Statemen Dubes AS untuk Israel, Michael Huckabee, dalam sebuah wawancaranya dengan jurnalis senior Tucker Carlson yang membiarkan negara Zio berambisi menguasai seluruh Timteng, dalam pandangan saya, adalah refleksi paradigma “realpolitik” dari seorang tokoh politisi AS yang berbasis pada ideologi neokonservatif dan Kristen Zionisme. Paradigma realpolitik, atau politik dalam kenyataan dan empiris, memang tidak tertarik untuk menggunakan pertimbangan moral dan ideal sebagai panglima dalam perumusan strategi dan kebijakan polugri. Bukan berarti bahwa realpolitik tak memedulikan pertimbangan moral sama sekali, namun pertimbangan keseimbangan kuasa/kekuatan (balance of power)-lah yang lebih diutamakan dan, karena itu, dominan sebagai landasan.
Realpolitik yang digunakan Dubes AS di atas menjadi makin kontekstual di era Trump ini jika diingat bahwa ia berkelindan dengan ideologi neokonservatif yang memandang penting ekspansi pengaruh AS ke seluruh dunia sebagai semacam imperium. Ditambah dengan visi ideologis Kristen Zionisme yang percaya terhadap privilege bangsa Yahudi dalam mempercepat kedatangan Kristus untuk kedua kali di akhir zaman untuk mengadili umat manusia dan mengangkat (rapture) seluruh pengikutnya ke surga. Gabungan antara eskatologi dan ideologi sekular Zionisme tersebut saat ini menjadi basis ideologi politik elektoral di bawah Trump, baik dari Partai Republik maupun Demokrat, yang mendukung negara Zio secara maksimal tanpa reserve.
Pemerintah Trump, tak pelak lagi, bersandar kepada realpolitik, neokonservatisme, dan kekuatan basis massa elektoral Kristen Zionis. Yang terakhir ini kemudian semakin diperkuat oleh lembaga-lembaga lobi politik yang mendukung negara Zio, baik dari Israel maupun dari dalam negeri AS sendiri, seperti AIPAC, ADL, AJC, dan sebagainya. Kekuatan dari apa yang sering disebut dengan lobi Yahudi tersebut sangat besar baik secara finansial, ekonomi, politik, dan kultural. Begitu kuatnya pengaruh lobi tersebut, sehingga organisasi seperti AIPAC, misalnya, tak perlu mendaftarkan diri sebagai bagian dari negara asing, tetapi sebagai bagian dari organisasi dalam negeri AS sendiri!
Dinamika relasi AS dengan Israel, dengan demikian, tidak bisa lepas dari konstelasi di atas. Jika elit masyarakat politik (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) dan masyarakat sipil di AS ikut ditentukan oleh dinamika tersebut, baik pada tataran individual maupun kolektif, maka tentu corak strategi polugri akan juga diwarnai. Realpolitik pun, suka atau tidak, akan sangat terpengaruh kendati kadang terdapat juga celah dan praktik yang berbeda di lapangan. Yang jelas, di era pasca-PD II sampai saat ini, nyaris sulit menemukan strategi dan kebijakan polugri AS yang secara serius dan berimplikasi sistemik yang berbeda dengan kepentingan negara Zio. Bahkan di era Trump sejak 2016, sering kali muncul tudingan bahwa Washington, DC-lah yang sejatinya didikte oleh Tel Aviv dalam kebijakan strategis dan polugri, bukan sebaliknya!
Konsekuensinya, dinamika geopolitik di kawasan Timteng, yang berdampak pada dunia Islam secara umum, akan konsisten juga dengan paradigma realpolitik dan akan semakin mengarah kepada kecenderungan konservatisme di bawah Trump. Pemindahan Kedutaan AS ke Jerusalem, pembiaran aksi genosida di Gaza, pembentukan BoP, dan bahkan serangan terhadap Iran oleh AS akhir-akhir ini, adalah bukti intensifikasi dan pendalaman dukungan yang nyaris tanpa reserve kepada rezim Zio oleh Trump. Dengan kata lain, Israel bukan hanya proksi kepentingan AS di Timteng, tetapi eksekutor merangkap sutradara sekaligus!
