Pengantar
Coba kita ingat kembali masa kecil. Ketika guru bertanya, “Kalian mau jadi apa kalau sudah besar?”, jawaban yang muncul hampir selalu sama: dokter, guru, insinyur, pilot, tentara, atau profesi lain yang dianggap prestisius. Tapi adakah yang menjawab ingin menjadi petani? Hampir tidak pernah. Pertanyaannya: mengapa pekerjaan yang menjadi sumber pangan bagi seluruh manusia justru jarang didamba oleh anak-anak? Apakah ini sekadar masalah kurikulum, atau ada persoalan budaya yang jauh lebih dalam?
Pada titik tertentu kita harus berani mengakui bahwa pendidikan formal selama ini tidak membayangkan masa depan anak-anak sebagai petani. Di sekolah, profesi petani tidak hadir sebagai pilihan hidup yang layak. Bahkan, tanpa kita sadari, dunia pendidikan ikut menanamkan anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan kelas bawah—pekerjaan yang dilakukan jika semua peluang lain tertutup. Inilah akar krisis regenerasi petani hari ini: sekolah tidak mengajarkan bahwa menjadi petani adalah pekerjaan yang bermartabat, penting, strategis, dan modern.
Budaya Rendah
Mengapa profesi petani begitu rendah nilainya di benak masyarakat? Anak-anak sejak kecil melihat orang tuanya bekerja di sawah, tetapi ketika masuk sekolah mereka jarang mendengar bahwa bertani adalah cita-cita terhormat. Di banyak daerah, menjadi petani dianggap sebagai “jalan buntu”, bukan jalan menuju masa depan. Pertanyaan pun muncul: bagaimana mungkin anak-anak mau meneruskan profesi petani jika sekolah—ruang pengetahuan utama—tidak menempatkan profesi ini dalam daftar cita-cita mulia?
Budaya pendidikan kita, sejak zaman kolonial hingga hari ini, dibangun di atas nilai bahwa kemajuan berarti meninggalkan desa. Orang dianggap berhasil jika “naik kelas” menuju kota, menjadi pegawai, bekerja kantoran, atau masuk profesi “modern”. Sementara sawah, ladang, ternak, dan kebun dianggap kerja kasar yang tidak membutuhkan kecerdasan. Tanpa kita sadari, pendidikan turut merendahkan pengetahuan agraris yang sejatinya menjadi dasar keberlanjutan hidup manusia.
Padahal, siapa yang memberi makan bangsa? Siapa yang menanam padi, merawat tanaman obat, memelihara ternak, menjaga tanah tetap hidup? Jawabnya para petani. Ironisnya, profesi yang menjadi pilar kehidupan justru dipinggirkan dari kesadaran pendidikan formal. Jika budaya ini tidak dibongkar, maka krisis regenerasi petani hanya tinggal menunggu waktu—karena tidak ada anak muda yang pernah dituntun untuk melihat pertanian sebagai masa depan.
Salah Kurikulum
Masalah berikutnya adalah kurikulum yang tidak pernah serius menempatkan pertanian sebagai bagian pengetahuan umum. Anak belajar matematika, ilmu alam, sosial, bahasa, bahkan ekonomi. Tetapi seberapa banyak pelajaran sekolah yang mengajari cara membaca tanah, mengenal musim, memahami siklus air, menanam benih yang tepat, mengelola hama, atau membangun rantai nilai produk pertanian?
Pelajaran IPA memang membahas tanaman, tetapi hanya sebatas fungsi akar dan fotosintesis. Tidak pernah dibicarakan bagaimana pupuk merusak tanah, bagaimana benih lokal terpinggirkan, atau bagaimana harga di pasar ditentukan. Pelajaran IPS membahas ekonomi nasional, tetapi jarang menerangkan bagaimana petani selalu kalah dalam sistem pasar. Padahal, jika pendidikan ingin relevan, bukankah mestinya ia dekat dengan realitas hidup masyarakat?
Ketika sekolah tidak menyediakan ruang berpikir tentang pertanian, maka wajar jika generasi muda tidak menaruh minat. Mereka tidak pernah melihat pertanian sebagai pengetahuan strategis yang menyangkut pangan, kesehatan, kedaulatan negara, dan masa depan bumi. Sekolah perlu berubah. Pertanian tidak boleh lagi ditempatkan sebagai pengetahuan pinggiran, melainkan sebagai salah satu fondasi pendidikan nasional.
Wajah Baru
Jika pertanian masih dibayangkan sebagai pekerjaan kotor, panas, dan penuh lumpur, wajar jika anak muda enggan. Tetapi apakah pertanian masa kini masih seperti itu? Bukankah dunia pertanian sudah berubah jauh lebih cepat dibanding cara kita memandangnya?
