Mugassari — Rangkaian program Ramadhan 1447 H Bersama JIB dibuka dengan diskusi daring yang mengangkat pemikiran pendidikan KH Hasyim Asy’ari, Sabtu (21/2/2026). Forum via Zoom ini menghadirkan Fakhri Nurzaman, penulis buku Filsafat Pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari: Sejarah, Falsafah, dan Pengaruhnya, sebagai narasumber utama. Peserta datang dari beragam latar. Santri, mahasiswa, akademisi, aktivis, praktisi, hingga pemerhati sejarah Islam. Ada yang menaruh perhatian pada isi buku. Ada pula yang memeriksa satu hal yang jauh lebih subtansial. Bagaimana pesantren membentuk watak bangsa melalui disiplin ilmu dan adab.
Diskusi ini menarik karena buku dibaca dan dikupas oleh santri berlatar Persatuan Islam (PERSIS) yang meneliti pendiri Nahdlatul Ulama. Di ruang digital, sekat ormas tampak semakin menipis. Yang disorot adalah tradisi ilmiah. Dan pada titik itu, warisan Hadratussyaikh seolah kembali menemukan pembaca baru, yakni mereka yang siap menimbang gagasan-gagasan besar dengan jernih, tanpa perlu meniadakan identitas masing-masing.
Di dalam karya-karyanya, KH Hasyim Asy’ari berkali-kali menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar tumpukan informasi dalam kertas. Ilmu adalah jalan ibadah. Ilmu menuntut niat yang lurus, tata krama yang rapi, dan disiplin yang ketat. Gagasan itu terbaca jelas dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, yang menjadikan relasi guru-murid sebagai ruang penempaan akhlak, bukan sekadar ruang ujian dan nilai.
Kepedulian terhadap Sejarah
Dalam pemaparannya, Fakhri menyebut penurunan kesadaran sejarah sebagai gejala yang pelan-pelan mengikis kepercayaan diri generasi muda. Ia mengutip seruan Bung Karno, “Jas Merah,” sebagai peringatan sederhana. Sejarah, bagi Fakhri, bukan album nostalgia. Ia adalah peta. Ia menjaga arah. Dalam konteks itu, KH Hasyim Asy’ari penting dikaji karena kiprahnya tidak berhenti pada mimbar, tetapi bergerak di ruang pendidikan, sosial, dan perjuangan kebangsaan.
Di pesantren Tebuireng, pendidikan berjalan bersamaan dengan pembentukan daya tahan sosial. Pesantren bukan hanya tempat mengaji. Pesantren menjadi pusat pembacaan realitas, dan bagaimana menggerakannya. Tradisi keilmuan dipupuk melalui halaqah, ketekunan membaca, dan latihan menulis. Sementara, pada saat yang sama, pesantren menyiapkan kader yang sanggup hadir ketika bangsa memerlukan keberanian. Fakhri menyinggung lahirnya laskar Hizbullah dan Sabilillah, yang menjadi simpul penting dalam sejarah perlawanan terhadap agresi kolonial.
Jejak keberpihakan itu selaras dengan cara KH Hasyim menempatkan ilmu dan amal sebagai satu rangkaian. Dalam banyak risalahnya, beliau mengingatkan bahaya perpecahan dan sikap saling menegasikan. Spirit ini terasa dalam At-Tibyān fī an-Nahy ‘an Muqātha‘ati al-Arḥām wa al-Aqārib wa al-Ikhwān, karya yang lahir dari kegelisahan atas retaknya ukhuwah. Pesannya tegas. Umat bisa kalah bukan karena miskin ilmu, tetapi karena lemahnya ruh kesediaan untuk merajut kembali tali persaudaraan.
Kepedulian terhadap sejarah, dengan demikian, tidak berhenti pada penanggalan dan peristiwa. Ia menyentuh kebiasaan berpikir. Ia mengajari kita menelusuri sebab-akibat, membaca konteks, dan memeriksa motif. Fakhri menekankan bahwa membaca tokoh seperti KH Hasyim berarti belajar menghargai tradisi intelektual sendiri. Tradisi yang mampu berdialog dengan zaman, namun tetap berpegang pada akhlak ilmu.
