Pengantar
Apa yang saat ini sedang terjadi? Menurut Yan Ping (2025), Trump 2.0 menunjukkan empat gejala penting. Pertama, gejala krisis structural global legitimasi liberalisme kapitalistik. Kedua, lahirnya konservatisme kanan baru yang berbeda dari neokonservatisme lama. Ia anti-liberal, anti-global. Ketiga, akar materialnya adalah ekspansi kapital global yang menciptakan ketimpangan, kehancuran komunitas, dan kebutuhan akan proteksi sosial. Keempat, tatanan dunia pasca-Perang Dingin runtuh. Aliansi cair. Lembaga internasional melemah. Nasionalisme sempit menguat.
Trump 2.0
Kemenangan Donald Trump sehingga kembali ke panggung kekuasaan dunia bukan semata peristiwa elektoral. Dia bisa dibaca sebagai tanda zaman pergeseran ideologi. Tanda bahwa dunia sedang kehilangan penyangganya. Dalam waktu singkat, Trump 2.0 memangkas birokrasi, menggoyang aliansi lama, melemahkan solidaritas internasional, dan menempatkan kepentingan nasional secara telanjang di atas segalanya. Dunia pun terasa goyah.
Namun Trump bukan sebab tunggal. Ia lebih tepat dibaca sebagai gejala. Ia lahir dari dari dinamika kapitalisme tingkat akhir. Janji kosong pasar bebas, janji kemajuan, janji kesejahteraan. Janji yang terlalu sering diucapkan, tetapi jarang ditepati, kecuali bagi segelintir.
Di sinilah analisis Yang Ping menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa Trump tidak muncul dari ruang hampa. Basis sosial Trumpisme adalah ekspresi resultante krisis kapitalisme yang menemukan salurannya dalam konservatisme kanan baru.
Sejak 2016 hingga 2024, jelas bahwa dukungan Trump bersumber dari segmen masyarakat yang kehilangan perlindungan sosial. Mereka bersekutu dengan gelombang konservatisme kanan baru. Bukan neokonservatisme lama. Konservatisme yang anti-liberal, anti-globalisasi, dan anti-elit.
Sekali lagi, konservatisme ini berbeda dari konservatisme lama. Ia tidak lagi percaya pada universalisme nilai Barat. Ia curiga pada demokrasi liberal. Ia menolak imigrasi. Ia mengibarkan nasionalisme sempit. America First menjadi mantra. Dunia luar dipandang sebagai ancaman, bukan ruang perjumpaan apalagi kolaborasi.
Akar dari semua ini, kata Yang Ping, adalah kapitalisme pasar bebas yang terlalu lama dilepas tanpa kendali. Modal bergerak cepat. Akumulasi menumpuk di segelintir tangan. Ketimpangan melebar. Komunitas rapuh. Etika sosial terkikis. Dalam situasi seperti itu, masyarakat mencari perlindungan. Sayangnya, perlindungan itu sering hadir dalam bentuk yang keliru: xenofobia, populisme, dan nasionalisme agresif.
Dalam bahasa lama tradisi kiri, ini bukan hal baru. Kapitalisme selalu bergerak dalam siklus. Ada masa ekspansi. Ada masa krisis. Ketika krisis datang, tatanan lama goyah. Yang lama belum sepenuhnya mati. Yang baru belum lahir. Masa antara inilah yang paling berbahaya. Masa ketika “monster-monster” muncul.
Dunia hari ini
Tatanan global pasca-Perang Dingin mulai runtuh. Aliansi lama retak. Lembaga internasional kehilangan wibawa. Aturan global tidak lagi ditaati. Nasionalisme sempit menggantikan solidaritas global. Kekacauan menjadi normal baru.
Dalam situasi ini, Tiongkok, sebagaimana dibaca Yang Ping, mencoba menawarkan narasi tandingan. Konsep “komunitas masa depan bersama umat manusia” (community of shared future for humanity), yang diklaim mampu mengisi krisis global, diajukan sebagai pengganti nilai liberal Barat yang runtuh. Dunia, menurut pandangan ini, membutuhkan nilai baru untuk bertahan.
Tradisi Kiri
Analisis Yang Ping sejalan dengan Karl Polanyi, yang menyebut reaksi terhadap pasar bebas sebagai double movement. Gerak balik masyarakat yang menuntut perlindungan sosial (Polanyi, 1944: 76). Konservatisme kanan, dalam kacamata ini, adalah bentuk perlindungan yang salah arah.
Antonio Gramsci menulis: “The old world is dying, and the new world struggles to be born; now is the time of monsters.” (Gramsci, Prison Notebooks, 1971: 276). Trumpisme adalah “monster” dalam masa interregnum.
Namun berbeda dari Nancy Fraser, Yang Ping kurang menekankan dimensi krisis representasi dan politik pengakuan. Fraser melihat populisme kanan sebagai kegagalan aliansi progresif neoliberal yang memadukan pasar bebas dan liberalisme kultural (Fraser, 2019: 14).
Sementara itu, Giovanni Arrighi membaca krisis hegemonik sebagai pergantian pusat akumulasi global (Arrighi, 1994: 309). Dalam kerangka ini, Trumpisme merupakan tanda senja hegemoni Amerika.
