“Waktu adalah lubang hitam yang menghisap rindu, namun menyisakan cahaya dalam bentuk air mata.”
Lebaran telah melipat sajadahnya, meninggalkan aroma takbir, ketupat, dan opor ayam; sisa kembang api yang berkelindan dengan bau tanah basah di pinggiran kota. Aku, Sang Penunggu Waktu, terduduk di lincak bambu yang permukaannya telah mengilat oleh gesekan ribuan percakapan masa lalu. Di sini, di sebuah desa yang sejarahnya terkubur di bawah rimbun pohon munggur dan melati air, waktu tidaklah linier. Waktu, meminjam diksi para filosof, adalah sebuah palimpsest—naskah yang ditulis ulang berkali-kali di atas perkamen yang sama, di mana tulisan lama selalu membayang di balik huruf-huruf baru.
Mudikku adalah sebuah dekonstruksi terhadap modernitas yang angkuh. Aku melepaskan jam tangan digital—sebuah mesin yang memenjara detik—dan membiarkan denyut nadiku beresonansi dengan detak jantung bumi Mataram yang purba di pinggiran kota Jogja.
Lebaran telah usai, namun gema takbir masih tersangkut di dahan-dahan pohon munggur yang meranggas di pinggiran kota Jogja. Aku, Sang Penunggu Waktu, kembali duduk di lincak bambu yang berderit setiap kali aku menghela napas. Mudik bagiku bukan sekadar perpindahan geografis dari bising metropolitan menuju sunyi Jogja; ia adalah transmutasi jiwa.
Saat sepeda motor tua yang kupacu melewati batas desa di sepanjang tepian Kali Opak di lereng Bukit Permoni, aspal jalanan tiba-tiba mencair, berubah menjadi urat nadi purba yang memompa ingatan langsung ke jantungku. Terbayang wajah Sultan Agung yang memacu kudanya di Tlatah Kerto. Sepertinya aku tidak sedang pulang ke rumah; aku sedang pulang ke dalam rahim waktu yang belum sempat terjamah oleh polusi digital.
Saat aku memejamkan mata, dalam sekejap lincak atau kursi bambu ini berubah menjadi rahim waktu. Aku terlempar ke sebuah siang di tahun 70-an, di mana matahari terasa lebih jujur dan bayang-bayang pohon jati tampak seperti raksasa yang ramah.
Aku melihat diriku yang kecil, bertelanjang dada, menyatu dengan lumpur sawah yang hangat. Kami tidak butuh konsol gim; kami memiliki dolanan anak yang merupakan simulasi dari hukum alam. Kami bermain gasing dari kayu nangka, di mana putarannya adalah alegori dari rotasi planet. Kami bermain gobag sodor untuk melatih kekuatan kerja sama dan strategi. Kami bertarung layangan di langit biru yang tak ternoda jejak pesawat tempur, sebuah pelajaran awal tentang fisika angin dan metafisika kemenangan. Di sana, tali gelasan yang melukai jemari adalah inisiasi bahwa setiap keindahan menuntut pengorbanan darah.
Alam adalah orkestra yang tak henti-hentinya menggubah simfoni. Kami berenang di sungai yang airnya sebening kristal cair, melompat dari tebing batu andesit tanpa rasa takut. Dalam ilmu antropologi ekologis, interaksi kami dengan sungai adalah bentuk penyatuan subjek dan objek. Kami tidak memandang air sebagai komoditas, melainkan sebagai saudara tua yang memberikan kehidupan. Di malam hari, suara jangkrik dan katak sawah adalah dzikir semesta yang menidurkan ego kami sebelum ia sempat tumbuh menjadi kesombongan.
Rumah joglo dan limasan ini, dengan soko guru dari kayu jati yang kokoh, adalah sebuah katedral kenangan. Ketika aku melangkah masuk, aroma kayu jati yang dipoles minyak kelapa membangkitkan arwah-arwah yang menetap di pori-pori kayu.
Aku menyaksikan perjamuan Lebaran yang legendaris: piring-piring seng bermotif bunga, gelas-gelas blirik berisi teh tubruk gula batu yang manisnya terasa hingga ke tulang belakang, dan toples-toples berisi rengginang yang aromanya adalah aroma kerja keras petani. Di sini, kualitas batin tidak diukur dari merek pakaian, melainkan dari kedalaman rasa hormat saat menyalami tangan orang tua yang kasar karena cangkul.
Ada keabadian romantisme dalam cara Ibu membungkus ketupat; jemarinya menari menciptakan struktur geometris yang rumit, sebuah literasi budaya yang diwariskan tanpa teks, hanya melalui cinta yang taktis. Secara sosiologi tradisional, setiap anyaman janur adalah pengikat kekeluargaan yang lebih kuat daripada algoritma media sosial mana pun.
Di dalam rumah joglo yang beraroma kayu jati dan minyak tanah ini, waktu tidak berjalan melingkar; ia membeku. Aku melangkah ke ruang tamu, dan tiba-tiba, dinding-dinding kayu itu berbisik. Ayah, Ibu, dan kakek-nenek yang telah lama menetap di tanah pekuburan, mendadak hadir di kursi-kursi rotan yang kosong.