Prinsip Pendidikan: Ilmu, Adab, dan Persatuan
Dalam kajian bukunya, Fakhri menempatkan pendidikan KH Hasyim Asy’ari pada tiga poros: ilmu, adab, dan persatuan. Pertama, soal ilmu. KH Hasyim tidak membangun dikotomi yang vis-a-vis antara ilmu agama dan ilmu dunia. Dalam kerangka fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, ia menilai ada pengetahuan yang wajib dipelajari setiap orang, ada pula yang menjadi kewajiban kolektif demi kemaslahatan. Cara pandang ini memberi ruang bagi integrasi, ilmu-ilmu umum dapat menjadi ibadah bila diniatkan untuk menjaga kehidupan dan martabat manusia.
Kedua, adab. Inilah aksen paling kuat dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim. KH Hasyim menempatkan adab sebagai pintu ilmu, bukan hiasan di pinggir. Santri diajak membersihkan niat, memuliakan guru, menjaga lisan, serta menghormati kitab dan majelis. Guru, pada sisi lain, dituntut bersikap sabar, tidak tergesa-gesa, dan tidak menjadikan ilmu sebagai alat pamer. Pendidikan menurut beliau adalah pembiasaan melatih raga dan batin agar tertib di hadapan kebenaran.
Dalam suasana sekarang, pesan itu terasa relevan. Kekerasan verbal mudah meledak di ruang digital. Debat sering berubah jadi perlombaan menjatuhkan. Di titik ini, adab bukan semata sopan santun. Adab adalah juga etika epistemic, yakni kesediaan mengakui batas, menerima koreksi, dan menimbang dalil dengan jernih. KH Hasyim mengajarkan bahwa keberkahan ilmu lahir dari cara kita memperlakukan ilmu itu sendiri.
Ketiga, persatuan. Dalam Muqaddimah Qānūn Asāsī, seruan KH Hasyim sangat lugas. Beliau memulai dari refleksi terhadap realitas social bahwa manusia tak mungkin hidup sendiri. Beliau menulis, “وَمِنَ المَعْلُومِ أَنَّ النَّاسَ لَابُدَّ لَهُمْ مِنَ الِاجْتِمَاعِ” (Telah maklum, manusia pasti membutuhkan kebersamaan). Kalimat ringkas itu menegaskan bahwa berjamaah merupakan kebutuhan dasar, bukan slogan semata. Dari sana beliau mendorong umat membangun organisasi yang rapi, berbasis amanah, dan dijaga dengan akhlak persaudaraan.
Fakhri menambahkan, pembaruan di Tebuireng pada masa awal juga menunjukkan sikap selektif terhadap modernisasi. Ada kurikulum yang lebih sistematis. Ada ruang kelas. Ada penataan pembelajaran yang lebih terukur. KH Hasyim tidak menolak alat dan metode baru selama nilai-nilai pokok tetap dijaga. Modernitas, pada pandangan itu, boleh datang, dan patut disambut. Tetapi ia harus melewati saringan. Apakah ia menguatkan akhlak, fondasi, dan ketekunan, atau justru memudarkan ketiganya.
Diskusi Historiografi Nasional
Sesi dialog berlangsung dinamis ketika peserta mengangkat soal objektivitas penulisan sejarah nasional. Ada yang menyinggung perdebatan simbol hari pendidikan nasional, yang lama identik dengan Ki Hadjar Dewantara, sementara sebagian kalangan mengusulkan Ahmad Dahlan. Ada pula pertanyaan tentang narasi kebangkitan nasional yang sering dipusatkan pada Budi Utomo, padahal Sarekat Islam juga memiliki pengaruh luas.
Pertanyaan lain menyinggung pidato Bung Tomo yang memuat seruan takbir tetapi kerap dipotong dalam buku pelajaran. Bagi peserta, potongan-potongan semacam itu bukan sekadar perkara editorial. Ia membentuk cara kita mengingat. Dan cara kita mengingat, pada akhirnya, menentukan cara kita bersikap sebagai bangsa.
Menanggapi itu, Fakhri menekankan bahwa sejarah selalu bergerak di antara objektif dan subjektif. Karena itu, cara paling masuk akal adalah memperkaya sumber dan melakukan kritik dokumen. Ia menyebut langkah-langkah klasik penelitian sejarah: heuristik, verifikasi, interpretasi, lalu historiografi. Di atas meja diskusi, metodologi menjadi penyangga agar perdebatan tidak berubah menjadi saling curiga.
Di titik ini, karya-karya KH Hasyim sendiri memberi pelajaran tentang disiplin rujukan. Banyak risalah beliau dibangun dari kutipan ayat, hadis, dan pendapat ulama. Qānūn Asāsī, misalnya, dipenuhi landasan nash yang dipakai untuk menata kehidupan berjamaah. Sementara Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah hadir sebagai respons atas perdebatan keras tentang akidah, syariah, amaliah, bid’ah, dan otoritas mazhab. Beliau menunjukkan bahwa tradisi pesantren punya mekanisme, berdebat boleh, tetapi harus ada rujukan.
Dengan begitu, diskusi historiografi tidak hanya menyasar siapa yang paling layak dipuji. Diskusi ini menuntut kerja yang lebih mendasar, yakni merapikan cara membaca sumber. Dalam konteks pendidikan, ini penting. Sebab institusi Pendidikan yang baik tidak hanya mengajar murid menghafal, tetapi juga mengajarkan murid bagaimana memeriksa. Membedakan data, tafsir, dan opini.
Relevansi Pemikiran Ulama bagi Generasi Kini
Menutup diskusi, Fakhri mengajak peserta merawat ingatan kolektif bangsa dengan mempelajari tokoh-tokoh ulama yang ikut membentuk wajah Indonesia. Menurutnya, memahami KH Hasyim Asy’ari bukan romantisme masa lalu. Ikhtiar pemahaman ini adalah kerja menjernihkan akar. Karena bangsa yang akarnya rapuh mudah goyah saat diterpa polarisasi.
Pelajaran pertama adalah adab sebagai fondasi pendidikan. Di tengah budaya serba cepat, adab mengembalikan kita pada ritme ta’lim, ta’dib, dan tarbiyyah. Membaca dengan sabar. Mendengar sampai tuntas. Mengajukan kritik tanpa merendahkan. Dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, pendidikan digambarkan sebagai perjalanan panjang yang perlu dijaga dengan niat dan ketekunan. Bukan lompatan instan.
Pelajaran kedua adalah persatuan sebagai kerja harian. At-Tibyān mengingatkan bahaya memutus silaturahim, baik karena fanatisme kelompok, perbedaan pilihan, maupun nafsu merasa paling benar. KH Hasyim tidak menafikan perbedaan. Beliau justru mengajarkan cara menempatkan perbedaan agar tidak berubah menjadi permusuhan. Persatuan, pada pandangan ini, bukan penyeragaman. Persatuan adalah kemampuan hidup berdampingan sambil saling menjaga.
Pelajaran ketiga adalah keseimbangan antara keteguhan dan keluasan. Dalam Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, KH Hasyim menegaskan pentingnya berpegang pada manhaj Ahlussunnah, termasuk penghormatan pada otoritas mazhab, sekaligus kewaspadaan pada cara beragama yang suka menyesatkan. Pesannya sederhana. Pemahaman terhadap agama perlu keteguhan, sekaligus juga perlu akhlak. Tanpa akhlak, keteguhan mudah berubah jadi kekerasan simbolik.
Pada akhirnya, diskusi ini memperlihatkan satu hal yang jarang dirayakan. Perjumpaan tradisi intelektual lintas komunitas. Santri PERSIS membaca pendiri NU. Peserta dari berbagai latar bersedia duduk bersama. Di ruang semacam itu, gagasan KH Hasyim tentang ilmu dan persaudaraan menemukan bentuk paling konkret. Ilmu dipelajari untuk mempertemukan, bukan untuk memisahkan.
Catatan rujukan karya KH Hasyim Asy’ari yang menjadi pijakan pembacaan dalam diskusi ini cukup beragam, antara lain Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim; At-Tibyān fī an-Nahy ‘an Muqātha‘ati al-Arḥām wa al-Aqārib wa al-Ikhwān; Muqaddimah Qānūn Asāsī; serta Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Keempatnya memperlihatkan satu garis yang konsisten. Pendidikan adalah pembentukan karakter, dan karakter tumbuh dari adab, ketekunan, serta kesediaan menjaga persatuan. Wallohu a’lam.

