CIA di Caracas: Ilusi Kendali Amerika Serikat dan Perlawanan Rakyat Venezuela

Amerika Serikat sepertinya sudah mulai tidak sabar untuk menaklukkan Venezuela secara penuh. Hal tersebut terlihat dari berita yang dilansir oleh CNBC Indonesia (www.cnbcindonesia.com) yang menyatakan bahwa badan intelijen Amerika Serikat yang terkenal dengan operasinya di berbagai belahan dunia, Central Intelligence Agency (CIA), tengah mencoba untuk mendirikan kantor di Caracas.

Selain itu, CIA juga aktif mencoba memengaruhi pemerintahan transisi Venezuela yang sekarang dipimpin oleh Presiden Ad Interim, Delcy Rodriguez. Kendali penuh ingin mereka coba terapkan terhadap pemerintahan transisi tersebut.

Persoalannya adalah, sepertinya secara politik mereka—kubu Amerika Serikat dan CIA—belum paham bagaimana jalannya kekuasaan negara yang benar-benar menerapkan sistem ekonomi politik sosialistik seperti Venezuela.

Kekuasaan dalam sebuah negara yang menjalankan sistem sosialisme sesungguhnya tidak berpusat pada istana negara, selayaknya negara-negara dengan sistem feodal atau kapitalistik. Di Venezuela, kekuasaan berada di tangan rakyat secara langsung dan diorganisasikan dalam komune-komune rakyat. Ini merupakan organisasi rakyat, tetapi bukan sekadar ormas, melainkan organisasi yang berisikan rakyat yang terdidik, terpimpin, dan terorganisir secara kolektif. Di dalamnya lah aspirasi rakyat dirumuskan, diperdebatkan, dan dijalankan sebagai praktik kekuasaan sehari-hari.

Suara anggota komune bukan formalitas simbolik, melainkan dasar utama dalam pengambilan keputusan. Karena itu, pergerakan komune rakyat di Venezuela bukan hanya sekadar ekspresi segelintir elite ideologis belaka, melainkan cerminan kehendak politik rakyat yang hidup dan terus bergerak aktif di tingkat akar rumput.

Pandangan ini sejalan dengan laporan-laporan Peoples Dispatch, media independen yang secara konsisten memotret Venezuela dari perspektif rakyat. Maurizio Coppola, dalam tulisannya berjudul “The advance of the commune in Venezuela“, menegaskan bahwa kekuatan sejati Revolusi Bolivarian tidak berada di istana negara, tetapi di tangan rakyat yang terwadahi dalam komune-komune rakyat. Selama struktur komune ini tetap bertahan, setiap upaya rekayasa kekuasaan dari luar akan selalu berhadapan dengan perlawanan rakyat yang kuat.

Wujud konkret kekuasaan komune-komune rakyat ini bisa kita lihat pada pengalaman kudeta terhadap Hugo Chávez di tahun 2002. Saat itu Chávez diculik oleh tentara yang dikuasai oleh Jenderal kanan dan lebih condong ke Amerika Serikat. Setelah faksi tentara kanan menyatakan Chávez berhasil dilengserkan, mobilisasi rakyat dan militer progresif dari basis komune rakyat justru bergerak aktif mengembalikan Chávez ke tampuk kekuasaan. Peristiwa ini adalah bukti nyata bahwa legitimasi politik di Venezuela tidak lahir dari pengakuan internasional, tetapi dari rakyat yang sudah terorganisasi secara politis dan ideologis.

Di sinilah letak gagal pahamnya Washington. Operasi intelijen mungkin efektif untuk menculik Presiden Maduro, atau untuk mengendalikan birokrasi dan membangun wacana di tingkat global—yang sebagian mungkin ditelan mentah-mentah oleh sebagian intelektual Indonesia. Akan tetapi, operasi intelijen ini akan mentah ketika berhadapan dengan struktur sosial yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun. CIA mungkin bisa memengaruhi elite, namun tidak akan mudah bagi mereka untuk menundukkan kesadaran kolektif rakyat yang mengetahui bahwa kedaulatannya sedang dicoba dirampas oleh kekuatan asing.

