(Menanam Tauhid di Pematang Sawah, Memanen Barakah di Langit Makrifat)
Sawah sebagai Mihrab Semesta
Di jantung Tebuireng, di bawah langit yang saksi bagi jutaan sujud, Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari pernah menanamkan sebuah taklimat yang melampaui zaman. Baginya, kedaulatan pangan bukanlah sekadar urusan logistik atau ketahanan perut, melainkan sebuah manifestasi dari ketauhidan yang murni. Sawah bukan hanya hamparan tanah, melainkan mihrab semesta tempat seorang hamba berinteraksi langsung dengan sifat Ar-Razzaq (Sang Maha Pemberi Rezeki).
Tulisan pendek ini akan membedah kedalaman pemikiran Sang Rais Akbar mengenai kedaulatan pangan, ekonomi santri, dan manajemen agrikultural yang memadukan disiplin fikih dengan kelembutan tasawuf—sebuah taklimat yang lahir dari lumpur sawah namun bermuara pada singgasana Ketuhanan.
“Koeli Nageri” dan Penolong Agama
Dalam tulisan fenomenalnya di majalah Soeara NO (1927), Hadratusyaikh menegaskan sebuah posisi ontologis yang radikal:
“Oetamanja pakerjaan oentoek mentjari rizki dalah bertani ataoe al-falahah.”
“Petani adalah penolong negeri (koeli-koeli nageri). Tanpa petani, sebuah bangsa akan kehilangan nyawanya.”
Mbah Hasyim memandang petani sebagai pemegang amanah Khalifatullah fil Ardh yang paling otentik. Jika seorang kiai menjaga ruhani umat dengan kitab-kitab, maka petani menjaga eksistensi jasmani umat dengan butir-butir padi. Tanpa jasmani yang sehat, ruhani tak memiliki tempat untuk bersujud. Di sinilah pertanian menjadi pondasi bagi seluruh bangunan syariat.
Fikih Ekologi: Tata Kelola Sawah 20 Hektar dan Rahasia Hari Selasa
Sejarah mencatat bahwa Hadratusyaikh adalah seorang manajer agraria yang visioner. Beliau mengelola lahan produktif sekitar 20 hektar dengan manajemen yang presisi namun penuh nafas spiritual. Salah satu taklimatnya yang paling unik adalah kebijakan “Meliburkan Santri di Hari Selasa” untuk terjun ke sawah.
Secara fikih, ini adalah implementasi dari Riyadhah al-Abdan (olah tubuh) yang diintegrasikan dengan Thalab al-Halal (mencari yang halal). Mengapa hari Selasa? Dalam tradisi pesantren Jawa, Selasa sering kali menjadi hari libur kegiatan belajar mengajar formal untuk memberikan ruang bagi kegiatan kemandirian.
Bagi santri Tebuireng kala itu, turun ke sawah setiap Selasa bukan sekadar kerja fisik, melainkan “Laboratorium Fikih Terapan”. Mereka belajar tentang Muzara’ah (kerjasama pengolahan lahan), Musaqah (manajemen pengairan), hingga Zakat al-Maal (zakat pertanian) secara langsung. Hadratusyaih mengajarkan bahwa tangan yang memegang tasbih di malam hari haruslah tangan yang sama yang memegang cangkul di siang hari.
Tasawuf Agraria: Tawakal di Balik Bajak
Dalam perspektif Tasawuf, bertani adalah latihan Tawakkal yang paling nyata. Seorang petani menanam benih, namun ia tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk menumbuhkannya. Ia hanya bisa berikhtiar (menyiram dan memupuk), lalu berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Hadratusyaih sering mengutip hadis Nabi SAW bahwa siapa pun yang menanam pohon, lalu buahnya dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, maka hal itu bernilai sedekah baginya. Inilah Ekonomi Barakah. Keuntungan petani NU tidak diukur dari angka-angka di atas kertas, melainkan dari seberapa luas kemaslahatan yang terpancar dari hasil panennya.
