“Bahwa sejarah meniru sejarah, itu saja sudah mengherankan; bahwa sejarah meniru sastra, betapa tak terbayangkan…”—Tema Pengkhianat dan Pahlawan, Jorge Luis Borges.
Sejak pertamakali diperkenalkan pada publik pembaca sastra di Indonesia, terutama lewat penerjemahan buku “Labirin Impian” dan “Sejarah Aib Universal,” Jose Luis Borges menjadi sastrawan Amerika Latin yang lumayan akrab di kalangan pembaca Indonesia. Lebih khususnya, akrab di kalangan pembaca karya sastra terjemahan yang dianggap punya citarasa sastra ‘adiluhung,’ canggih, atau bahkan terkesan rumit. Bagi sebagian pembaca Indonesia, kontribusinya bagi sastra di belahan Amerika Latin dan dunia pada umumnya sering dipandang secara berlebihan. Misalnya, seperti ada kesepakatan tanpa bantahan kritis bahwa penulis Argentina ini merupakan pelopor realisme magis. Oleh pemujanya kontribusi Borges terkesan dibesar-besarkan tak sekedar di dunia sastra, namun melebar ke bidang seni rupa, ilmu sosial, bahkan sampai matematika dan ilmu alam lainnya.
Sebagai sastrawan, Borges hampir tidak pernah menjadi bahan pembicaraan pembaca sastra di Indonesia hingga menjelang dan pasca jatuhnya pemerintahan Soeharto. Nama besar Borges sebagai pengarang baru sampai di hadapan publik pembaca dan pemerhati sastra Indonesia sejak rezim Orde Baru tegak selama dua dekade. Gaya detektif dari cerita-cerita Borges, meski pun dilabeli ‘ficciones’ atau cerita main-main, sarat dengan permainan kekuasaan yang berbahaya, petualangan, intrik, dan derita atau kebahagiaan yang menyertainya.
Tumbuh besar di era Orde Baru sampai keruntuhannya, saya mengalami metamorfosa pembacaan atas karya-karya Borges baik yang dibukukan di kumpulan cerita “Sejarah Aib Universal” maupun di buku “Labirin Impian.” Di masa-masa awal, secara naif saya mengaguminya sebagai karya sastra jempolan dan nyaris tanpa kritik sedikit pun. Karena keterbatasan pembacaan karya-karya Borges dan tak diperoleh rujukan pengetahuan tentang posisi Borges dalam setting perang dingin, saya memang belum menemukan sikap politik penulis Argentina ini.
Seiring berjalannya waktu, ketika muncul kesadaran untuk mendekatkan diri pada masyarakat yang telah membesarkan saya, karya-karya Borges mengalami penilaian ulang. Dalam esai pendek tentang “Borges dan Kisah Kebutaannya,” saya menyaksikan watak borjuis penulis yang turut menginspirasi penulis Amerika Latin seperti Gabriel Garcia Marquez, Julio Cortazar, dan Isabel Allende. Adalah karya-karya Eduardo Galeano yang secara langsung atau tidak langsung membawa pemahaman saya atas karya-karya Borges yang lebih utuh. Tulisan Galeano merekam denyut nadi kehidupan rakyat Amerika Latin yang selama 500 tahun mengalami penghisapan oleh penjajah Eropa dan Amerika Serikat, menyajikan sisi lain yang fantastik dari kenyataan pilu di kawasan tersebut, atau malah menyodorkan tawaran utopis bagi masa depan Amerika Latin dengan berpijak pada jejak kelam eksistensi sejarahnya. Sementara itu, selain terobsesi untuk ‘diterima’ menjadi bagian dari kebudayaan Barat, Borges juga memiliki semacam ‘alergi’ pada ruang sosial dan sejarah negeri dan kawasannya yang berusaha lepas dari cengkeraman Barat.
