Mazhab Boleh Berbeda, Kemanusiaan Tidak Boleh Hilang

Kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beberapa waktu lalu menghadirkan pemandangan yang cukup menarik di lini masa media sosial saya. Banyak orang menyampaikan belasungkawa sebagaimana lazimnya ketika seorang tokoh dunia meninggal. Akan tetapi, di saat yang sama, tidak sedikit pula yang malah sibuk mengeluarkan penghakiman teologis.

Di kolom komentar, biasanya frasa seperti “Syiah bukan Islam” tiba-tiba muncul berkali-kali. Seolah-olah kematian seseorang menjadi kesempatan untuk mempertontonkan siapa yang paling benar secara akidah—dan layak masuk surga—menurut mereka.

Fenomena seperti ini sesungguhnya bukan lah hal baru. Dalam sejarah panjang umat Islam, ketegangan memang pernah timbul karena perbedaan mazhab. Namun para ulama senantiasa mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh menghilangkan adab dan kemanusiaan.

Di tengah hiruk-pikuk komentar itu, saya teringat satu peristiwa kecil di media sosial. Seorang kenalan lama—tepatnya adik kelas di filsafat UGM—tampak begitu bersemangat “berpatroli” dari satu status ke status lain di FB. Ia memastikan bahwa setiap ungkapan duka terhadap wafatnya pemimpin Iran tersebut adalah keliru dan harus segera dibantah. Hadis-hadis tertentu dikutip dengan nada sangat tegas—sepertinya hanya copy paste dari grup medsos yang dia ikuti mungkin, saya kurang yakin apakah dia punya pemahaman yang mendalam tentang hadis yang dikutipnya, entahlah—seolah-olah selamat atau tidaknya iman seseorang bisa ditentukan lewat kolom komentar.

Saya sempat tergelitik untuk membalas. Rasanya tidak terlalu sulit untuk mengingatkan kembali beberapa catatan sejarah, termasuk bagaimana konflik politik dalam perjalanan umat Islam dahulu juga melibatkan tokoh-tokoh yang namanya muncul dalam rantai periwayatan hadis. Ia sendiri mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh seorang tokoh dari kalangan Bani Umayyah—ayah dari penguasa yang ditentang oleh Sayyidina Husain bin Ali, yang gugur dalam tragedi Karbala. Namun setelah dipikirkan kembali, saya akhirnya mengurungkan niat tersebut.

Perdebatan yang dilandasi fanatisme biasanya tidak menghasilkan pemahaman baru dan tidak ada gunanya sama sekali. Ia hanya memperpanjang lingkaran emosi. Mungkin mereka para pembenci itu suka, tapi saya terus terang tidak suka.

Yang justru lebih menarik bagi saya adalah pertanyaan lain: mengapa dalam banyak kasus, perbedaan mazhab sering kali membuat kita lupa akan nilai kemanusiaan?

Saya teringat sebuah postingan bijak dari teman saya yang lain. Beliau seorang perempuan, alumni Filsafat UGM juga, orang Bandung asli. Dia mengutip sebuah postingan di Threads yang bunyinya sangat menohok dan saya sangat setuju: “Berdiri bersama Iran, berduka atas kematian Ali Khamenei tidak menjadikanmu seorang Syiah. Namun, duduk manis bersama Israel menjadikanmu kacung Zionis.”

Kalimat itu sangat telak. Saat ini, kemanusiaan memang harus kita dahulukan dalam bersikap, terutama terhadap Iran yang terus-menerus menjadi korban agresi Amerika Serikat dan Israel. Seperti Venezuela dan Kuba, Iran juga sangat dirugikan atas sikap agresif negara-negara adikuasa yang haus kekuasaan dan penaklukan (imperialis).

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, para ulama sejak lama telah mengajarkan keseimbangan antara keteguhan akidah dan keluasan akhlak. Perbedaan pemikiran memang diakui dan diperbolehkan, akan tetapi tidak dijadikan alasan untuk tidak menghormati sesama. Para ulama klasik bahkan memiliki satu prinsip penting yang dikenal sebagai adab ikhtilaf, atau etika dalam menghadapi perbedaan pendapat. Perbedaan dilihat sebagai bagian dari dinamika intelektual, bukan sebagai alasan untuk meniadakan orang lain.

