Iran kembali menunjukkan satu pelajaran geopolitik penting. Negara tidak selalu bisa tumbang karena krisis yang diciptakan kekuatan eksternal. Kadang negara bertahan justru karena krisis itu sendiri. Di tengah protes, tekanan ekonomi, dan ancaman luar, Republik Islam Iran tetap berdiri. Bukan karena hidup rakyat membaik. Bukan karena oposisi lenyap. Bukan karena aspirasi kesejehteraan terakomodir. Tapi karena negara itu menguasai empat pilar yang menentukan. Hati masyarakat, struktur kekuasaan, disiplin aparat, dan kendali atas cerita.
Dalam sistem dunia, bisa dikatakan Iran bukan pemain pinggiran. Iran bukan hanya negara yang “keras kepala”. Iran adalah aktor regional yang menolak tunduk penuh pada arsitektur hegemoni Amerika di Timur Tengah. Iran bahkan menolak menjadi satelit. menolak menjadi pelengkap. Dan karena itu, Iran terus dibidik. Bukan hanya lewat sanksi. Bukan hanya lewat isolasi diplomatik. Tapi juga lewat perang geopolitik strategis. Infiltrasi, sabotase, operasi intelijen, dan perang persepsi.
Di ruang pertarungan itu, laporan tentang terbongkarnya operasi rahasia Mossad di Iran seperti dari perekrutan online hingga sel tidur menandai bahwa negara bekerja sebagai alat politik. Negara sedang berkata kepada rakyatnya. Ancaman itu nyata, musuh itu ada, dan celah itu berada di dalam rumah sendiri. Dalam satu kalimat, Tehran menegaskan bahwa masalah Iran terbentang dari soal harga-harga yang naik, masa depan yang terasa buntu, sampai soal kedaulatan yang sedang disusupi. Dan ketika negara berhasil menanamkan perasaan “kita sedang dikepung”, kritik sosial mudah ditarik ke wilayah narasi bahwa hal itu dianggap sebagai pintu masuk pengkhianatan.
Di satu sisi, inilah mekanisme klasik rezim yang sedang dituntut isu kesejahteraan. Namun di sisi lain, isu kesejahteraan ini memang menjadi medan operasi proyek asing. Di saat yang sama, Ayatollah Khamenei mengucapkan kalimat yang terdengar seperti deklarasi kemenangan. Iran telah “mengalahkan Amerika”. Klaim itu bukan laporan ekonomi. Bukan indikator kesejahteraan. Hal itu adalah simbol. Sebauh pesan, cara untuk mengatakan bahwa negara masih hidup, dan hidup itu sendiri adalah separuh kemenangan. Dalam politik, bertahan sering lebih penting daripada menang.
Dari Washington, suara neoimperialis muncul. Donald Trump menyerukan “kepemimpinan baru” di Iran. Nada yang lama. Nada yang mengingatkan pada bahasa perubahan rezim yang pernah dibawa ke Irak, Libya, dan Suriah. Seruan semacam ini tentu kental dengan bayang-bayang intervensi, bahkan agresi. Dan di mata Tehran, justru seruan itu adalah bahan bakar. Ia menjadi bukti yang bisa ditunjukkan kepada public. Lihat, musuh tidak peduli pada demokrasi kita; mereka ingin mengganti kita. Mereka ingin menentukan siapa yang memerintah.
Di titik ini, kita melihat mengapa Iran bertahan. Karena Iran bukan negara yang rapuh secara institusional. Iran bukan Irak 2003. Bukan Libya 2011. Iran memiliki struktur yang tebal. Punya Pasdaran. Punya jaringan ekonomi internal yang tahan terhadap sanksi panjang. Iran memiliki birokrasi ideologis yang rapi. Juga mempunyai aparatus yang sigap menjalankan perintah. Dan percaya bahwa perintah itu bagian dari misi. Dan yang paling penting, Iran punya memori kolektif tentang intervensi asing. Memori itu bukan catatan sejarah yang dingin. Itu adalah energi politik. Modal untuk mengubah ketakutan menjadi kesetiaan. Modal untuk membuat stabilitas terasa lebih penting daripada kebebasan.
Rezim Iran bertahan juga karena dicintai. Di samping itu, rezim bertahan karena pemerintah menguasai struktur. Pertama, menguasai hati masyarakat. Demo sebagain masyarakat ditandingi oleh suara masyarakat pula. Iran juga menguasai apparatus negara. Bukan dalam arti metaforis, tapi dalam bentuk paling nyata. Penangkapan, pembungkaman, kontrol jalanan, kontrol kampus, kontrol ruang digital. Dalam sistem dunia, banyak rezim jatuh karena kombinasi rakyat marah dan aparat pecah. Ketika polisi ragu, ketika tentara berjarak, ketika elite retak. Iran tidak pecah. Inti kekuasaan tetap utuh.