Ada beberapa rangkaian peristiwa yang mengantar saya pada posisi politik kebudayaan penulis ini. Pertama, ikhtiar untuk menerangi salah satu tragedi kemanusiaan paling gelap di negeri ini, yaitu peristiwa berdarah pada dini hari 1 Oktober 1965 dan pembantaian besar-besaran simpatisan PKI dan pendukung Sukarno. Berbagai penjelasan yang telah disodorkan oleh para sejarawan hingga kesaksian pelaku sejarah masa itu tak langsung memuaskan diri saya. Ada lubang menganga yang tak mampu ditutupi oleh penjelasan para sejarawan itu sebagaimana aku tak mampu menutupi narasi palsu yang diciptakan oleh rezim Orde Baru tentang Lubang Buaya. Lubang yang ditinggalkan sejarawan ini membuat saya berpaling ke dunia fiksi.
Peristiwa pertama ini memicu ‘keisengan’ untuk mencari karya sastra yang bisa menginspirasi pemahaman saya tehadap peristiwa berdarah di awal Oktober 1965 tersebut. Saya belum menemukan karya sastra di Indonesia yang bisa menerangi pusat penyebab tragedi itu, terutama bagaimana narasi penghancuran Indonesia di masa akhir pemerintahan Sukarno oleh kekuatan luar dan antek-antek komprador mereka di dalam Indonesia sendiri. Pencarian ini merupakan tanggapan dari beragamnya narasi palsu di seputar peristiwa 1 Oktober yang pada suatu masa berhasil menjadi produk kebudayaan dominan di negeri ini. Film propaganda palsu dan menyesatkan besutan Arifin C. Noer hampir selama dua puluh tahun berhasil menanamkan kebencian terhadap PKI dan simpatisannya sembari menanamkan ketakutan mengerikan di benak orang kalau mereka membuka aib tentara—dalam hal ini Angkatan Darat. Buku-buku sejarah, novel, dan produk kebudayaan lain di masa berkuasanya rezim Orde Baru bekerja keras melakukan manipulasi di sekitar peristiwa 1 Oktober 1965. Kalau kenyataan sejarahnya sudah dimanipulasi sedemikian rupa, dimana keterangan-keterangan tandingannya tak pernah mampu menghapus pemanipulasian sejarah secara meyakinkan, maka mungkin ada cara lain berupa fiksi-fiksi berkualitas yang bisa mengantar pembacaan kita pada kenyataan sejarah yang sebenarnya.
Jalan menuju pembayangan kenyataan di sekitar tragedi paling gelap abad kedua puluh di Indonesia itu diantar lewat dua hal. Pertama buku John Rossa yang berjudul “Dalih Pembunuhan Massal.” Buku ini menunjukkan tiga hal penting dalam terjadinya rangkaian tragedi 1965. Pertama tentu saja karena ketidakcermatan pemimpin teras PKI dalam membaca infiltrasi agen-agen militer dalam tubuh organisasi. Kedua adalah kegamangan Sukarno dalam menyatakan sikap tegas untuk mengeliminasi anasir-anasir pengacau di negeri ini, meski pun anasir pengacau itu salah satu sayap militer Indonesia. Ketiga adalah mengetahui betapa sistematisnya skenario pembumihangusan kekuatan-kekuatan progresif-revolusioner oleh sekutu dan antek-antek kompradornya di Indonesia.
Anehnya, setelah selesai membaca Dalih Pembunuhan Massal untuk ketiga kalinya pada sekitar tahun 2014, berbagai kemungkinan tentang peristiwa gelapseputar 1 Oktober 1965 dan sesudahnya itu seolah bisa dijelaskan lewat salah kisah yang disajikan Borges dalam buku Labirin Impian, yaitu Tema Pengkhianat dan Pahlawan. Kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh LKiS tersebut kemudian saya buka kembali dan membacanya berulang-ulang.
Opini Politik Borges dan Lingkaran CCF Amerika Latin
Sebelum membicarakan bagaimana cerpen Borges tersebut mengantarkan saya pada pembayangan tentang simulasi kudeta merangkak Soeharto terhadap Sukarno, ada baiknya kita menjenguk atau mendapatkan gambaran siapa Borges, terutama posisi penulis Argentina itu dalam setting perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Dan untuk melihat sejumput kemungkinan tentang model kudeta bikinan CIA dan agen-agen Barat lainnya di Indonesia tersebut, ada baiknya kita menengok sejarah keberadaan sebuah lembaga kebudayaan sokongan CIA yang begitu tenar di masa itu, yaitu CCF.