Mereka tidak berbicara, namun mata mereka adalah kamus tua literasi budaya yang paling tajam. Kami merayakan Lebaran dalam keheningan yang megah. Aku melihat diriku sendiri saat berusia tujuh tahun, sedang mengejar capung di halaman, sementara diriku yang sekarang hanya bisa menatapnya dengan rasa iri yang puitis. Ini adalah surealisme kenangan: di mana masa lalu bukan lagi hantu, melainkan satu-satunya realitas yang memiliki massa.
Tiba-tiba, suara notifikasi smartphone membelah kesunyian puitis itu. Aku terlempar kembali ke “masa kini” yang gersang. Desa ini, yang dulu merupakan suaka bagi jiwa, kini dipenuhi oleh menara-menara BTS yang tampak seperti tombak-tombak penjajah baru. Orang-orang mudik dengan raga, namun pikiran mereka tertinggal di cloud.
Keluarga yang tadinya saling menatap dalam doa, kini merunduk seragam, menyembah dewa-dewa algoritma di layar sentuh mereka. Ucapan Minal Aidin yang tulus berganti menjadi template pesan WhatsApp yang dikirim secara massal tanpa jiwa. Aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri—seorang antropolog yang sedang meneliti kepunahan emosi manusia. Lebaran telah mengalami amputasi makna; ia kini hanyalah sebuah panggung untuk memamerkan “kebahagiaan” yang telah dipoles oleh filter Instagram. Semua palsu adanya.
Aku melihat kepalsuan yang sistemik: anak-anak muda yang sibuk mencari sudut aesthetic untuk berswafoto, sementara kakek mereka duduk sendirian menatap halaman yang kini semennya lebih luas daripada tanahnya. Tidak ada lagi percakapan tentang makna hidup; yang ada hanyalah pameran konsumsi. Lebaran telah berubah menjadi festival pameran komoditas yang dibalut jubah religiusitas yang tipis.
Pohon-pohon munggur digantikan oleh tiang-tiang pemancar yang memancarkan rindu dalam bentuk sinyal frekuensi rendah. Manusia tidak lagi mudik dengan tubuh fisik; mereka mengirimkan digital twin mereka melalui kabel serat optik. Tidak ada lagi aroma opor ayam; yang ada hanyalah nutrisi sintetik yang disuntikkan langsung ke pembuluh darah sambil mengenakan kacamata virtual reality yang mensimulasikan suasana Lebaran tahun 1980-an. Inilah kiamat ekologi jiwa: ketika manusia berhasil menaklukkan waktu, namun kehilangan kemampuan untuk merasa.
Karena suntuk dengan segala kepalsuan, aku memacu imajinasiku hingga batas terjauh. Aku melompat ke masa depan antah-berantah—sebuah Jogja di tahun 2075.
Desa ini telah hilang, digantikan oleh kubus-kubus beton minimalis yang dikontrol oleh kecerdasan buatan. Alam telah diringkas menjadi taman botani digital di dalam gedung. Manusia tidak lagi “bermain” di tanah; mereka melakukan brain-upload ke dalam simulasi yang disebut Lebaran-Verse.
Di sana, rindu diproses sebagai bit data. Tidak ada lagi bau keringat, tidak ada lagi tekstur lumpur, tidak ada lagi rasa sakit dari gesekan tali layangan. Semua sempurna, semua instan, dan karena itu, semua mati. Manusia telah menjadi pascahumanis yang kehilangan “rasa hidup”.
Aku membuka mata lebar-lebar tanpa sedikit pun berkedip. Lebaran benar-benar telah usai. Di kejauhan, Gunung Merapi di utara Jogja tampak biru keperakan di bawah sinar bulan yang murung. Aku adalah Sang Penunggu Waktu, yang kini sujud di atas debu sejarah di teras rumah tua ini.
Aku memilih untuk merawat luka romantisme ini. Biarlah aku dianggap gila karena lebih menghargai aroma buku harian kertas daripada keabadian digital, menulis puisi dengan tulisan tangan, dan sesekali memanfaatkan mesin ketik tua yang mulai kering pitanya. Sebab, dalam setiap noda tinta dan setiap sobekan kertas, ada bukti otentik bahwa aku pernah benar-benar ada, pernah benar-benar mencintai hidup berikut puisi-puisinya, dan pernah benar-benar menjadi manusia.
Aku terbangun dengan keringat dingin yang membasahi dahi. Lebaran benar-benar telah usai. Di luar, suara mesin kendaraan para pemudik yang kembali ke kota mulai menderu, merobek kesunyian desa. Aku membelai sampul buku harian kertasku yang sudah lapuk dimakan usia.
Aku adalah Sang Penunggu Waktu, pengelana di antara tiga dunia yang saling bertubrukan. Aku memilih untuk tetap di sini, di sisa-sisa aroma dupa dan sisa-sisa ketulusan, sembari menunggu waktu benar-benar berhenti berdetak.
Selesai