Tradisi Indonesia
Di sinilah jarak muncul. Analisis Yang Ping tajam secara struktural, tetapi terlalu negara-sentris. Ia mengganti universalisme liberal dengan universalisme baru yang juga berbasis negara besar. Ini mengulang logika pusat-pinggiran dalam bentuk lain.
Dalam tradisi keindonesiaan, yang lahir dari pengalaman colonial, kecurigaan terhadap universalisme negara besar selalu hadir. Tan Malaka mengingatkan bahwa pembebasan tidak boleh bergantung pada satu pusat kekuatan dunia (Malaka, Madilog, 1951: 112). Emansipasi harus berakar pada rakyat, bukan pada geopolitik semata.
Demikian pula Soedjatmoko, yang menekankan bahwa krisis global adalah krisis moral dan kultural, bukan hanya sistem internasional (Soedjatmoko, 1983: 45). Konsep “komunitas masa depan bersama” akan rapuh jika tidak ditopang demokrasi sosial yang hidup dari bawah.
Dalam bahasa kelatinan, ada kehati-hatian terhadap narasi besar. Gunawan Mohamad pernah menulis bahwa kekuasaan sering datang dengan bahasa universal, tetapi lupa mendengar bisik manusia konkret. Kritik ini relevan. Tawaran Tiongkok, betapapun menarik, berisiko menjadi narasi tandingan yang sama totalnya.
Tradisi Indonesia mengajarkan jalan lain: gotong royong, kedaulatan rakyat, dan etika keseimbangan. Bukan America First, bukan pula China as Center, namun manusia sebagai pusat.
Tepat di sinilah kita, dari pesantren dan dari Indonesia, perlu merenung sejenak. Kita patut bertanya. Apakah setiap tawaran universalisme baru benar-benar membebaskan? Atau hanya memindahkan pusat kekuasaan dari satu tangan ke tangan lain?
Tradisi intelektual pesantren mengajarkan kehati-hatian terhadap narasi besar. Pesantren terbiasa hidup dalam keseharian. Dalam laku. Dalam komunitas. Dalam gotong royong. Dunia tidak diselamatkan oleh slogan global semata, tetapi oleh etika hidup yang membumi.
Pengalaman Indonesia, dari kolonialisme hingga reformasi, mengajarkan bahwa pembebasan sejati tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada negara besar mana pun. Keadilan lahir dari bawah. Dari rakyat. Dari kesadaran sosial. Dari keberpihakan pada yang lemah.
Karena itu, Trump 2.0 seharusnya tidak hanya dibaca sebagai ancaman geopolitik, tetapi sebagai peringatan moral. Dunia sedang sakit. Sakit secara ekonomi, lunglai secara etis. Ketika solidaritas runtuh, ketika keadilan diganti kepentingan, ketika manusia direduksi menjadi angka, kekacauan menjadi tak terelakkan.
Pesantren, dalam keterbatasannya, justru menyimpan pelajaran penting. Bahwa keseimbangan (tawasuth, tawazun) lebih utama-mulia daripada dominasi dan hegemoni. Bahwa kebersamaan lebih kuat daripada nasionalisme sempit. Bahwa dunia tidak hanya membutuhkan tatanan baru, tetapi juga kesadaran baru.
Mungkin inilah saatnya dunia belajar kembali dari nilai-nilai pesantren. Keadilan sosial, tangawun, syuro, empati, dan tanggung jawab moral. Tanpa itu, siapa pun yang memimpin, Trump atau yang lain, hanya akan memperpanjang kekacauan dengan wajah berbeda.
Penutup
Trump 2.0 menandai zaman ketika kepastian runtuh. Yang Ping membacanya dengan kejernihan struktural. Ia membantu kita melihat bahwa kekacauan ini bukan kebetulan. Ia lahir dari sejarah panjang kapitalisme global.
Namun, dari selatan, kita perlu menambahkan satu lapis lagi, yakni kewaspadaan terhadap setiap klaim universalisme baru. Dunia tidak hanya membutuhkan tatanan baru seperti klaim China. Ia membutuhkan kerendahan hati politik.
Zaman ini memang zaman kekacauan. Tapi justru di situlah, seperti kata Gramsci, pikiran wajib diuji. Apakah kita akan mengganti satu pusat dengan pusat lain, atau berani membayangkan dunia yang benar-benar adil, tawazun-tawasuth, dan majemuk.
Referensi:
- Yang Ping, The Arrival of Trump 2.0 and the Era of Global Turmoil, Wenhua Zongheng, 2025.
- Karl Polanyi, The Great Transformation, Beacon Press, 1944.
- Antonio Gramsci, Selections from the Prison Notebooks, International Publishers, 1971.
- Giovanni Arrighi, The Long Twentieth Century, Verso, 1994.
- Nancy Fraser, The Old Is Dying and the New Cannot Be Born. Verso, 2019.
- Tan Malaka, Madilog, 1951.
- Soedjatmoko, Dimensi Manusia dalam Pembangunan, LP3ES, 1983.