Otak dari organisasi ini adalah agen CIA yang bernama Michael Josselson. Sejak 1953,CCF mensponspori sejumlah jurnal yang dibiayai oleh CIA lewat organisasi-organisasi utamanya. Yang paling prestisius adalah majalah Encounter yang diedit dari London oleh Stephen Spender dan Irving Kristol, kemudian Spender dan Melvin Lasky (setelah 1958) dan Frank Kermode. Ini sejalan dengan ucapan James M. Olson, mantan pejabat CIA, bahwa tujuan pendirian CCF adalah untuk menyatukan para intelektual kiri non-komunis di Eropa guna mempromosikan demokrasi, merongrong pengaruh komunis, dan menjinakkan tendensi-tendensi kaum netralis dari banyak intelektual Eropa beraliran kiri tengah.
Jumlah uang yang digelontorkan oleh CCF ke wilayah Amerika Latin menunjukkan bagaimana lembaga kebudayaan ini memiliki kepentingan besar di kawasan itu. Setelah membangun kontak-kontak awal di tahun 1950-an, seiring berlalunya waktu, dana CCF mengucur makin besar ke wilayah di Amerika Latin. Pada 1963 CCF mengalokasikan 245.475 USD, pada 1964 jadi 262.854 USD, dan
pada 1965 menjadi 369.318 USD. Gelontoran uang yang sedemikian besar itu selain bisa memperkuat posisi para pekerja kebudayaan Amerika Latin yang condong ke blok AS dan sekutunya juga berhasil menipu banyak pekerja kebudayaan yang tidak punya afiliasi atau kesadaran politik kebudayaan atau bahkan para pekerja kebudayaan kiri yang lugu atau tidak mengetahui operasi rahasia CIA untuk menjauhkan mereka dari kekuatan-kekuatan kiri seperti Uni Soviet, Tiongkok dan Kuba.
Di Amerika Latin, CCF menjalankan kerja-kerja politik kebudayaannya lewat Cuadernos demi membendung pengaruh Uni Soviet di seberang lautan dan Kuba di Amerika Latin sendiri. Cuadernos por la liberated de la cultura, yang merupakan jurnal disponsori oleh CCF, didirikan pada 1953 untuk wilayah Spanyol dan Amerika Latin. Jurnal ini dieditori oleh Julian Gorkin yang biasanya disapa dengan panggilan Gomez, seorang bekas anggota partai komunis Spanyol dan komintern yang kemudian menjadi anggota Partido Obrero de Unificacion Marxista (POUM), sebuah partai di Spanyol yang selama Perang Sipil Spanyol menjadi kelompok yang betul-betul antikomunis.
Para penulis Amerika Latin yang secara teratur karya-karyanya dimuat di jurnal ini di antaranya adalah Jorge Luis Borges dan Octavio Paz di samping para penulis yang lebih muda dari Argentina,Chile, Mexico, Peru, Uruguay, Columbia, dan Brazil. Tujuan pendirian Cuadernos, salah satunya adalah menahan pihak-pihak penyerang doktrin politik dan ekonomi yang merasa mampu menentukan secara eksklusif makna kebebasan sembari secara terang-terangan menyatakan bahwa sikap acuh tak acuh dan netralitas pada kejahatan komunisme sama artinya dengan mengkhianati nilai-nilai kemanusiaan paling dasar dan merupakan pelecehan terhadap semangat kebebasan.
Umpan yang ditawarkan oleh Cuadernos pada para penulis Amerika Latin adalah para pembaca yang melewati batas-batas komunitas nasional mereka. Apabila dimuat di jurnal ini, karya para penulis Amerika Latin tersebut akan bersanding dengan para penulis dunia seperti Thomas Mann, Benedetto Croce, dan Upton Sinclair. Dalam pandangan editornya, kebudayaan harus mentransendensikan bangsa
dan wilayah asalpenulis agar menjadi ‘universal.’ Pemikiran tak terbantahkan bahwa budaya bersifat universal dan sastra bersifat otonom sebenarnya menjadi sebuah medan yang secara luas dipromosikan oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Namun pandangan tentang universalitas sebagai standar emas bagi kebudayaan ini menjadi senjata untuk merendahkan budaya-budaya dari paham nasionalisme yang sedang tumbuh di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin yang menjadi sasarann Cuadernos. Universalisme Cuadernos adalah tanggapan terhadap proliferasi wacana kaum nasionalis populis dan tanggapan pada perdebatan obsesif di antara kaum intelejensia tentang identitas nasional.
