Memperkokoh Fondasi Bangsa: Prof. Ravik Karsidi Serukan Gerakan Nasional Penguatan Karakter di Era Digital

YOGYAKARTA – Di tengah gempuran arus informasi dan disrupsi teknologi yang kian tak terbendung, bangsa Indonesia diingatkan kembali akan pentingnya menjaga identitas diri. Dalam diskusi mingguan yang diselenggarakan oleh Forum 2045, Jumat malam (26/12/2025), Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS), menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategi nasional demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Peran Forum 2045 sebagai Komunitas Epistemik

Acara dibuka dengan khidmat oleh Akbarian Rifki Syafa’at, S.Sos. selaku Host dan Ketua Dewan Pelaksana Desanomia. Dalam pembukaannya, Akbariadi menjelaskan bahwa Forum 2045 sejatinya adalah sebuah komunitas epistemik—inisiatif para akademisi untuk menyediakan ruang dialog dan pengembangan akademik bagi masa depan Nusantara.

Foto Moderator dan Host Acara Pidato Guru Besar, 26 Desember 2025 (Sumber: Dokumen Redaksi)

“Diskusi ini adalah upaya kolektif untuk menanam dan merawat pemikiran. Kehadiran para guru besar di sini bertujuan mengawal arah bangsa agar tetap selaras dengan amanat konstitusi,” ujar Akbariadi sebelum memandu prosesi doa bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pesan Kemanusiaan dan Kritik Pembangunan

Sebelum paparan materi inti, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), memberikan sambutan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Beliau mengajak seluruh peserta mendoakan saudara sebangsa yang sedang berjuang menghadapi bencana di Sumatera, sembari mengapresiasi para seniman yang melakukan lelang karya untuk bantuan sosial.

Prof. Baiquni juga mengingatkan pemerintah agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada sektor ekstraktif dan eksploitasi alam. “Jika kesenjangan sosial dan kerusakan alam tidak segera dikondisikan melalui pembangunan karakter yang masif, kita khawatir akan terjadi turbulensi sosial seperti tahun 1998. Karakter pemimpin masa depan harus dibangun secara konsisten hari ini melalui investasi pada manusia,” tegasnya.

Karakter Sebagai Filter System Era Digital

Memasuki sesi utama, Prof. Ravik Karsidi memaparkan bahwa tantangan terbesar di era digital bukan hanya soal penguasaan teknologi, melainkan bagaimana manusia Indonesia tetap memiliki “jangkar” moral. Beliau menjelaskan bahwa karakter dan jati diri bangsa harus berfungsi sebagai filter system atau penyaring terhadap budaya luar yang destruktif.

Beliau menyoroti bahwa penguatan SDM unggul merupakan bagian dari misi Asta Cita dan arah transformasi sosial dalam RPJPN 2025-2045. Namun, Prof. Ravik memberikan catatan kritis bahwa revitalisasi pendidikan Pancasila harus dilakukan secara nyata melalui “Tri Pusat Pendidikan”: keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Pendidikan karakter harus mampu membangkitkan kesadaran jiwa sebagai pribadi berjati diri Indonesia. Jika nilai kejujuran, disiplin, dan etos kerja kita hari ini dievaluasi, mungkin nilainya masih memprihatinkan. Inilah mengapa kita butuh perubahan cara berpikir dan cara hidup melalui pendidikan akhlak dan keberadaban,” jelas Anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek tersebut.

Dinamika Diskusi dan Urgensi Gerakan Nasional

Diskusi yang dipandu oleh moderator Astri Hastiningrum, S.I.Kom. (Education Enthusiast dari Sekolah Murid Merdeka) berlangsung sangat dinamis. Muncul kegelisahan dari peserta mengenai fenomena “orang pintar tapi tidak berkarakter” yang banyak tersangkut kasus korupsi.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Ravik menekankan pentingnya menjadikan penguatan karakter sebagai Gerakan Nasional. Beliau menyoroti bahwa meskipun hukum mengamanatkan anggaran pendidikan sebesar 20%, realitas di lapangan seringkali belum menyentuh esensi pembangunan karakter. “Gerakan ini harus didukung anggaran dan regulasi yang maksimal. Bukan sekadar seremonial, tapi mengubah mentalitas bangsa secara menyeluruh termasuk pembersihan lingkungan dari praktik-praktik non-integritas,” tambahnya.

Rangkuman Strategis Moderator

Menjelang akhir sesi, Astri Hastiningrum selaku moderator memberikan sintesis penting dari diskusi malam itu. Beliau menggarisbawahi empat poin utama:

  1. Integritas Digital: Pendidikan karakter adalah benteng utama bagi generasi muda agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus informasi global.
  2. Sinergi Ekosistem: Tanggung jawab pendidikan karakter adalah kolektif; sinergi antara rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat adalah mutlak.
  3. Keteladanan Elit: Penguatan karakter di level akar rumput akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan keteladanan moral dan integritas dari para pemimpin dan elit pemerintahan.
  4. Keberlanjutan Diskusi: Pemikiran para guru besar harus ditindaklanjuti menjadi kebijakan publik yang konkret, bukan sekadar menjadi wacana akademik.

Penutup: Mengubah Cara Hidup Bangsa

Dalam closing statement-nya, Prof. Ravik menyatakan bahwa diskusi ini memberikan penguatan moral baginya untuk terus menyuarakan pentingnya penguatan karakter. “Ini harus menjadi gerakan yang mengubah cara berpikir dan cara hidup bangsa kita. Inilah fondasi utama untuk mencapai Indonesia Emas,” pungkasnya.

Acara ditutup kembali oleh Akbariadi dengan ucapan terima kasih kepada seluruh penyelenggara dan mitra, termasuk Faperta UGM, Universitas Brawijaya, Universitas Proklamasi 45, STIA “AAN”, Universitas Janabadra, Universitas Sulawesi Tenggara, Institut Pertanian INTAN, Sekolah Pembaruan Desa, dan Akademi Hikmah. Sinergi ini menunjukkan komitmen lintas institusi dalam mengawal masa depan Nusantara.

Related Articles

Artikel baru