Situasi Timur Tengah kembali memanas. Memasuki Maret 2026, tensi antara Iran dan poros Israel–Amerika Serikat telah bergeser dari sekadar shadow war (perang bayangan) menuju konfrontasi terbuka yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan secara masif. Agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran telah berlangsung selama berhari-hari dengan intensitas yang mengerikan.
Di layar kaca, dunia dipaksa menyaksikan pemandangan yang memilukan: infrastruktur yang hancur, rakyat sipil tak berdosa menjadi korban, hingga gugurnya sejumlah tokoh penting Iran akibat serangan udara.
Media-media besar Barat dengan cepat membangun narasi bahwa Iran telah “lumpuh total”. Namun bagi mereka yang terbiasa membaca sejarah dari balik propaganda, klaim kelumpuhan tersebut terasa dangkal—kalau bukan naif. Di tengah gempuran itu, ratusan tentara agresor juga dilaporkan kehilangan nyawa dalam pertempuran yang tidak seimbang ini.
Dalam posisi seperti ini, sikap Iran sebenarnya cukup jelas: mereka memandang dirinya sedang menjalankan kewajiban defensif untuk mempertahankan kedaulatan negara dari tekanan kekuatan besar yang berupaya mendominasi kawasan. Secara teknologi dan jumlah pasukan, Iran mungkin terlihat tidak sebanding dengan mesin perang raksasa di hadapannya. Namun ketimpangan itu tidak berarti Iran tidak mampu memberikan “luka dalam” yang membuat lawannya kelelahan dan pada akhirnya memilih mundur.
Pergeseran dari Perang Proksi ke Serangan Langsung
Sejak rentetan serangan lintas batas pada akhir Februari lalu, dinamika konflik menunjukkan perubahan strategi yang cukup signifikan. Jika sebelumnya konfrontasi lebih banyak berlangsung melalui aktor proksi—seperti Hizbullah di Lebanon atau kelompok-kelompok milisi di Suriah—kini Iran dan Israel mulai terlibat dalam pertukaran serangan langsung.
Serangan udara intensif terhadap sasaran strategis di wilayah Iran dibalas dengan peluncuran rudal balistik oleh Teheran. Dalam salah satu serangan terakhir, empat rudal balistik Iran dilaporkan menghantam kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln.
Doktrin “menjaga jarak aman” yang selama ini menjadi ciri konflik Timur Tengah kini mulai runtuh. Yang muncul justru eskalasi terbuka yang menempatkan kawasan pada ambang perang besar—bahkan tidak sedikit pengamat yang mulai membicarakan kemungkinan konflik global yang lebih luas.
Sistem yang Tak Goyah oleh Maut
Ketangguhan sistem politik Iran tampak ketika struktur kenegaraan tetap berjalan meskipun Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, gugur sebagai martir dalam serangan tersebut. Negara itu tidak tampak gamang menghadapi kekosongan kepemimpinan.
Mekanisme suksesi segera bergerak. Mojtaba Khamenei muncul sebagai figur yang melanjutkan tonggak kepemimpinan spiritual dan politik. Di bidang militer, langkah strategis diambil dengan mengangkat Ahmad Vahidi sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Vahidi bukan nama baru dalam peta konflik Timur Tengah. Ia dikenal sebagai komandan pertama Pasukan Quds yang merancang jaringan perlawanan di berbagai negara kawasan. Sebagai mantan Menteri Pertahanan dengan latar belakang akademik doktoral di bidang manajemen strategis, ia juga dianggap sebagai salah satu arsitek utama kemandirian industri militer Iran.
Bagi Vahidi, menghadapi raksasa tidak harus dilakukan melalui benturan frontal yang menguras tenaga. Justru strategi yang lebih efektif adalah memberikan “seribu sayatan kecil” yang perlahan menguras stamina lawan. Dalam kerangka inilah perang asimetris menjadi pilihan strategis Iran.
Seni Perang Asimetris
Inilah salah satu kunci mengapa Iran mampu bertahan menghadapi gabungan kekuatan Amerika Serikat dan Israel: strategi perang asimetris.
Dalam logika ini, peralatan militer Amerika yang bernilai miliaran bahkan triliunan rupiah tidak dilawan dengan sistem yang sama mahalnya. Iran justru memanfaatkan pasukan yang tersebar, teknologi sederhana, serta alutsista murah yang diproduksi secara massal.