Sayangnya, dalam percakapan digital pada masa sekarang, etika tersebut sering kali hilang. Perbedaan mazhab yang dahulu menjadi bagian dari kekayaan khazanah keilmuan Islam kini sering kali berubah menjadi alat untuk saling menegasikan. Padahal jika kita lihat lebih jauh, banyak persoalan kemanusiaan yang jauh lebih mendesak—seperti konflik di berbagai wilayah dunia Islam, tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat sipil, hingga ketidakadilan global yang terus berlangsung akibat monopoli ekonomi oleh negara-negara kapitalis adikuasa seperti Amerika Serikat—yang menuntut kepedulian kita bersama.

Dalam situasi seperti ini, energi umat Islam seharusnya tidak dihabiskan hanya untuk memperdebatkan identitas kelompok.

Bagi saya pribadi, pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari justru sering memberikan pelajaran penting tentang kemanusiaan. Sebagai seorang ayah yang akhir-akhir ini lumayan sering bolak-balik ke rumah sakit untuk menemani anak menjalani terapi, saya melihat sesuatu yang sangat sederhana tetapi bermakna. Di rumah sakit, tidak ada dokter atau perawat yang terlebih dahulu menanyakan mazhab seseorang sebelum memberikan pertolongan medis. Mereka bekerja berdasarkan kode etik kemanusiaan.

Logika kemanusiaan semacam itu seharusnya juga bisa kita bawa dalam cara kita memandang dunia yang lebih luas. Perbedaan keyakinan tentu tidak bisa dihapuskan. Sejarah umat manusia memang selalu penuh dengan berbagai pandangan yang beragam. Namun perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadikan kita kehilangan empati terhadap penderitaan sesama. Di tengah dunia yang semakin mudah diprovokasi oleh sentimen identitas, menjaga keseimbangan antara iman dan kemanusiaan menjadi tantangan tersendiri.

Dalam konteks Indonesia, pesan ini sebenarnya telah lama diingatkan oleh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau pernah mengatakan bahwa yang tidak boleh dalam kehidupan bersama bukanlah perbedaan, melainkan perpecahan. Perbedaan adalah kenyataan sosial yang tidak bisa dihindari. Tetapi ketika perbedaan itu berubah menjadi alasan untuk memutus tali silaturrahim, di situlah masalah sebenarnya bermula.

Pesan Gus Dur itu terasa semakin relevan hari ini. Kita mungkin berbeda dalam banyak hal—mazhab, pandangan politik, bahkan cara membaca sejarah. Namun kemampuan menjaga persaudaraan (ukhuwah) di tengah perbedaan itulah yang justru menunjukkan kedewasaan kita sebagai umat. Dalam khazanah Islam sendiri, semangat ini dikenal dengan istilah ukhuwah insaniyah—persaudaraan kemanusiaan. Artinya, hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun oleh kesamaan iman, tetapi juga oleh nilai kemanusiaan yang lebih luas.

Ungkapan yang sering dikutip dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib menggambarkan hal tersebut dengan sangat indah: “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Kalimat ini menunjukkan betapa luasnya pandangan kemanusiaan dalam khazanah Islam. Ia mengingatkan bahwa agama pada akhirnya hadir untuk memuliakan manusia, bukan untuk menumbuhkan kebencian. Karena itu, ketika kita menyaksikan berbagai polemik mazhab di ruang publik hari ini, mungkin yang paling penting bukanlah segera menentukan siapa yang paling benar. Yang lebih mendesak adalah memastikan bahwa rasa kemanusiaan kita tidak ikut hilang di tengah perdebatan itu.

Mazhab boleh berbeda. Pandangan boleh tidak sama. Namun kemanusiaan tidak boleh hilang. Sebab pada akhirnya, nilai kemanusiaan itulah yang membuat agama tetap bermakna dalam kehidupan manusia.

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru