YOGYAKARTA – Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis pangan global, Guru Besar bidang Hama dan Toksikologi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Edhi Martono, M.Sc., Ph.D., menawarkan sebuah pendekatan konseptual yang disebut fitobioma sebagai model pertanian berkelanjutan terintegrasi.
Gagasan tersebut dipaparkan dalam Pidato Guru Besar yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (13/2/2026) malam. Forum ilmiah ini diinisiasi oleh Forum 2045 dan diikuti peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, peneliti, hingga pegiat pertanian dari berbagai daerah.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., menegaskan bahwa persoalan pangan bukan sekadar isu ekonomi, melainkan bagian dari pertahanan dan kedaulatan bangsa. Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan distribusi dan ketimpangan produksi antarwilayah. Banyak pulau di kawasan timur, misalnya, masih bergantung pada pasokan dari sentra produksi tertentu.
“Kita tidak bisa berbicara tentang kedaulatan tanpa memastikan ketersediaan pangan yang merata dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Baiquni, tantangan tersebut semakin kompleks di tengah perubahan iklim, degradasi lahan, serta menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Dalam konteks inilah inovasi keilmuan menjadi sangat penting.
Melampaui Paradigma Produksi Semata
Dalam pidatonya, Prof. Edhi Martono mengkritisi paradigma pertanian modern yang terlalu berfokus pada peningkatan produksi jangka pendek. Pendekatan monokultur intensif, penggunaan bahan kimia sintetis secara berlebihan, serta eksploitasi tanah tanpa pemulihan ekosistem dinilai telah menggerus daya dukung lingkungan.
“Pertanian tidak bisa hanya dilihat sebagai aktivitas menanam dan memanen. Ia adalah sistem kehidupan yang melibatkan banyak unsur,” tegasnya.
Konsep fitobioma, menurutnya, memandang lahan pertanian sebagai sebuah bioma—suatu kesatuan ekosistem yang terdiri dari tanaman, mikroorganisme, hewan, unsur hara tanah, air, serta faktor iklim dan lingkungan lainnya. Dalam sistem ini, setiap komponen memiliki fungsi yang saling terkait.
Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak praktik pertanian cenderung memosisikan organisme selain tanaman budidaya sebagai musuh. Padahal, sejumlah mikroorganisme tanah justru berperan penting dalam menjaga kesuburan, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama, serta membantu adaptasi terhadap stres lingkungan.
“Kalau semua dibasmi dengan pendekatan kimiawi, kita justru merusak fondasi ekologis pertanian itu sendiri,” ujarnya.
Fitobioma, lanjutnya, mengedepankan prinsip keseimbangan. Produksi pangan tetap menjadi tujuan utama, tetapi harus berjalan seiring dengan pemulihan dan pemeliharaan layanan ekosistem (ecosystem services), seperti kualitas air, kesuburan tanah, keanekaragaman hayati, dan stabilitas iklim mikro.
Kritik terhadap Intensifikasi Ekstrem
Dalam sesi diskusi, Prof. Edhi juga menyinggung praktik intensifikasi ekstrem yang memaksakan produksi tanpa mempertimbangkan daya dukung lahan. Ia mencontohkan kebijakan tanam berkali-kali dalam setahun yang secara ekologis berpotensi melelahkan tanah.
“Tanah juga membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Kalau dipaksa terus-menerus, yang terjadi adalah penurunan kualitas dalam jangka panjang,” katanya.
Pendekatan fitobioma mengajak pembuat kebijakan untuk melihat pertanian dalam kerangka ekosistem yang lebih luas. Keputusan tidak hanya didasarkan pada target produksi jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan sistem dalam jangka panjang.
Menurutnya, krisis pangan global tidak bisa diselesaikan dengan logika eksploitasi yang sama yang justru memicu krisis tersebut. Diperlukan transformasi paradigma—dari produksi maksimal menuju keberlanjutan sistemik.
Integrasi Teknologi dan Generasi Muda
Menariknya, Prof. Edhi menekankan bahwa fitobioma bukanlah ajakan untuk kembali sepenuhnya pada pola tradisional. Sebaliknya, pendekatan ini membuka ruang integrasi dengan teknologi modern.
Pemanfaatan sensor tanah, pemantauan satelit, drone pertanian, hingga sistem analitik berbasis data dapat membantu petani memahami kondisi lahan secara lebih presisi. Dengan data real time, pengambilan keputusan menjadi lebih akurat dan efisien.
“Bertani ke depan tidak selalu identik dengan pekerjaan fisik yang berat. Dengan teknologi, banyak proses bisa dipantau dan dikelola secara digital,” ujarnya.
Hal ini, menurutnya, berpotensi menarik minat generasi Z yang selama ini kurang tertarik pada sektor pertanian. Jika pertanian mampu bertransformasi menjadi sektor berbasis teknologi dan data, maka citra dan daya tariknya pun dapat meningkat.
Konteks Krisis Pangan Global
Krisis pangan global saat ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim, konflik geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga gangguan rantai pasok internasional. Dalam situasi tersebut, ketergantungan pada impor menjadi risiko strategis bagi banyak negara.
Fitobioma menawarkan pendekatan berbasis kemandirian ekosistem lokal. Dengan memaksimalkan potensi bioma setempat dan menjaga keseimbangannya, produksi pangan dapat lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Dalam diskusi yang dipandu Syahrindra Restu R. dari Young Leaders for Indonesia by McKinsey & Company tersebut, sejumlah peserta menyoroti pentingnya implementasi konsep ini dalam kebijakan nasional.
Prof. Edhi menegaskan bahwa transformasi tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, petani, dan sektor swasta untuk menerjemahkan konsep fitobioma ke dalam praktik nyata.
Menuju Pertanian Berkelanjutan
Di akhir paparannya, Prof. Edhi mengingatkan bahwa pertanian adalah satu-satunya jalan untuk menghasilkan pangan. Namun, cara bertani harus terus diperbarui agar selaras dengan dinamika zaman dan tantangan ekologis.
Fitobioma, menurutnya, bukan sekadar konsep teoretis, melainkan kerangka berpikir yang dapat membimbing arah kebijakan dan praktik pertanian Indonesia ke depan. Dengan menempatkan ekosistem sebagai fondasi, produksi pangan tidak lagi berdiri berhadapan dengan kelestarian lingkungan, melainkan berjalan beriringan.
Pidato Guru Besar yang berlangsung secara daring tersebut menjadi refleksi bahwa krisis pangan global memerlukan jawaban ilmiah yang komprehensif. Dalam konteks itu, fitobioma hadir sebagai tawaran solusi—mengintegrasikan sains, teknologi, dan kesadaran ekologis demi masa depan pertanian yang berkelanjutan.

