‎Amerika Mesti Tunduk Setia kepada Iran

Sampai sekarang, jujur saja, saya masih garuk-garuk kepala–bukan karena ketombe, tapi karena heran. Bagaimana ceritanya teknologi perang Iran bisa bikin teknologi perang Amerika yang katanya “paling canggih sedunia” itu jadi kayak nyamuk disemprot Baygon? Hilang arah, hilang wibawa, bahkan kadang kayak baku hantam sendiri. Ini bukan lagi soal kalah-menang, ini soal malu yang tidak bisa ditutup pakai propaganda.
‎
‎Dari dulu kita dicekoki narasi: Amerika itu pusat teknologi, pusat inovasi, pusat segalanya. Tapi begitu ketemu Iran, eh… kok jadi kayak motor mogok di tengah jalan? Ambyar. Mesin perang yang dipuja-puja itu tiba-tiba seperti kena “hipnotis massal”–tapi bukan yang keren, ini hipnotis versi peyoratif: bingung sendiri, salah sasaran, bahkan seolah kehilangan akal sehatnya.
‎
‎Hari ini paling tidak kita bisa mendaftar beberapa (tidak semuanya) mesin perang amerika yang dirontokkan oleh Iran:
‎
‎F-15E Strike Eagle
‎ ± $31 juta (lama) – ~$100 juta (versi baru)
‎
‎A-10 Thunderbolt II
‎ ± $9,8 juta
‎
‎UH-60 Black Hawk
‎ ± $20 – 25 juta (kisaran umum helikopter militer kelas ini)
‎
‎RQ-4 Global Hawk
‎ ± $130 juta
‎
‎RQ-170 Sentinel
‎ ± $6 juta
‎
‎MQ-9 Reaper
‎ ± $30 – 56 juta
‎
‎Yang lebih menarik lagi, ini bukan sekadar kekalahan teknis. Ini kekalahan mental, kekalahan paradigma. Amerika datang dengan percaya diri level dewa–eh pulang-pulang bawa cerita yang bikin pemujanya ikut pusing tujuh keliling. Mau dijelaskan pakai teori geopolitik tinggi pun tetap tidak nyambung. Bahkan kalau disuruh analis kelas berat pun, mungkin akan mutar-mutar saja jawabannya.
‎
‎Masalahnya sederhana sebenarnya: Amerika ini salah lawan. Istilah anak Makassar bilang–salah picca. Kau kira semua negara itu sama? Kau kira semua bisa ditaklukkan dengan teknologi mahal dan anggaran miliaran dolar? Ini Iran, bos. Negara yang bukan cuma punya teknologi, tapi juga punya ideologi Imamah, sejarah, dan mentalitas peradaban yang tidak bisa dibeli pakai dolar.
‎
‎Amerika mungkin terbiasa jualan senjata ke negara-negara yang “iya-iya saja”. Negara yang beli bukan karena butuh strategi, tapi karena butuh gengsi. Tapi begitu produk itu dites di medan yang serius–di hadapan negara yang tidak hanya berpikir teknis tapi juga filosofis–langsung kelihatan kualitas aslinya. Kayak barang KW yang dipakai di lomba profesional: kelihatan semua cacatnya.
‎
‎Sebenarnya dari awal niatnya sudah kelihatan: ini bukan cuma perang, ini marketing. Amerika itu mau jualan. Mau tunjukkan bahwa teknologi mereka masih nomor satu, supaya negara-negara teluk tetap belanja. Tapi sayangnya, promosi kali ini salah tempat. Bukannya laku, malah jadi bahan tertawaan.
‎
‎Coba bayangkan, kalau teknologi itu hanya dicoba di negara lemah, orang juga tidak akan percaya. Tapi begitu dicoba di Iran–yang punya fondasi peradaban kuat dan konsep ideologis seperti wilayatul faqih–hasilnya justru jadi bumerang. Bukannya menaikkan nilai jual, malah merontokkan reputasi sendiri.
‎
‎Jadi kalau boleh kasih saran–ini saran tulus tapi sedikit pedas–Amerika sebaiknya evaluasi diri. Daripada maksa jualan teknologi yang “nanggung”, mungkin sudah waktunya ganti strategi. Atau sekalian saja, seperti kata orang kampung: tahu diri mi sedikit.
‎
‎Kalau tidak bisa menang teknologi, tidak bisa menang strategi, mungkin opsi terakhir yang tersisa cuma satu: belajar. Dan kalau belajar saja tidak cukup, ya… tidak ada salahnya juga untuk sujud setia–setidaknya secara simbolik–kepada realitas yang tawadhu tapi unggul, Republik Islam Iran.

‎Karena sekarang ini, yang jatuh bukan cuma pesawat tempur, drone atau misil… tapi juga kesombongan yang terlalu lama dipelihara.

Related Articles

Artikel baru