KAGAMA UGM Kembali Berkolaborasi dengan Pesantren untuk Pengembangan Profesionalisme Guru

Kelas-kelas di banyak madrasah atau sekolah Indonesia sering tampak sibuk. Ada tugas bejibun. Ada lembar kerja. Ada ulangan. Ada proyek. Tetapi di balik itu, pemahaman murid kerap dangkal. Materi menumpuk, target dikejar, jam pelajaran dipatok, lalu hafalan dijadikan jalan pintas. Nalar tumbuh tidak merata. Kesadaran belajar mudah padam. Kemampuan menerapkan konsep di kehidupan nyata sering tertinggal.

Di situ pemerintah membaca kenyataan pahit itu. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah membuat salah satu gebrakan dengan menerbitkan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pembelajaran Mendalam (PM). Kementerian menegaskan, PM bukan kurikulum baru. PM adalah pendekatan atau strategi bagaimana cara memuliakan proses belajar. Fokusnya bukan sekadar “apa yang diajarkan”, tetapi “bagaimana belajar dijalankan”.

Bahasa kebijakannya terdengar sederhana, tapi ambisinya besar. Menciptakan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Orientasinya holistic, mengembangkan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Artinya, murid tidak hanya dijejali informasi, melainkan diajak mengerti, menguji, berdialog, mempraktikkan, lalu merefleksikan.

Konsep yang sering dipopulerkan sebagai “deep learning” ini, pada dasarnya, adalah kritik terhadap cara belajar yang terlalu prosedural. Sekolah terlalu mudah menilai kepandaian sebagai kemampuan mengulang. Murid bisa menyebut definisi, tapi gagap ketika diminta menjelaskan alasan. Murid hafal rumus, tapi bingung ketika rumus harus dipakai untuk memecahkan masalah yang bentuknya berbeda. Murid sibuk mengerjakan, tapi jarang ditanya: apa yang ia pahami, apa yang ia rasakan, dan apa yang berubah dalam cara berpikirnya.

Di atas kertas, PM mendorong guru merancang pembelajaran yang lebih esensial. Ada ruang eksplorasi. Ada dialog. Ada latihan bernalar. Ada aplikasi dalam konteks nyata. Lalu ditutup dengan refleksi. Kementerian juga menyiapkan arah implementasi bertahap, termasuk pelatihan berjenjang, dengan target penerapan pada tahun pelajaran 2025/2026 dan seterusnya.

Namun kebijakan, seperti biasa, tidak otomatis menjadi praktik. Kebijakan harus diterjemahkan. Harus “dibumikan” menjadi rancangan pelajaran, cara mengajar, cara bertanya, cara menilai, cara membangun budaya kelas. Di titik itulah pelatihan dan diskusi publik menjadi penting, agar istilah “deep learning” tidak berhenti sebagai slogan, tapi menjadi kerja pedagogi yang bisa dipraktikkan.

Kolaborasi KAGAMA-Pesantren

Pada bulan Ramadhan 2026, sebuah forum daring mencoba menjadi ruang penerjemahan itu. Kagama UGM Departemen Kerjasama Pesantren menggelar sesi Online Batch-2 bertajuk “Strategi Deep Learning: Bagaimana Merancang Pembelajaran Bermakna, Bernalar, dan Kontekstual”. Acara ini dijadwalkan pada Jum’at, 6 Maret 2026, pukul 13.30–15.00 WIB (dengan waktu masuk/penyiapan sekitar 13.20 WIB). Formatnya live via Zoom Meeting dan gratis.

Narasumbernya Sari Oktafiani, MA, seorang praktisi pendidikan sekaligus alumni UGM. Sesi ini akan mendiskusin bagaimana guru menyusun pengalaman belajar yang membuat murid memahami konsep secara mendalam, mampu bernalar, dan bisa mengaitkan pelajaran dengan konteks nyata. Tema ini sengaja dipilih karena kebijakan PM menuntut perubahan di ruang kelas, bukan hanya perubahan dokumen.