Suatu hari, seorang santri bertanya mengapa Mbah Hasyim tetap bersyukur meski panennya terserang hama. Beliau menjawab, “Hama itu juga makhluk Allah yang sedang mencari rezeki. Jika sawahku memberinya makan, mungkin Allah akan memberiku makan melalui jalan yang tak terduga. Yang penting, niatku menanam adalah untuk mengabdi pada-Nya.”
Ekonomi Santri: Membangun Kemandirian dari Bawah
Kedaulatan pangan dalam pandangan Hadratusyaih adalah pintu gerbang menuju kedaulatan politik dan martabat bangsa. Beliau sangat khawatir jika umat Islam menjadi “peminta-minta” di negerinya sendiri karena gagal mengelola kekayaan alamnya.
Taklimat beliau tentang ekonomi santri mencakup tiga pilar utama:
- Produksi Mandiri: Pesantren harus mampu memproduksi pangannya sendiri agar tidak mudah didikte oleh pihak luar.
- Distribusi Adil: Menghindari sistem tengkulak yang mencekik melalui penguatan jaringan perdagangan antar-santri.
- Konsumsi Tayyib: Memastikan apa yang masuk ke perut santri adalah hasil keringat sendiri yang halal dan bersih.
Bagi Mbah Hasyim, kedaulatan pangan adalah bentuk jihad melawan kolonialisme ekonomi. Bangsa yang kenyang karena hasil tanahnya sendiri adalah bangsa yang merdeka jiwanya.
Keberkahan: Metafisika dalam Manajemen Padi
Dalam taklimatnya, Hadratusyaikh menekankan bahwa Barakah adalah variabel yang tidak boleh hilang dalam tata kelola sawah. Keberkahan adalah Ziyadatul Khair (bertambahnya kebaikan). Sawah yang dikelola dengan doa, kejujuran pada buruh tani, dan zakat yang tepat waktu, akan menghasilkan “Padi Barakah”.
Secara deskriptif-ilmiah, padi barakah ini mungkin tidak hanya dilihat dari tonase, tetapi dari daya tahannya dalam mencukupi kebutuhan umat tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan (ekologi sirkular). Hadratusyaih mengajarkan santri untuk “berdialog” dengan tanaman. Bercocok tanam adalah proses mencintai ciptaan Tuhan, bukan sekadar mengeksploitasi materi.
Abad Kedua NU
Menghadapi tantangan modernitas, taklimat Hadratusyaih ini harus diterjemahkan ke dalam konteks digital dan mekanisasi. Namun, ruhnya tetap sama. 20 hektar sawah Tebuireng adalah prototipe bahwa pesantren harus menjadi pusat keunggulan agrikultural.
Visi Hadratusyaih tentang kedaulatan pangan mengandung variabel Maqasid al-Shari’ah:
Pertama, Hifzh an-Nafs atau Menjaga nyawa melalui nutrisi.
Kedua, Hifzh al-Maal atau Menjaga harta melalui ekonomi produktif.
Ketiga, Hifzh al-Bi’ah atau Menjaga lingkungan sebagai amanah Tuhan.
Warisan Sang Rais Akbar
Taklimat Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari adalah sebuah simfoni antara doa dan kerja. Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang ulama besar tidak menghalanginya untuk menjadi petani yang sukses. Sawah 20 hektar di Tebuireng adalah saksi bahwa Islam sangat memuliakan tanah dan para pengolahnya.
Meliburkan santri di hari Selasa untuk ke sawah adalah sebuah pesan filosofis yang dalam: bahwa ilmu tidak hanya ada di dalam teks-teks kuning, tetapi juga tersirat dalam tiap jengkal tanah yang kita pijak. Kedaulatan pangan adalah jalan suci menuju kemerdekaan yang sejati. Selama kita masih mencintai sawah, merawat benih, dan memuliakan petani, maka cahaya keberkahan dari Sang Rais Akbar akan terus menyinari bumi Nusantara.
*) Penulis adalah Pengasuh PP. Tebuireng, Jombang