Orang internal CCF yang memiliki kedekatan dengan Borges adalah Emir Rodriguez Monegal. Ia adalah seorang kritikus sastra dan sarjana sastra Amerika Latin. Lelaki ini merupakan pemuja kebudayaan Anglo-Saxon, promotor utama Borges, dan pembaca setia majalah Sur. Menurut beberapa sumber, Monegal merupakan salah satu pendukung awal karya-karya Borges ketika dirinya masih menjadi seorang kritikus sastra yang belum populer pada tahun 1940-an. Pada tahun 1970-an, Emír Rodriguez Monegal menerbitkan biografi Borges yang paling lengkap hingga kini, Jorge Luis Borges: A Literary Biography. Lewat Monegal dan kongsi-kongsinya di CCF inilah, Borges menyulam kepentingan Barat di Argentina dalam barisan kebudayaan anti komunis.
Dalam sebuah wawancara dengan Richard Burgin di akhir tahun 1960-an, secara terang-terangan Borges menyatakan dirinya sebagai pengikut liberalisme klasik. Latar kelas menengah atas yang menjadi tempat ia tumbuh berkembang turut mempengaruhi pandangan politiknya. Dalam mengenang ketidaksukaannya pada Marxisme dan Komunisme, Borges menyatakan perlawanannya yang jelas terhadap paham negara kuat atau negara kesejahteraan: “Ya, saya dibesarkan untuk berpikir bahwa individu mestinya kuat dan negara harus lemah. Saya tak bisa antusias dengan teori-teori yang menyatakan bahwa negara lebih penting daripada individu.”
Atas dasar sikap politiknya itu, setelah penggulingan Presiden Juan Domingo Peron pada 1955, Borges mendukung usaha-usaha untuk memurnikan pemerintahan
Argentina dari pengikut Peron dan menyingkirkan konsep negara kesejahteraan yang diusung oleh sang Presiden terguling. Pandangan dan sikap politiknya ini bertemu dengan kepentingan blok sekutu yang sedang gencar-gencarnya memerangi persebaran pengaruh komunisme di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Pernyataannya ini menguatkan apa yang ia katakan dalam sebuah wawancara dengan El Hogar. “Para pengikut komunisme mendukung rezim-rezim totalitarian dan secara sistematis memerangi kebebasan berpikir dan melupakan fakta bahwa korban utama dari kediktatoran sejatinya adalah intelejensi dan kebudayaan,”ujarnya. Lebih jauh ia menyatakan bahwa banyak orang mendukung kediktatoran karena mereka bisa menghindar dari tanggungjawab untuk memiliki pemikirannya sendiri. Stigmatisasi kekuatan kiri di Argentina atau Amerika Latin dengan mengarusutamakan kampanye ala operator CIA, “kediktatoran versus demokrasi,” inilah yang digaungkan Borges sejak ia berteman dekat dengan Monegal.
Borges dan Cerpen “Tema Pengkhianat dan Pahlawan”
Kisah dalam cerpen “Tema Pengkhianat dan Pahlawan” dimulai dari paparan Borges tentang kecurigaan adanya pengkhianat dalam organisasi perjuangan pembebasan Irlandia. Sebagai pemimpin pergerakan kemerdekaan Irlandia, Fergus Kilpatrick memutuskan membentuk tim investigasi yang diketuai oleh James Alexander Nolan untuk mencari tahu siapa pengkhianatnya. Laporan tim investigasi ini secara mengagetkan menunjukkan bahwa pengkhianatnya adalah Kilpatrick sendiri. Maka setelah pemimpin pergerakan kemerdekaan Irlandia itu berkumpul dan mencari solusi atas kasus itu, diputuskan kalau Kilpatrick harus dihukum mati.
Bagaimana cara menghukum mati pengkhianat yang problematis ini? Kalau ia dieksekusi biasa saja, bukankah perlawanan Irlandia terhadap Inggris akan melemah? Bagaimana mereka mengeksekusi pengkhianat memalukan ini tanpa mengurangi semangat orang-orang Irlandia dalam melawan kolonialis Inggris di tanah Irlandia?