Alih-alih menandingi jet tempur siluman dengan pesawat serupa, Iran memilih memproduksi ribuan drone bunuh diri yang relatif murah. Konsekuensinya jelas: pihak lawan dipaksa menggunakan rudal pertahanan bernilai sangat mahal hanya untuk menjatuhkan drone dengan biaya produksi jauh lebih rendah.
Secara ekonomi militer, ini adalah bentuk perang atrisi yang menguras keuangan dan psikologi lawan secara perlahan.
Strategi semacam ini memiliki kemiripan dengan taktik gerilya yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Menyadari bahwa serangan frontal terhadap tentara kolonial Belanda hanya akan berakhir sia-sia, Diponegoro memilih perang gerilya—menyerang ketika musuh lengah dan menghilang sebelum balasan datang.
Tragedi Minab: Perang Narasi di Balik Puing Sekolah
Di tengah eskalasi militer, dunia juga dikejutkan oleh tragedi di Minab, Iran Selatan. Sebuah sekolah putri hancur akibat serangan bom yang menewaskan lebih dari 175 siswi.
Tragedi ini bukan hanya menghadirkan duka mendalam, tetapi juga memicu perang narasi yang sengit. Donald Trump sempat melontarkan tuduhan bahwa Iran sendiri yang bertanggung jawab atas insiden tersebut dengan alasan kesalahan pengendalian amunisi.
Namun laporan terbaru dari Reuters yang mengutip sumber investigasi internal militer Amerika Serikat justru menunjukkan kemungkinan sebaliknya. Penyelidikan awal mengarah pada dugaan bahwa serangan tersebut berasal dari operasi militer Amerika sendiri.
Jika temuan ini benar, maka dunia sedang menyaksikan bentuk perang informasi yang sangat kejam: ketika tragedi kemanusiaan dimanipulasi untuk membangun legitimasi politik. Nyawa anak-anak yang tak berdosa menjadi bagian dari propaganda konflik.
Keterlibatan AS dan Retaknya Solidaritas NATO
Amerika Serikat kini menunjukkan keterlibatan militer yang semakin terbuka. Penguatan pangkalan udara di kawasan serta pengerahan sistem pertahanan rudal menjadi sinyal bahwa Washington tidak akan membiarkan Israel menghadapi Iran sendirian.
Donald Trump bahkan mengklaim bahwa ia mendorong Israel untuk melakukan serangan tersebut. Namun sejumlah laporan menyebutkan bahwa tekanan justru datang dari Israel yang meminta dukungan militer penuh dari Amerika.
Menariknya, narasi perang yang dibangun Washington tidak lagi mendapatkan dukungan solid dari sekutu-sekutu Baratnya. Beberapa negara NATO dilaporkan menolak bergabung dalam operasi militer tersebut.
Sikap ini mencerminkan keretakan solidaritas transatlantik. Banyak negara Eropa tampaknya enggan terseret dalam konflik yang berpotensi menghancurkan stabilitas ekonomi mereka sendiri.
Dampak Ekonomi bagi Indonesia
Konflik ini juga berdampak langsung pada perekonomian global, terutama melalui sektor energi. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat jalur distribusi minyak dunia terganggu secara signifikan.
Indonesia termasuk negara yang merasakan dampaknya. Selama ini sebagian pasokan minyak dari Rusia dan Iran melewati jalur tersebut. Ketika jalur itu terganggu, Indonesia terpaksa mencari sumber alternatif—termasuk membeli minyak dari Amerika Serikat dengan harga yang lebih mahal.
Selisih harga sekitar 10 dolar per barel tentu berdampak pada beban APBN. Kenaikan biaya impor energi berpotensi memicu inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok di dalam negeri.
Kondisi ini memunculkan kritik terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia yang dinilai terlalu mengikuti kepentingan Washington, terutama dalam kerangka kesepakatan perdagangan seperti Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Diplomasi dan Perspektif Maqashid Syariah
Dalam perspektif Islam, tujuan utama syariat (Maqashid Syariah) adalah menjaga kemaslahatan manusia melalui perlindungan lima hal pokok (al-daruriyyat al-khamsah). Salah satunya adalah hifz al-nafs—perlindungan terhadap jiwa manusia.
Serangan terhadap sekolah putri di Minab jelas merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip tersebut. Pembunuhan warga sipil, terutama anak-anak, tidak pernah dapat dibenarkan dalam kerangka moral apa pun.
Karena itu, diplomasi seharusnya menjadi jalan utama untuk meredakan konflik. Dialog antarperadaban bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk melindungi masa depan generasi manusia.
