Allah Sesuai Prasangka Manusia

Ada satu janji Allah yang sering kita lewatkan, padahal sangat dekat dengan keseharian kita. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat ini pendek, tapi bobotnya luar biasa. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berprasangka baik kepada-Nya, Allah menjadikan prasangka kita sebagai pintu yang menentukan bagaimana Dia hadir dalam hidup kita. Kalau kita menyangka Allah Maha Pengampun, maka Allah akan hadir sebagai Pengampun. Kalau kita menyangka Allah Maha Pemberi jalan keluar, maka jalan keluar itu akan datang. Sebaliknya, kalau kita menyangka Allah tidak peduli, jauh, atau bahkan membiarkan kita menderita tanpa alasan, maka kita sendiri yang menutup pintu itu dengan tangan kita sendiri.

Prasangka kita kepada Allah bukan sekadar urusan perasaan. Prasangka itu adalah cara kita memandang hidup, cara kita merespons kesulitan, dan cara kita berdiri di tengah dunia yang tidak selalu ramah. Dan dunia hari ini, jujur saja, sedang tidak mudah sama sekali.

Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang kini membayangi Timur Tengah membuat jutaan orang dilanda ketakutan. Ketegangan militer yang bisa meledak kapan saja membuat pasar global berguncang, harga minyak melonjak, dan ketidakpastian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sementara kita yang jauh dari medan perang pun tidak bebas dari tekanannya. Harga bahan pokok naik, pekerjaan semakin sulit dicari, tagihan menumpuk, dan rasa cemas yang susah dijelaskan kepada siapa pun terus menyelinap masuk ke dalam rumah tangga kita.

Semua ini bukan kebetulan, dan bukan pula tanda bahwa Allah sedang tidur atau lupa kepada hamba-Nya. Allah berfirman dalam Al-Quran,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Tidak ada satu pun kejadian di muka bumi ini, sekecil apa pun, yang terjadi di luar izin-Nya. Perang yang berkecamuk, bencana yang datang, bahkan kesedihan yang kita rasakan seorang diri di kamar pada malam hari, semuanya dalam pengetahuan dan izin Allah. Bukan karena Allah kejam, tapi karena Allah punya rencana yang jauh lebih besar dari yang bisa kita lihat sekarang. Dan di sinilah prasangka baik kepada Allah menjadi sangat menentukan.

Bayangkan dua orang menghadapi masalah yang sama persis, katakanlah sama-sama kena PHK di bulan Ramadan ini. Yang pertama melihatnya sebagai akhir dari segalanya, merasa tidak berguna, dan putus asa. Yang kedua melihat PHK yang sama sebagai tanda bahwa pintu itu memang harus ditutup agar pintu lain bisa terbuka, lalu ia gunakan waktu luangnya untuk belajar keterampilan baru dan akhirnya membuka usaha kecil yang justru lebih menjanjikan. Bedanya bukan nasib. Bedanya adalah prasangka kepada Allah.

Orang yang berprasangka baik kepada Allah tidak berarti dia tidak sedih atau tidak merasakan beratnya ujian. Nabi Ibrahim bersedih ketika harus meninggalkan istri dan anaknya di lembah yang tandus. Nabi Yusuf menangis ketika dilempar ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri. Nabi Muhammad pun berduka ketika Khadijah, istri tercintanya, meninggal dunia. Tapi mereka semua tidak berhenti pada kesedihan itu. Mereka terus bergerak karena yakin Allah tidak menyia-nyiakan mereka.

Dari sini kita belajar bahwa prasangka baik bukan berarti menutup mata dari kenyataan yang menyakitkan. Prasangka baik adalah memilih untuk percaya bahwa di balik setiap yang terasa berat, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, atau sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Seorang ibu yang anaknya sakit keras berbulan-bulan mungkin tidak langsung melihat hikmahnya. Tapi dari proses panjang itu, ia menjadi lebih peka, lebih sabar, lebih dekat kepada Allah dibanding bertahun-tahun sebelumnya. Seorang pemuda yang gagal masuk universitas impiannya, lalu kuliah di tempat lain, justru bertemu mentor yang mengubah seluruh arah hidupnya, sesuatu yang tidak akan pernah terjadi kalau keinginan pertamanya terkabul.

Di tengah semua itu, puasa hadir bukan sekadar kewajiban ritual. Ada sesuatu yang sangat dalam dari ibadah ini, sesuatu yang Allah sendiri yang menegaskannya dalam hadis qudsi,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan betapa spesialnya kalimat ini. Shalat, sedekah, haji, semuanya tercatat dan sudah ada ukuran ganjarannya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, bahkan tujuh ratus kali lipat. Tapi puasa, Allah tidak menyebut angkanya sama sekali. Mengapa? Karena yang akan memberikan balasan langsung adalah Allah sendiri, tanpa perantara, tanpa batas. Dan Allah tidak pernah memberi dengan tanggung.

Inilah yang seharusnya mengubah cara kita menjalani puasa hari ini. Ketika perut lapar di siang hari, ketika mulut terasa kering saat rapat atau bekerja, ketika mata mengantuk namun tetap menahan diri, semua itu bukan sekadar menahan makan dan minum. Itu adalah percakapan sunyi antara hamba dan Tuhannya. Tidak ada yang melihat kita menahan lapar itu kecuali Allah, dan justru karena tidak ada yang melihat itulah nilainya menjadi luar biasa.

Di tengah dunia yang penuh kabar buruk, ketegangan perang yang belum selesai, harga yang terus naik, dan perasaan tidak aman yang sering menyelinap, puasa mengajarkan satu hal yang sangat mendasar, bahwa kita tidak sendirian. Ada Allah yang melihat setiap detik perjuangan kita. Ada Allah yang mencatat setiap tetes keringat dan setiap hembus nafas kesabaran kita. Dan Allah itu baik, selalu baik.

Maka mulailah hari ini dengan satu keputusan kecil, memilih untuk berprasangka baik kepada Allah. Bukan karena hidup sedang mudah, tapi justru karena hidup sedang berat. Karena di sinilah prasangka baik paling dibutuhkan, dan di sinilah pula Allah paling dekat dengan hamba-Nya yang bersabar. Puasa kita hari ini adalah milik Allah. Dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan apa yang menjadi milik-Nya.

Farid Mustofa
Farid Mustofa
Dosen Fakultas Filsafat UGM

Related Articles

Artikel baru