Kedua, Iran menguasai narasi. Pembongkaran operasi intelijen musuh tidak berdiri sendirian sebagai informasi. Ini dipakai sebagai bingkai. Oposisi bisa digeser dari “warga yang marah” menjadi “alat pihak luar”. Protes bisa dipersempit maknanya. Bukan gerakan sosial, melainkan infiltrasi. Dan ketika oposisi diberi label sebagai proyek asing, ia kehilangan simpati dari kelompok masyarakat yang ragu-ragu, yang takut pada kekacauan, yang punya trauma perang, yang merasa perubahan terlalu mahal.
Ketiga, Iran mengubah tekanan luar menjadi energi internal. Sanksi ekonomi memang melumpuhkan sebagian syaraf. Sanksi ini membuat hidup lebih berat. Membuat ruang gerak kelas menengah menyempit. Tapi sanksi juga menciptakan psikologi kepungan. Negara yang dikepung selalu lebih mudah menuntut disiplin. Lebih mudah meminta rakyat “bersabar”. Lebih mudah menyebut kritik sebagai kemewahan. Ironinya, tekanan hegemonik sering tidak melemahkan rezim. Tekanan justru menguatkan refleks otoriternya. Hal itu membuat negara semakin curiga, semakin tertutup, semakin represif. Dan justru karena itu, semakin sulit digoyang.
Keempat, Iran bertahan karena lawannya tidak punya jalan intervensi yang murah. Setelah Irak dan Afghanistan, perang besar menjadi trauma politik bagi Amerika. Mahal, berdarah, dan tidak menjamin kemenangan. Maka yang muncul adalah tekanan setengah matang. Sanksi, ancaman, retorika, operasi rahasia, dan perang persepsi. Semua itu mengganggu, tapi tidak cukup untuk meruntuhkan struktur negara. Dalam situasi semacam ini, Iran tidak perlu menang total. Iran hanya perlu tidak kalah.
Dalam kerangka sistem dunia, pertarungan ini bukan semata tentang Iran dan Amerika, atau Iran dan Israel. Ini tentang posisi. Tentang siapa yang menjadi pusat, siapa yang menjadi pinggiran, dan siapa yang menolak tunduk. Iran memilih menjadi negara yang tidak nyaman bagi tatanan hegemonik. Iran harus membayar mahal. Tapi Iran juga memanen satu keuntungan, identitas politik yang semakin solid. Dan identitas yang solid merupakan benteng kuat ketika legitimasi sosial melemah.
Namun ketahanan rezim tidak sama dengan kesejahteraan rakyat. Itu dua hal yang berbeda. Negara bisa bertahan sambil rakyat menderita. Negara bisa stabil sambil ruang kebebasan mengecil. Sistem dunia jarang peduli pada keadilan sosial. Negara lebih peduli pada stabilitas, aliran energi, peta militer, dan arsitektur aliansi. Iran memahami itu. Maka Iran memilih bertahan sebagai negara yang keras. Negara yang curiga. Negara yang mengunci pintu dari dalam, karena ia percaya pintu yang terbuka sering menjadi pintu masuk penaklukan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih jujur bukan “apakah Iran menang”. Pertanyaannya yang lebih penting adalah mengapa Iran belum runtuh juga. Dan jawabannya ada pada kultur dan struktur. Pemerintah yang faham dan menyelami kultur sosial. Ada pada kemampuan negara memonopoli kekerasan, mengendalikan narasi, dan memanfaatkan tekanan luar sebagai alasan untuk menguatkan disiplin di dalam. Di dunia seperti ini, bertahan adalah strategi. Bertahan adalah bahasa. Bertahan adalah ideologi.
Iran masih berdiri bukan karena badai tidak datang. Badai datang berkali-kali. Tetapi negara itu belajar hidup di dalam badai. Dan ketika sebuah rezim sudah terbiasa hidup di bawah tekanan, ia sering lebih sulit dijatuhkan. Bukan karena Iran semata lebih benar, namun karena jauh lebih siap karena pengalaman. Wallohu a’lam bis-showwab.
Diolah dari:
- TribunNews.com https://m.tribunnews.com/internasional/7776075/dari-perekrutan-online-hingga-sel-tidur-iran-bongkar-operasi-rahasia-mossad
- Alastair Croke: Trump’s Debacle. https://www.youtube.com/live/YlBOPgzJAK0?si=2xav954UOQzCzoP1 4.Iran has defeated the US – Khamenei — RT World News https://www.rt.com/news/631110-iran-khamenei-us-israel/
- Trump calls for new leadership in Iran following nationwide protests https://www.nbcnews.com/politics/white-house/trump-new-leadership-iran-protests-ayatollah-ali-khamenei-rcna25456

