Forum 2045 Gelar Pidato Guru Besar: Prof. Alva Tontowi Paparkan Tantangan Hilirisasi Riset Perguruan Tinggi

Yogyakarta — Forum 2045 pada Jumat malam, 21 November 2025, menyelenggarakan Pidato Guru Besar bertajuk “Hilirisasi Hasil R&D Perguruan Tinggi untuk Industri”. Acara yang digelar secara daring, melalui platform zoom meeting ini menghadirkan Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Teknik Industri Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagai pembicara utama.

Acara dibuka dengan sambutan dari Prof. Dr. M. Baiquni, M. A. , yang menjabat sebagai Ketua Majelis Dewan Guru Besar UGM. Selanjutnya, diskusi dipandu oleh Ardini Batrisya, S. T. , alumni Teknik Industri UGM, sebagai moderator, dan Pinurba Parama Pratiyudha, S. Sos. , M. A. , dosen PSdK Fisipol UGM, sebagai host.

Foto Moderator dan Host Acara Pidato Utama Guru Besar, 21 November 2025 (Sumber: Dokumen Redaksi)

Event ini diadakan oleh Forum 2045 berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian UGM, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, dan Desanomia, serta didukung oleh berbagai institusi pendidikan seperti Fisipol Universitas Proklamasi 45, STIA AAN Yogyakarta, Fakultas Pertanian Universitas Janabadra, FKIP Universitas Sulawesi Tenggara, Institut Pertanian INTAN, Sekolah Pembaruan Desa, dan Akademi Hikmah.

Paparan Prof. Alva: Hilirisasi Riset Masih Menghadapi Banyak Kendala

Dalam pembahasannya, Prof. Alva menekankan berbagai isu struktural yang membuat hasil riset dari perguruan tinggi sulit untuk diterapkan di industri. Ia menyebutkan bahwa investasi dalam riset di Indonesia masih rendah dan banyak penelitian yang hanya berhenti pada tahap publikasi, prototipe, atau pameran, sehingga kurang memberikan efek yang berarti bagi pengembangan industri lokal dalam negeri.

Selain itu, ia menguraikan sejumlah kendala dalam regulasi dan manajemen riset, mulai dari birokrasi yang rumit, kebijakan antar kementerian yang belum terkoordinasi, hingga proses pengadaan barang dan jasa riset yang tidak terpisah dari pengadaan biasa. Kurangnya insentif bagi dosen peneliti dan belum adanya kewajiban bagi industri untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi juga menjadi faktor yang menghambat hilirisasi.

Prof. Alva juga membahas tantangan besar yang sedang dihadapi oleh Indonesia, seperti perlunya meningkatkan bonus demografi melalui penciptaan lapangan kerja berbasis sektor industri dan teknologi. Ia mengingatkan bahwa kesiapan teknologi industri nasional masih tertinggal dan dapat menyebabkan migrasi talenta jika ekosistem riset tidak lebih mendukung.

Pada kesempatan ini, ia memberikan contoh hambatan yang muncul dalam penelitian sektor alat kesehatan, seperti proses etik yang panjang dan kebutuhan untuk melakukan prototyping serta produksi yang masih dilakukan di luar negeri.

Rekomendasi Perbaikan Ekosistem Hilirisasi

Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, Prof. Alva merekomendasikan beberapa langkah strategis, termasuk penyederhanaan proses birokrasi, harmonisasi regulasi, perbaikan pengelolaan dana riset, penyediaan skema pengadaan khusus untuk riset, serta penguatan perlindungan hukum dan insentif bagi para peneliti. Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri agar riset dapat memberikan dampak yang lebih nyata.

Forum 2045 menyelenggarakan pidato ini sebagai bagian dari komitmennya menghadirkan pemikiran para guru besar guna memperkayawacana publik tentang pembangunan nasional, terutama terkait peran perguruan tinggi dalam memajukan inovasi dan meningkatkan daya saing industri menuju Indonesia 2045.

Related Articles

Artikel baru