Sebagai perlawanan total terhadap Inggris, maka para pemimpin pergerakan kemerdekaan Irlandia itu memutuskan cara menghukum mati Kilpatrick dengan membalik gaya teater Shakespeare.
Akhirnya, lewat tangan dingin James Alexander Nolan, para pemimpin pergerakan kemerdekaan Irlandia itu mendesain upacara penjatuhan hukuman mati itu dengan menempatkan Kilpatrick sedang berpidato di tengah-tengah massa pendukungnya untuk menggelorakan perlawanan terhadap Inggris. Tim penembak jitu yang dipersiapkan melaksanakan tugasnya persis ketika massa tengah mengelu-elukannya. Dengan cara itulah, pengkhianat gerakan kemerdekaan Irlandia itu digelorakan sebagai pahlawan oleh massa pendukungnya sekaligus menyebarkan perlawanan lebih luas kepada Inggris ke pihak-pihak yang semula tak menentukan sikapnya.
Kesejajaran skenario Gestapu dan Skenario James Alexander Nolan
Bagaimana cerpen yang imajinatif ini bisa menjelaskan kudeta merangkak Soeharto? Kalau kita mau menerjemahkan desain cerita ini pada strategi beberapa petualang Angkatan Darat dalam menghancurkan kekuatan Sukarno dan memberi jalan pada mereka sendiri untuk berkuasa, begini kira-kira terjemahannya.
Dalam kisah rekaan Borges, James Nolan—yang notabene merupakan rekan seperjuangan tertua Kilpatrick dalam perjuangan kemerdekaan rakyat Irlandia— ditugaskan sebagai orang yang merancang skenario pelaksanaan hukuman mati terhadap pemimpin gerakan kemerdekaan Irlandia tersebut. Tokoh ini, selain punya reputasi dalam menulis artikel tentang Festpiele Swiss, juga memiliki pemahaman mumpuni dalam menerjemahkan lakon-lakon Shakespeare, terutama Macbeth dan Julius Caesar. Keterampilannya di dunia teater inilah yang dipakai untuk merancang eksekusi terhadap pengkhianat ganjil seperti Kilpatrick. Nolan menyarankankan supaya si terhukum dieksekusi melalui tangan seorang tak dikenal dalam suatu situasi yang dibikin dramatik, sehingga senantiasa terukir dalam imajinasi banyak orang, dan
dengan demikian akan memperlekas penggulingan kekuasaan. Sebagai orang yang sangat memahami Festpiele Swiss—pertunjukan-pertunjukan teater kolosal yang bersifat petualangan dengan ribuan pemain yang mengulang episode-episode bersejarah yang pernah terjadi di kota-kota maupun pegunungan—Nolan merancang skenario pelaksanaan hukuman mati Kilpatrick dengan mengikutsertakan masyarakat umum yang tak tahu apa-apa dalam skenario politiknya.
Dengan cara yang mirip seperti yang dilakukan James Nolan, Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya menjalankan proses penggulingan Sukarno dan penggulungan kelompok kiri di Indonesia. Mereka kemudian membuat desain kudeta merangkak yang longgar, dengan mencari beberapa perwira Angkatan Darat yang oportunis dan lugu atau tak terlalu pintar seperti Letkol Untung. Dengan memanfaatkan para agen ganda, yang terhubung dengan kuat ke PKI dan Angkatan Darat, mereka mendorong terjadinya avonturisme di tubuh tentara.
Para avonturir di bawah kepemimpinan Letkol Untung ini didorong untuk melakukan penculikan tujuh jenderal yang dianggap membahayakan Sukarno. Para desainer kudeta tersebut tahu bahwa ketujuh Jenderal Angkatan darat tersebut, meski sering berseberangan dengan Sukarno, belum tentu ingin menggulingkan Sang proklamator. Tujuan yang sebenarnya disasar oleh desainer kudeta merangkak tersebut adalah melakukan penggulingan Sukarno lewat pembantaian tujuh Jenderal Angkatan Darat yang mereka jadikan korban. Dalam pelaksanaannya, salah satu di antara tujuh Jenderal itu, Jenderal Abdul Haris Nasution, urung jadi korban. Namun karena situasi darurat dan kesimpangsiuran berita, Jenderal Nasution berhasil dikebiri pengaruhnya di dalam Angkatan Perang.
