Bencana yang Sesungguhnya

Aku berfikir dan merenung
kenapa bangsa ini
tertimpa bencana bertubi-tubi

Kutanya seorang Kakek.
seorang petani sederhana
di desa sederhana
aku disuguh wedang sere
dan ubi rebus, di teras tumahnya.

Ia tersenyum mendengarkan pertanyaanku
setelah meneguk wedang sere
dia berkata sareh,
“Begini Nak
di balik segala bencana alam
bencana politik
brncana hukum
dan bencana ekonomi
ada bencana yang sedungguhnya “

“Bencana apa itu Kek?”
“Kau siap dan tetrbuka menerima kata kataku ini?”
“Siap Kek ” jawabku mantap.

“Bencana yang sesungguhnya menimpa bangsa ini
adalah hilangnya rasa syukur “
“Maksud Kakek?” Tanyaku berdebar-debar.

“Lho kita sudah dikaruniai Tuhan kemerdekaan di tahun empat lima
kenapa malah memanggil dan ingin dijajah lagi
oleh penjajah dari Barat dan penjajah dari Timur?
Kita dikaruniai kekayaan alam melimpah
kenapa malah mempersilahkan bangsa asing mengurasnya,
kita kok mau-maunya menerima uang receh
dari pajak mereka?
Kita dikaruniai tanah subur
nengapa malah mengimpor pangan dan hasil pertanian yang bisa kita hasilkan sendiri?
Kita dikaruniai potensi serat melimpah dan ketrampilan menenun kain kelas satu di dunia
kenapa memikih impor tekstil dan sampah pakainan bekas dari luar negeri?
Kita dikaruniai rempah-rempah lezat, makanan,ikan, hewan penghasil daging dan sayuran bergizi juga ketrampilan mengolah makanan lezat,
mengapa kita membiarkan lidah dan selera anak cucu kita dijajah kuliner asing dan menjadikan brand dan gerai mereka seolah tempat ibadah baru?
Hilangnya rasa syukur merupakan salah satu bencana yang sesungguhnya melanda bangsa kita “

“Salah satu?
Jadi masih ada bencana lain?”

“Ada.”

“Apa itu Kek?”

“Hilangnya rasa malu pada bangsa kita.”

Mak Jleb!
Jleb jleb!.
Jlrb jleb jleb!
Benar kata Kakek.
Penjelasan berikutnya membuatku hampir pimgsan.

“Tidak malu lagi bersikap seoerti kanak kanak
suka bertengkar dan memecah-belah diri sendiri.
Seperti anak anak
mau menang sendiri
Bahkan tidak malu
merampok uang rakyat miskin dengan tujuan
agar dirinya kaya tujuh turunan.”
“Ada lagi Kek?”
“Banyak “
“Apakah tindakan tanpa rasa malu itu tidak malu-maluin?”
“Tentu. Lucunya yang malu melihat itu justru bangsa lain.
Tapi ada yang melihat ini kesempatan untuk melumpuhkan semangat perlawanan terhadap penjajah.
Mereka membiarkan orang tak bermalu dan tak bermartabat ini berbuat tidak jujur, curang, melakukan penipuan secara sistemik, struktural dan massif.
Semua ini merusak diri sendiri dan merusak masa depan rakyat.
Mereka menjadi korban dari hilangnya rasa malu dan hilangnya martabat kemanusiaan pemimpinnya.
Bayangkan,, tanpa malu
mereka menggergaji pohon pohon yang ditanam oleh Tuhan di hutan-hutan
menyebabkan banyak pulau menjadi kawasan gundul,
sebuah perubahan iklim sedikit saja bisa menimbulkan banjir dan longsor berkepanjangan.”
Aku hanya diam
tersihir berita bencana
yang disiarkan televisi.

“Hilangnya rasa malu dan hilangnya martabat kemabusiaan ini
membuat manusia menjadi penyembah hawa nafsunya sendiri
Inilah bencana besar kedua yang sesungguhnya.”

“Bencana ketiga yang sesungguhnya apa Kek?” tanyaku bergaya wartawan yang haus berita dan tanpa malu mengejar informasi tentang aib diri sendiri.

“Hei, kau tidak malu kalau bangsamu kutelanjangi dan kubuka senua aibnya?”.
Aku ternganga
gemetar
dan sungguh merasa malu
nendengar pertanyaan Kakek yang mak jleb banget itu
dan sebagai vwartawn nakal aku mengajukan pertanyaan diplomatis,
“Apakah Kakek tidak juga merasa malu membongkar aib bangsa sendiri?”
Kakek tersipu
“Aku sungguh malu Nak
sungguh malu “

Kakek menangis
membuatku ikut menangis
saat itu hujan deras turun selama tiga jam
kami diam tanpa kata-kata
Menghabiskan wedang sere dan ubi .

Setelah langit cerah
dan wedang sere habis
Kakek berkata pelahan
tapi mantap,
“Carilah rasa syukur
Carilah rasa malu
bencana demi bencana
akan berlalu “
“Aamiin.”

22 Desember 2025

Related Articles

Artikel baru