Memasuki bulan suci Ramadan, masjid-masjid kita riuh dengan semangat ibadah. Selepas salat Isya, jamaah biasanya langsung bersiap mengambil posisi untuk salat Tarawih. Semangat ini tentu luar biasa, namun ada satu rahasia fiqih yang sering kali terlewatkan oleh banyak orang: Salat Sunnah Ba’diyyah Isya memiliki nilai keutamaan yang lebih tinggi daripada Salat Tarawih.
Mengapa demikian? Bukankah Tarawih menjadi “ikon” ibadah di malam Ramadan? Mari kita pahami bersama berdasarkan literatur kitab kuning yang mu’tabar.
Prioritas dalam Beribadah: Kualitas di Atas Popularitas
Dalam madzhab Syafi’i, para ulama telah menyusun hierarki atau urutan keutamaan salat sunnah. Menariknya, salat sunnah Rawatib (pengiring salat fardu) menempati posisi yang lebih “VIP” dibandingkan Tarawih.
Imam Nawawi dan Imam Al-Rafi’i (dua tokoh sentral atau Al-Syaikhani dalam madzhab Syafi’i) sepakat bahwa pendapat yang paling kuat (ashoh) memposisikan Rawatib lebih utama. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mughni al-Muhtaj:
لَكِنْ الأصَحُّ تَفْضِيلُ الرّاتِبَةِ لِلْفَرائِضِ عَلى التَّراوِيحِ لِمُواظَبَتِهِ ﷺ عَلى الرّاتِبَةِ لا التَّراوِيحِ كَما قالَهُ الرّافِعِيُّ
“Namun, pendapat yang paling shahih adalah mendahulukan keutamaan salat Rawatib (pengiring fardu) atas salat Tarawih. Hal ini dikarenakan Nabi ﷺ selalu menjaga (istiqamah) dalam menjalankan Rawatib, berbeda dengan Tarawih (yang tidak dilakukan sesering Rawatib).“
Mengapa Ba’diyyah Isya Lebih Diutamakan?
Alasannya sederhana namun mendalam dan logis, yakni konsistensi Nabi ﷺ. Rasulullah SAW hampir tidak pernah meninggalkan salat Rawatib dalam keadaan muqim, sedangkan salat Tarawih dilakukan secara berjamaah di masjid/musholla dalam frekuensi yang berbeda.
Bahkan, dalam kitab Al-Taqrirat al-Sadidah dan al-Yaqut al-Nafis, urutan keutamaan salat sunnah disusun dengan sangat rinci:
- Salat Dua Hari Raya (Idul Fitri & Idul Adha)
- Salat Gerhana Matahari & Rembulan
- Salat Istisqa (Minta Hujan)
- Salat Witir
- Salat Rawatib (Qobliyyah & Ba’diyyah)
- Salat Tarawih
- Dst..
Solusi Jika “Ketinggalan” karena Imam Tarawih Langsung Mulai
Di saat kita menghadapi situasi di mana imam di masjid langsung memulai salat Tarawih tak lama setelah Isya selesai atau kondisi lainnya yang menjadikan kita tidak sempat melaksanakan Ba’diyyah Isya. Bagaimana solusinya?
Kabar baiknya, waktu pelaksanaan Ba’diyyah Isya membentang sepanjang malam selama waktu Isya masih ada (hingga fajar). Oleh karena itu, jika Anda tidak sempat mengerjakannya di awal, Anda tetap bisa melaksanakan salat Ba’diyyah Isya setelah selesai salat Tarawih.
Secara teknis, urutannya tetap sah karena Ba’diyyah Isya tidak disyaratkan harus langsung setelah Isya tanpa jeda. Jadi, jangan merasa “hangus” hanya karena kita sudah mulai Tarawih. Anda bisa ikut Tarawih dulu, lalu bisa melaksanakan Ba’diyyah Isya yang tertunda tadi.
Penutup
Bukan berarti kita meremehkan Tarawih atau bahkan meninggalkannya. Tarawih tetaplah menjadi ibadah mulia dan merupakan syiar Ramadan. Namun, jangan sampai karena mengejar saf atau terburu-buru, kita justru kehilangan pahala Rawatib yang kedudukannya sangat kuat di sisi syariat. Karena itu, sudah seharusnya kita menempatkan posisi keutamaan tersebut sesuai pandangan syariat dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai bentuk upaya mengindahkan syari’at Islam.
Ambil waktu sejenak, laksanakan Ba’diyyah Isya dengan tenang. Jika tidak sempat di awal, kerjakanlah di akhir. Sebab, kesempurnaan ibadah bukan hanya tentang seberapa banyak kita shalat, tapi seberapa tepat kita menempatkan prioritas sesuai tuntunan para ulama.
Wallahu A’lam Bisshowab.