Saat jenasah enam jenderal dan satu perwira pertama itu berhasil ditemukan, kerja-kerja propaganda untuk memojokkan lawan paling berat bagi kekuatan Barat (PKI) dilangsungkan secara massif. Lewat propaganda massif tersebut, Mayjend Soeharto selaku Pangkostrad saat yang mengisi kekosongan kepemimpinan di tubuh Angkatan Darat dipahlawankan sedemikian rupa sebagai penyelamat Presiden Sukarno. Sementara Ketua Umum PKI, DN Aidit, kemudian dinistakan sebagai pengkhianat Negara dan dibunuh oleh serdadu yang relatif tidak dikenal dalam pelariannya di sekitar Surakarta.
Dengan cara itulah, saya membayangkan, salah satu kaki penopang kekuasaan Sukarno yang paling kuat saat itu (PKI) dipotong. Langkah selanjutnya adalah dengan mengacaukan kelompok agama (NU maupun Muhammadiyah) supaya tak memberikan dukungan politik pada Sukarno dan secara bersamaan mau menjadi aktor utama dalam pembantaian orang-orang kiri dan para pengikut Sukarno. Ketika ini sudah berlangsung, langkah selanjutnya adalah meminggirkan Sukarno dari pusat kekuasaan. Peristiwa ini berhasil dilakukan secara bertahap hingga bulan Maret 1967 ketika Soeharto diangkat oleh MPRS yang diketuai oleh Nasution sendiri sebagai Pejabat Presiden Indonesia.
Kudeta bergaya Borgesian ini terjadi lewat pemahlawanan atau pemitosan lebih lanjut dari tujuh perwira angkatan darat yang dianggap sebagai martir revolusi. Di salah satu bagian cerita Tema Pengkhianat dan Pahlawan-nya Borges, Nolan menyarankan supaya si terhukum dieksekusi melalui tangan seorang tak dikenal dalam suatu situasi yang dibikin dramatis, agar senantiasa terukir dalam imajinasi banyak orang, dan dengan demikian akan memperlekas penggulingan kekuasaan. Dan dengan cara yang identik pula, enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat dihabisi oleh orang-orang biasa yang digambarkan berafiliasi dengan PKI. Hasilnya adalah dipahlawankannya perwira Angkatan Darat di benak orang, dan dengan demikian, memperlekas penggulingan kekuasaan Sukarno. Pemahlawanan ini diikuti dengan pengutukan terhadap PKI dan seluruh simpatinya hingga berujung pada penghancurannya yang mengerikan. Lewat cara inilah negara-negara Oldefo berhasil menghancur-leburkan salah satu negara paling kuat dalam melakukan penentangan atas dominasi mereka di Asia dan Afrika. Untuk memberi legitimasi atas tindak pemahlawanan atau pemitosan terhadap tujuh pahlawan revolusi itu, rezim OBM Orde Baru membangun museum Lubang Buaya, hari kesaktian Pancasila, kisah tentang Supersemar, hingga diputarnya secara berkali-kali film G-30-S-PKI.
Saya tidak tahu apakah desain kudeta merangkak Jenderal Soeharto terhadap Sukarno dan pembantaian kaum kiri di negeri ini benar-benar terilhami oleh karya Jorge Luis Borges atau tidak. Yang saya tahu, setiap memikirkan dinamika politik sejak 1960-an sampai naiknya Jenderal Soeharto, benak saya terus menerus dibayang-bayangi skenario canggih James Alexander Nolan ketika menyiapkan eksekusi terhadap Fergus Kilpatrick dalam cerpen Borges tersebut. Kadang-kadang letupan pikiran konyol saya mengemuka: Ada kemungkinan kebenaran yang susah disajikan lewat fakta-fakta sejarah justru lebih mudah disajikan lewat fiksi.[]
*Dwi Cipta. Penulis cerpen, esai dan novel. Karya-karyanya di antaranya adalah Darah Muda (Novel), Renjana (Kumpulan Cerpen), Vice versa (Kumpulan esai sastra), Victoria (Novel terjemahan karya Knut Hamsun).

