Sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berganti kostum, berganti nama, berganti panggung. Di Karbala, kekuasaan tampil dengan wajah Yazid: penguasa yang memaksa baiat, menuntut legitimasi dari pedang, dan menukar nilai dengan kenikmatan dunia. Di hadapannya berdiri seorang manusia merdeka yang berkata dengan kalimat abadi: “Mitsli la yubayi‘u mitsla Yazid”—orang seperti aku tidak akan berbaiat kepada orang seperti Yazid. Perhatikan, beliau tidak berkata “aku, Husain.” Beliau berkata “orang seperti aku.” Itu adalah deklarasi sosiologis, bukan sekadar sikap personal. Ia membuka kemungkinan bahwa dalam setiap zaman akan lahir orang-orang seperti Husain, sebagaimana dalam setiap zaman pula akan muncul figur-figur seperti Yazid.
Masalahnya bukan sekadar siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Masalahnya adalah watak kekuasaan itu sendiri ketika ia menjelma menjadi sistem yang menormalisasi kebohongan, kekerasan, dan eksploitasi. Ketika seorang pemimpin terseret dalam pusaran skandal moral, ketika kekuasaan bersekutu dengan jejaring kepentingan yang mencederai martabat manusia, ketika kebijakan luar negeri berdiri di atas puing-puing bangsa lain—maka kita tidak sedang berbicara tentang individu semata, tetapi tentang tipologi Yazidian: kekuasaan tanpa nurani.
Dalam kacamata ini, setiap zaman memiliki Yazid-nya. Ia bisa tampil dalam rupa politisi populis, oligarki global, atau rezim yang menopang penjajahan modern. Ia bisa berbicara tentang perdamaian sambil memelihara industri perang. Ia bisa berbicara tentang demokrasi sambil membungkam suara-suara yang tak sejalan. Di titik inilah tragedi Karbala berubah dari peristiwa sejarah menjadi arketipe perlawanan. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah kita hari ini.
Mengapa Imam Husain menolak baiat? Karena baiat bukan sekadar formalitas politik. Baiat adalah legitimasi moral. Ketika yang zalim diberi legitimasi oleh orang-orang baik yang diam, maka kezaliman memperoleh napas panjang. Di sinilah letak urgensi kalimat “orang seperti aku.” Ia adalah panggilan bagi setiap insan merdeka untuk mendefinisikan dirinya: apakah ia akan menjadi bagian dari arus kekuasaan, atau menjadi batu karang yang menahan gelombang?
Jika orang-orang seperti Yazid ada, tetapi tidak ada yang menjalankan fungsi Husain, maka sejarah akan menjadi catatan panjang tentang penindasan tanpa perlawanan. Semua orang akan mencari aman. Semua akan berkata, “Ini bukan urusan saya.” Dan pada saat itulah tirani mencapai puncak kemenangannya: bukan ketika ia menumpahkan darah, tetapi ketika ia berhasil membungkam hati nurani.
Indonesia bukan negeri yang lahir dari kepatuhan kepada tirani. Ia lahir dari perlawanan. Dari darah para pejuang yang menolak tunduk pada imperium. Dari tekad bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Maka menjadi ironi ketika anak-anak negeri ini justru berdiri di barisan yang menopang kekuatan global yang menindas bangsa lain. Bangsa petarung tidak seharusnya menjadi pengekor. Bangsa dengan sejarah panjang perlawanan tidak pantas menjadi legitimasi bagi struktur ketidakadilan internasional.
Pelajaran Karbala bukan tentang air mata semata. Ia tentang posisi. Tentang keberanian berkata tidak. Tentang kesediaan membayar harga demi menjaga martabat. Husain tidak menang secara militer, tetapi ia menang secara maknawi. Ia mengubah definisi kemenangan. Ia menunjukkan bahwa kalah dengan kehormatan lebih mulia daripada menang dengan kehinaan.
Hari ini, pertanyaannya bukan siapa Trump, siapa sekutunya, atau siapa yang berdiri di belakang mereka. Pertanyaannya adalah: di manakah “orang seperti Husain” di zaman ini? Apakah mereka masih berani berkata bahwa orang seperti kami tidak akan berbaiat kepada kezaliman? Ataukah kita dikuasai oleh bajingan-bajingan politisi yang telah terlalu nyaman dengan kompromi? Dan kita diam?
Setiap jengkal tanah membutuhkan suara yang menolak tunduk. Setiap zaman membutuhkan kesadaran yang membedakan antara kekuasaan dan kebenaran. Karena ketika kebenaran tidak lagi menjadi standar, maka kekuasaanlah yang menentukan moralitas. Dan di situlah Yazid selalu lahir kembali.
Maka Karbala bukan nostalgia. Ia adalah proyek peradaban. Ia adalah pendidikan tentang keberpihakan. Dan selama masih ada orang yang berani berkata, “orang seperti kami tidak akan berbaiat kepada penindasan,” selama itu pula ruh Husain hidup—menjadi api kecil yang tak pernah padam di tengah gelapnya zaman.
Rasulullah saw bersabda :
إِنَّ لِقَتْلِ الْحُسَيْنِ حَرَارَةً فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لَا تَبْرُدُ أَبَدًا
“Sesungguhnya atas terbunuhnya Husain terdapat bara (panas yang membara) di dalam hati orang-orang beriman yang tidak akan pernah padam selamanya.”
Sangat ironis ketika kita membandingkan lanskap sejarah: dahulu Sukarno berdiri gagah sebagai simbol perlawanan bangsa-bangsa tertindas, menjadikan Indonesia mercusuar anti-kolonialisme dan suara lantang bagi martabat manusia. Ia memilih posisi Husain—berdiri tegak di sisi kehormatan, bukan di bawah bayang-bayang imperium. Namun hari ini, panggung itu terasa menyesakkan nurani: alih-alih menjaga jarak kritis dan wibawa kedaulatan, yang tampak justru bahwa Prabowo Subianto lebih nyaman merapat dan “berbaiat” secara politik kepada figur penjahat pedofil seperti Donald Trump. Dari mercusuar perlawanan menjadi lampu temaram yang mengikuti arah angin kejahatan global; dari keberanian moral menjadi pecundang yang meletakkan leher bangsa Indonesia di bawah injakan sepatu kotor Zionisme internasional.