Yang menarik, forum ini dibangun sebagai kerja bersama lintas lembaga. Kagama menggandeng jejaring pesantren dan lembaga pendidikan yang selama ini hidup di ekosistem pembelajaran khas, yaitu tradisi, disiplin, dan komunitas. Kolaborator kegiatan ini meliputi:

  1. Pesantren Sholeh Al-Mubarok Tungkal Ulu Tanjabar
  2. Pesantren Nurul Iman Sebabo Muaro Jambi
  3. Pesantren Nurul Iman Sumber Makmur Kampar Riau
  4. Yayasan Nur Iman Mlangi
  5. Pesantren Pelajar-Mahasiswa (PPM) Aswaja Nusantara Mlangi

Kolaborasi semacam ini menunjukkan dua hal. Pertama, isu pembelajaran mendalam tidak hanya urusan sekolah formal, tetapi juga relevan bagi lembaga pendidikan berbasis komunitas, termasuk pesantren. Kedua, deep learning, dengan penekanan pada nalar, makna, dan refleksi, mempunyai irisan dengan tradisi belajar yang menuntut ketekunan dan pembacaan mendalam, selama ia diterjemahkan ke strategi pedagogi yang kontekstual.

Dalam forum ini, pembelajaran mendalam diletakkan sebagai cara membongkar rutinitas yang terlalu mekanis. Guru didorong menajamkan tujuan pembelajaran. Mengurangi tumpukan materi yang tidak esensial. Memperbanyak pertanyaan yang memancing penalaran. Membiasakan murid mengaitkan konsep dengan problem nyata di sekitar mereka. Lalu memberi ruang refleksi, apa yang dipahami, bagian mana yang belum, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Di sini “joyful” bukan berarti kelas-jadi tanpa tuntutan. Justru sebaliknya, tuntutan berpindah dari menghafal ke memahami. Dari sekadar selesai ke bermakna. Dari mengejar angka ke membangun cara berpikir. Kelas bisa tetap serius, tetapi murid merasa terlibat. Merasa aman untuk bertanya. Merasa boleh salah, lalu belajar dari salah.

Agenda Ramadhan Mulia 1447 H

Sesi Zoom “Strategi Deep Learning: Bagaimana Merancang Pembelajaran Bermakna, Bernalar, dan Kontekstual,” bagian dari program Ramadhan Mulia 2026 dan rangkaian Kagama UGM Departemen Kerjasama Pesantren Online Batch-2. Narasumber diharapna memberi Gambaran bagaimana mendorong perubahan cara belajar, dari hafalan dan target prosedural menuju belajar yang mindful, meaningful, dan joyful—dengan pengembangan holistik (olah pikir, hati, rasa, raga). Dan karena realitas kelas menunjukkan banyak aktivitas, tetapi pemahaman sering dangkal.

Diharapkan zoom meeting juga mendorong guru merancang pembelajaran esensial, membuka ruang eksplorasi dan dialog, melatih nalar, mengaitkan pelajaran dengan konteks nyata, lalu menutup dengan refleksi. Forum ini menjadi ruang penerjemahan kebijakan ke praktik yang bisa dijalankan.

Ada satu pertanyaan yang lebih penting. Apakah sekolah sanggup mengubah kebiasaan? Kebijakan PM, setidaknya, menantang cara lama yang terlalu berorientasi pada kejar tayang. PM menggeser fokus dari “mendapat jawaban benar” menjadi “menumbuhkan cara berpikir”. Dari “memburu nilai” menjadi “membangun makna”. Dari “kelas yang rapi” menjadi “kelas yang hidup”.

Ramadhan memberi konteks tambahan. Bulan latihan kesadaran. Bulan disiplin. Bulan refleksi. Kata “mindful” dalam dokumen kebijakan, dalam suasana ini, menemukan resonansinya. Belajar tidak sekadar menuntaskan, tetapi menyadari. Tidak sekadar mengulang, tetapi memahami. Tidak sekadar selesai, tetapi bertumbuh.

Bagi guru, sesi seperti ini dapat menjadi pintu masuk untuk menata ulang rancangan ajar. Bagi lembaga pendidikan, ia bisa menjadi ruang menyamakan Bahasa, apa itu pembelajaran mendalam, apa yang harus diubah, apa yang harus dijaga. Dan bagi murid, dampak paling nyata, jika benar dijalankan, adalah pengalaman belajar yang lebih manusiawi, mengaktifkan akal, menghidupkan rasa ingin tahu, dan mengajari cara berpikir yang tidak mudah rapuh.

Kalau Anda ingin ikut serta, cukup siapkan waktu pada Jumat siang itu. Informasi teknis Zoom menyusul melalui panitia, dan koordinasi dapat dilakukan lewat narahubung Ayya (082233361162). Di tengah gempuran istilah baru, deep learning pada akhirnya akan diuji oleh satu hal, apakah perubahan yang benar-benar terasa di kelas?.

Related Articles

Artikel baru