Realpolitik yang diaplikasikan AS terhadap negara-negara Arab, otomatis akan berbeda fondasi ideologis dan logika perimbangan kekuatan. Kendati secara fisik ada penampilan kedekatan yang seolah mirip, seperti antara AS dengan Saudi, UEA, Qatar, bahkan Mesir, namun ada perbedaan kualitatif yang jauh jika dibanding dengan Israel. Motif pemanfaatan sumber daya ekonomi, terutama energi, lebih mengemuka. Demikian pula perlindungan keamanan yang diberikan kepada negara-negara Arab sangat rentan dengan perubahan drastis yang diinginkannya oleh Tel Aviv. Alih-alih memiliki tingkat kedaulatan yang mirip dengan Israel di mata AS, negara-negara Arab itu paling jauh hanya dipandang sebagai proksi yang mesti patuh kepada skenario kedua negara yang disebut terakhir itu.
Dalam konteks realpolitik dan konstelasi itulah sebaiknya ucapan Dubes AS untuk Israel, Michael Huckabee, dipahami. Jika kemudian negara-negara Arab melalui para elitnya mengungkapkan kemarahan dan kritik tajam terhadap sang Dubes AS, maka semua itu hanya kamuflase dan mirip “pepesan kosong” saja. Tidak akan ada kemungkinan diambil langkah serius dan berkonsekuensi terhadap relasi dominasi serta proksi AS terhadap negara-negara Arab tersebut. Nyaris semua negara tersebut adalah negara-negara yang kemandiriannya adalah atas jaminan AS karena posisi dan fungsi proksi mereka di kawasan.
Di sinilah peran strategis Iran sebagai satu-satunya kekuatan nyata yang masih bisa menjadi halangan bagi dominasi total AS dan Israel. Jadi logis saja jika seluruh upaya, mulai dari propaganda sampai ancaman serangan penghancuran terhadap Iran, dijalankan. Jika pun ada “kekhawatiran” dari negara-negara Arab akan bahaya terhadap mereka dan karena itu mereka menolak penggunaan ruang udara bagi AS dan Israel, saya kira hanya sebuah taktik penyelamatan muka saja. Efek strategisnya minimum saja, karena AS masih bisa menggunakan cara lain dalam operasi militer udaranya!
Tentu Iran tidak hanya sendiri dalam menghadapi ancaman dominasi AS dan Israel. Ia menggandeng Rusia dan China untuk koalisi dalam kepentingan militer dan ekonomi. Kedua negara tersebut jelas bukan kekuatan yang bisa diremehkan AS, kendati Rusia masih harus menghadapi Ukraina. Namun di balik kedua negara adidaya itu, ada BRICS sebagai organisasi yang beranggotakan negara-negara Selatan (the Global South) yang bisa membantu Iran menghadapi sanksi ekonomi.
Dalam dinamika yang sangat panas ini, statemen Dubes Huckabee bisa dipahami juga merupakan warning (peringatan) kepada negara-negara Arab proksi AS agar mereka “bertingkah laku baik-baik” dan tidak mengganggu konsentrasi AS dalam rangka menyerang Iran nanti. Bahkan lebih jauh, Huckabee secara tidak langsung memberi syarat kepada dunia Islam, khususnya mereka yang ada dalam BoP, bahwa kemungkinan perubahan konstelasi geopolitik di Timteng dan dunia Islam bisa terjadi melalui ekspansi kekuatan dan wilayah oleh Israel yang didukung AS.
Realpolitik, neokonservatisme, dan pengaruh Kristen Zionisme di AS dan dunia bukan suatu hal yang terpisahkan. Sebuah tatanan dunia baru bisa saja sedang diupayakan dan berjalan dari Timur Tengah. Hanya sejarah yang akan membuktikan apakah ucapan Dubes Huckabee yang seolah memberi lampu hijau kepada Israel akan berhasil.
Simak tautan ini:
- Huckabee’s Israel land remarks condemned as ‘dangerous and inflammatory’ | Mike Huckabee | The Guardian
- Iran, Israel, and American Hegemony – JURIST – Commentary – Legal News & Commentary https://www.jurist.org/commentary/2025/06/iran-israel-and-american-hegemony/
- Where do the US and Israel differ on Iran strategy? https://www.dw.com/en/where-do-the-us-and-israel-differ-on-iran-strategy/a-75993517
- Why Huckabee’s interview with Tucker Carlson matters for the Middle East https://www.msn.com/en-us/politics/international-relations/why-the-carlson-huckabee-interview-matters-for-the-middle-east/ar-AA1WPGUn?ocid=BingNewsSerp
- 8.000 TNI Potensi Disetir Kepentingan Israel https://rmol.id/pertahanan/read/2026/02/22/698216/8-000-tni-potensi-disetir-kepentingan-israel