Spirit Daud di Era Modern
Dalam narasi simbolik, Iran saat ini memosisikan dirinya seperti Nabi Daud yang menghadapi Jalut—raksasa bersenjata lengkap yang tampak tak terkalahkan.
Sejarah dalam kitab-kitab suci agama Ibrahim mengingatkan bahwa kemenangan tidak selalu berpihak pada pihak yang paling kuat secara materi. Daud yang tampak kecil justru mampu menjatuhkan Jalut dengan kecerdikan dan ketepatan strategi.
Sebagian masyarakat Yahudi yang menyaksikan konflik ini mungkin akan teringat kembali pada kisah tersebut. Sejarah mereka sendiri mengajarkan bahwa kecerdikan sering kali lebih menentukan daripada kekuatan fisik semata.
Refleksi untuk Kita
Perang di Timur Tengah bukan sekadar persoalan geopolitik, tetapi juga ujian bagi nilai-nilai kemanusiaan. Tragedi 175 siswi di Minab menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata hampir selalu meninggalkan luka paling dalam bagi warga sipil.
Sebagai masyarakat yang jauh dari medan perang, kita tetap memiliki tanggung jawab moral: mendoakan keselamatan para korban sekaligus bersikap kritis terhadap arus informasi yang sering kali sarat propaganda.
Strategi Iran—melawan dengan kecerdikan tanpa kehilangan harga diri—juga menghadirkan pelajaran penting bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Dalam menghadapi kekuatan besar dunia, yang dibutuhkan bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga keteguhan prinsip, kecerdikan diplomasi, serta kemampuan membaca arah sejarah.
Seperti kisah Daud dan Jalut, kekuatan besar tidak selalu menang. Terkadang, kemenangan justru berpihak pada mereka yang mampu berpikir lebih jernih dan bertindak lebih cerdik.
Daftar Pustaka
Al-Hasanah Islamic Boarding School. (n.d.). Mengenal Maqashid Syariah: Pengertian dan Bentuk-Bentuknya. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://ponpes.alhasanah.sch.id/pengetahuan/mengenal-maqashid-syariah-pengertian-dan-bentuk-bentuknya/
Amnesty International. (2026). Protecting Schools and Children in Times of Armed Conflict: International Humanitarian Law Standards. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://www.amnesty.org/en/what-we-do/armed-conflict/
Center for Strategic and International Studies (CSIS). (n.d.). What Is Asymmetric Warfare? Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://www.csis.org/analysis/what-asymmetric-warfare
International Committee of the Red Cross (ICRC). (2026). The Protection of Civilians and Educational Facilities under the Geneva Conventions. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://www.icrc.org/en/document/protection-civilians-educational-facilities
Jangkau Indonesia. (2026). Investigasi militer AS ungkap dugaan amunisi Amerika hantam sekolah di Iran, 165 siswi tewas. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://www.jangkauindonesia.com/global/55516826052/investigasi-militer-as-ungkap-dugaan-amunisi-amerika-hantam-sekolah-di-iran-165-siswi-tewas
NU Online Jateng. (n.d.). Maqashidus Syari’ah: Pengertian dan Unsur-unsur di Dalamnya. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://jateng.nu.or.id/opini/maqashidus-syari-ah-pengertian-dan-unsur-unsur-di-dalamnya-tIvIj
Republika. (2026). Investigator akui kemungkinan AS di balik serangan sekolah putri Iran, tewaskan 150 siswi. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://news.republika.co.id/berita/tbgkwm377/investigator-akui-kemungkinan-as-di-balik-serangan-sekolah-putri-iran-tewaskan-150-siswi
Reuters. (2026). US investigation points to likely US responsibility in Iran school strike, sources say. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://www.reuters.com/world/middle-east/us-investigation-points-likely-us-responsibility-iran-school-strike-sources-say-2026-03-06/
Reuters. (2026). Who is Mojtaba Khamenei, frontrunner to be Iran’s next Supreme Leader? Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://www.reuters.com/world/middle-east/who-is-mojtaba-khamenei-frontrunner-be-irans-supreme-leader-2026-03-04/
Al Jazeera. (2026). Who is Ahmad Vahidi, Iran’s senior IRGC commander? Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://www.aljazeera.com/news/2026/03/06/who-is-ahmad-vahidi-iran-irgc-commander
Tirto.id. (2026). 4 Negara tolak gabung dengan AS untuk serang Iran. Diakses pada 8 Maret 2026, dari
https://tirto.id/4-negara-tolak-gabung-dengan-as-untuk-serang-iran-hr8c

