap mereka yang berada di garis depan.

Lebih jauh, Imam Khomeini memandang bahwa perang bukan hanya pertarungan senjata, tetapi juga pertarungan paradigmatik. Informasi menjadi medan kedua yang tidak kalah menentukan. Ketika masyarakat sipil mengulang-ulang kabar kemunduran tanpa memahami konteksnya, atau mempertanyakan strategi militer di ruang publik, sesungguhnya mereka sedang membuka pintu bagi kekacauan psikologis. Dalam dunia modern yang ditopang oleh arus informasi tanpa batas, peringatan ini terasa semakin relevan. Perang tidak lagi hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ruang percakapan, di pasar, di media sosial, bahkan di ruang-ruang akademik.

Namun, menariknya, ajakan Imam Khomeini untuk menahan diri tidak lahir dari logika otoritarianisme yang membungkam kritik. Ia justru berangkat dari kesadaran akan keterbatasan manusia. Tidak semua orang memiliki akses pada keseluruhan realitas. Dalam tradisi spiritual yang ia warisi, khususnya dalam filsafat hikmah, kebenaran sering kali berlapis dan tidak sepenuhnya tersingkap pada pandangan lahiriah. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam berbicara menjadi bentuk kerendahan hati epistemologis, sebuah pengakuan bahwa tidak semua yang kita pikir benar layak untuk diumumkan.

Dalam lanskap Indonesia yang kian terbuka dan demokratis, pesan ini menghadirkan refleksi yang mendalam. Kebebasan berpendapat adalah anugerah, tetapi tanpa kedewasaan, ia dapat berubah menjadi bumerang. Disiplin informasi bukan berarti membungkam suara publik, melainkan mengarahkan suara itu agar tidak merusak tujuan bersama. Dalam situasi genting, seperti konflik bersenjata atau krisis nasional, setiap kata yang terucap memiliki konsekuensi yang melampaui niat individu.

Akhirnya, apa yang ditawarkan Imam Sayyid Khomeini adalah sebuah etika komunikasi dalam kondisi ekstrem: berbicaralah ketika ucapanmu memperkuat, diamlah ketika ucapanmu berpotensi melemahkan.
Ini bukan sekadar strategi politik, melainkan laku spiritual. Sebab dalam diam yang penuh kesadaran, manusia tidak hanya menjaga negara, tetapi juga menjaga dirinya sendiri dari kesalahan yang tak disadari.

Related Articles

Artikel baru