Hari ini kita hidup di tengah wajah baru pertanian yang jauh berbeda dari bayangan lama tentang cangkul, lumpur, dan panas matahari. Pertanian modern kini menghadirkan teknologi presisi berbasis sensor yang mampu membaca kebutuhan tanaman secara akurat. Drone digunakan untuk memetakan lahan secara cepat dan efisien, sementara sistem irigasi digital memungkinkan penggunaan air yang lebih hemat dan terukur. Di sisi hilirisasi, agribisnis berkembang melalui platform e-commerce yang memperpendek rantai distribusi dan memberi keuntungan lebih besar bagi petani. Bahkan pengelolaan data pertanian kini ditopang oleh big data dan kecerdasan buatan (AI) yang membantu prediksi produksi, cuaca, dan pasar.
Semua perkembangan ini menunjukkan bahwa pertanian hari ini bukan lagi pekerjaan kuno, tetapi sektor strategis yang membutuhkan kecerdasan, inovasi, dan kemampuan teknologi tingkat tinggi.
Pertanian bukan lagi sekadar “cangkul dan matahari”, tetapi bidang strategis yang membutuhkan kecerdasan, kreativitas, dan inovasi. Bahkan banyak pengusaha muda sukses memulai usaha agrikultur dari lahan sempit, memanfaatkan media sosial, menjual langsung ke konsumen, dan memotong jalur distribusi yang selama ini menekan petani kecil.
Jika sekolah mampu menghadirkan gambaran baru ini—pertanian sebagai arena teknologi, wirausaha, riset, dan masa depan—maka anak muda akan melihat profesi petani dengan wajah berbeda. Mereka akan sadar bahwa bekerja di sektor pangan tidak berarti “gagal naik kelas”, tetapi justru menjadi bagian dari masa depan bangsa.
Agen Perubahan
Jika ingin regenerasi petani terwujud, sekolah harus menjadi pintu pertama perubahan. Pertanian perlu masuk ke dalam struktur pembelajaran, bukan sebagai tema kecil, tetapi sebagai ruang pengetahuan yang holistik. Anak-anak harus diperkenalkan pada proses menanam, merawat tanaman, memanen, dan menjual produk. Sekolah dapat membangun kebun belajar, kolam ikan, rumah kompos, atau green lab sederhana. Sains, matematika, sosial, dan bahasa dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas pertanian nyata—bukan sekadar di papan tulis.
Lebih dari itu, sekolah bisa membuka ruang kolaborasi dengan desa, balai pertanian, UMKM pangan, dan pelaku agribisnis. Jika keterampilan bertani dapat dilihat sebagai sesuatu yang modern dan membanggakan, maka anak-anak akan memiliki citra diri baru: bahwa menjadi petani bukan masa depan yang suram, tetapi jalan hidup yang bermartabat dan menghidupkan banyak orang.
Lantas, siapa yang akan mengajarkan semua itu? Guru tidak harus menjadi ahli di bidangnya. Yang dibutuhkan adalah sekolah yang mau membuka ruang belajar dengan dunia luar. Ketika sekolah menjadi tempat anak-anak bertemu kenyataan hidup, pendidikan tidak lagi menjadi tumpukan teori, tetapi proses menempa diri.
Penutup
Jika kita jujur, sekolah selama ini tidak memberi ruang bagi anak-anak untuk bercita-cita menjadi petani. Profesi ini seakan bergerak tanpa dukungan budaya, tanpa pengakuan pendidikan, dan tanpa ruang imajinasi di benak generasi muda. Padahal petani adalah penyangga keberlanjutan hidup manusia. Tanpa petani, tidak ada makanan di meja makan, tidak ada negara yang mampu berdiri tegak.
Karena itu, paradigma harus diubah. Sekolah perlu menempatkan pertanian sebagai ilmu strategis dan profesi terhormat. Bukan sekadar kerja fisik, tetapi kerja intelektual yang kini ditopang teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan. Jika kita ingin ada petani di masa depan, maka pendidikan harus berhenti mencetak generasi yang menjauh dari sawah, dan mulai melahirkan pemimpin yang mencintai tanah.
Regenerasi petani bukan sekadar tugas pemerintah atau pasar—tetapi terutama tugas sekolah sebagai ruang pembentuk masa depan manusia. Jika sekolah mampu melakukan itu, maka anak-anak tidak hanya bercita-cita “menjadi sesuatu”, tetapi juga menjadi seseorang yang berguna bagi kehidupan banyak orang.