Propaganda yang dibawa Washington adalah “stabilisasi” pasar energi global. Dengan menguasai minyak Venezuela dan menjualnya dengan harga murah, AS di bawah Trump mengklaim akan menurunkan harga minyak hingga 50 dolar per barel. Akan tetapi, Prashad membongkar motif di balik itu semua sebagai bentuk imperialisme minyak yang vulgar. Pengambilalihan PDVSA oleh korporasi atau perusahaan besar AS seperti Chevron, yang berjalan sesuai dengan “bimbingan” intelijen CIA, lebih cocok disebut sebagai penjarahan aset nasional ketimbang bantuan modernisasi.

Di sini kita melihat perbedaan kontras: CNBC menyoroti sisi administratif dari “keteraturan baru” yang sedang dicoba untuk dibangun AS. Di sisi lain, Vijay Prashad melalui laporannya, ‘The current situation in Venezuela: a government in charge, a people resilient’, memperlihatkan sisi kemanusiaan yang hancur lebur. Pemadaman listrik nasional pada Januari 2026, yang oleh sejumlah laporan independen dikaitkan dengan serangan udara, menciptakan kekacauan luas dan memperparah penderitaan rakyat Venezuela. Di tengah kegelapan total itulah, saat rakyat sedang berjuang bertahan hidup, aset-aset strategis bangsa dipreteli satu per satu oleh korporasi asing.

Satu hal menarik yang luput dari sorotan media besar tapi disoroti secara jelas oleh Peoples Dispatch adalah posisi Presiden Ad Interim Delcy Rodriguez. Di tengah kepungan intelijen asing yang mulai mencoba “mengendalikan” birokrasi, Delcy sebenarnya tengah memainkan kartu diplomasi yang sangat berbahaya. Ia harus melakukan kompromi taktis demi mencegah pembantaian lebih lanjut, sambil tetap menjaga loyalitas militer dan basis sosialis (komune-komune rakyat).

Pertemuan Mar-a-Lago antara Trump dan Machado juga bisa menjadi ancaman bagi posisi Delcy. Apalagi jika CIA sukses memasang Machado sebagai kepala sebuah “pemerintahan boneka” yang tunduk dan patuh pada Amerika Serikat. Akan tetapi, Prashad mengingatkan bahwa sejarah Venezuela bukanlah sejarah yang monoton, melainkan penuh dengan kejutan dari rakyat jelata. Kehadiran CIA justru berisiko menumbuhkan semangat nasionalisme rakyat Venezuela untuk memberikan perlawanan yang lebih radikal.

Kontradiksi antara narasi “pengaturan” oleh CIA dan laporan perlawanan dari Peoples Dispatch memunculkan satu kesimpulan penting: bahwa kedaulatan sebuah negara tidak bisa diatur secara mekanis seperti memasang spare-part pada mesin. Intervensi asing, sedalam apa pun keterlibatan intelijennya, akan selalu menemui tembok besar bernama semangat kebangsaan (nasionalisme).

Bagi negara-negara Global South, atau negara-negara di dunia bagian selatan termasuk Indonesia, apa yang terjadi di Venezuela adalah pengingat bahwa ketergantungan pada satu komoditas tanpa benteng pertahanan lembaga yang kokoh hanya akan membuat bangsa tersebut menjadi laboratorium eksperimen negara-negara adikuasa yang punya kepentingan tertentu. Masa depan Venezuela hari ini sedang di persimpangan jalan: apakah ia akan menjadi negara satelit yang diatur oleh Amerika Serikat, atau bangkit kembali sebagai simbol perlawanan terhadap imperialisme abad ke-21?

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru