Penggambaran Keliru Rasisme di Indonesia dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Oleh: Harsa Permata

Terus terang, saya baru menonton film ini, lewat penyedia layanan tv berlangganan, Prime Video. Beberapa bulan lalu, memang sempat jadi perbincangan film ini, saat diputar di bioskop. Akan tetapi, saya tidak berkesempatan menonton film ini di bioskop, saat itu.

Film ini disutradarai oleh sutradara spesialis film horor, yaitu Joko Anwar. Oleh karena itu, nuansa horor sebenarnya sangat kental di film ini. Walaupun demikian, film ini bukanlah film horor. Kalau mau dimasukkan ke dalam kategori tertentu, mungkin film ini lebih cocok ke dalam kategori suspense atau thriller.

Cerita film ini secara umum adalah fiktif, atau fiksi. Karena memang, kerusuhan rasial yang mengorbankan etnis Tionghoa, tidak terjadi pada tahun 2010. Di awal film ini memang diceritakan terjadi kerusuhan rasial, yang membuat Edwin, yang diperankan oleh Morgan Oey (Edwin dewasa), dan Theo Camilio Taslim (Edwin remaja), dan kakak perempuannya, Silvi (Sheila Kusnaidi dan Lia Lukman), yang beretnis Tionghoa, menjadi sasaran. Setelah Edwin sadar dari pingsannya, dan kebingungan mencari kakak perempuannya yang hilang, latar waktu film langsung melompat ke masa depan, yaitu tahun 2027.

Saat itu, Edwin tengah berpergian menggunakan KRL (Kereta Listrik) yang penuh coretan di dinding kereta, dan dinding-dinding di luar kereta. Ada coretan yang rasis, yang menyerang dan menyamakan etnis Tionghoa dengan binatang, coretan ini berupa gambar salah satu binatang yang diberi tanda silang. Ada juga beberapa coretan anti rasis, akan tetapi, kalah jumlah dengan coretan rasis.

Alur cerita, sempat flashback sebentar, ke dua tahun sebelumnya, saat Silvi, kakak perempuan Edwin tengah dirawat di rumah sakit, sesaat sebelum ia meninggal dunia. Saat itu, Silvi berpesan supaya Edwin mencari anaknya Silvi, hasil perkosaan massal terhadapnya, pada saat kerusuhan rasial yang menyasar etnis Tionghoa, tahun 2010.

Setelah itu, Edwin, yang seorang guru seni bekerja berpindah-pindah, di berbagai Sekolah Menengah Atas (SMA), sebagai seorang guru pengganti, untuk mencari keponakannya tersebut. SMA terakhir yang didatanginya adalah SMA Duri di Jakarta Timur. SMA ini dikepalai oleh Darno Sumitra, yang diperankan oleh Landung Simatupang.

Singkat cerita, Edwin diterima bekerja di SMA tersebut, sebagai guru seni sekaligus wali kelas, yang murid-muridnya terkenal rasis, nakal dan pemberontak. Pimpinan geng murid-murid rasis tersebut adalah Jefri (Omara Esteghlal). Ia lah yang kerap memimpin teman-temannya melakukan persekusi terhadap murid-murid SMA lain yang beretnis Tionghoa.

Di sekolah tersebut, ia juga bertemu dengan seorang guru perempuan, yang ramah, yaitu Diana (Hana Malasan), dan seorang murid jago gambar, Khristo (Endy Arfian). Hubungan Edwin dan Diana, kemudian cukup dekat, mereka bahkan pergi ke sebuah bar, di Pecinan (China Town), yang bernama Wijaya.

Untuk Khristo, karena jago gambar, maka Edwin menduga, bahwa ia adalah keponakannya yang tengah dicarinya. Alasannya cukup sederhana, yaitu karena keluarganya jago gambar, maka ia menganggap, bahwa keponakannya haruslah seorang yang juga jago gambar. Ia sebelumnya melihat sketsa Khristo tentang becak dan pengemudinya, yang dinilainya bagus.

Hal yang tidak masuk akal bagi saya, adalah bagaimana bisa seorang guru pengganti di Jakarta membeli bir di sebuah bar. Harga bir, apalagi di sebuah bar, di Jakarta, biasanya akan relatif mahal, untuk orang-orang yang berpenghasilan UMR (Upah Minimum Regional). Selain itu, Jakarta, dan juga mungkin sebagian besar kota-kota di Indonesia, biasanya belum ada legalisasi distribusi minuman keras. Hal inilah yang juga membuat harga minuman keras, termasuk bir, menjadi mahal.

Hal yang juga tidak sesuai dengan kondisi riil, adalah tempat tinggal Edwin, yaitu sebuah kamar yang cukup luas, di lantai yang cukup tinggi, dan ada jendelanya, yang menghadap ke jalan raya. Sewa kamar kos atau di Jakarta, untuk kamar seperti itu, biasanya relatif mahal, apalagi, ada kamar mandi di dalam, dengan shower dan kloset duduk.

Akan tetapi, bisa saja kemudian, jika sebenarnya Edwin dan keluarganya, yang rukonya terbakar dalam sebuah kerusuhan rasial tahun 2010, ternyata sudah financially secure. Sehingga pekerjaan sebagai guru pengganti hanyalah sebuah kamuflase, untuk mencari keponakannya yang hilang.

Hal yang ingin saya soroti dalam alur cerita film ini adalah, bagaimana fenomena rasisme di Indonesia, tidak digambarkan secara tepat, atau dengan kata lain tidak sesuai dengan kondisi riil dan akar rasisme di Indonesia. Saya kurang paham mengapa Joko Anwar tidak melakukan studi atau riset yang mendalam terkait rasisme dan sejarah rasisme di Indonesia. Inilah yang kemudian membuat fenomena rasisme di Indonesia, digambarkan secara keliru dalam film tersebut.

Kalau kita melihat film atau serial produksi luar negeri, seperti Amerika Serikat, Eropa, maupun negara-negara Asia lainnya, fenomena rasisme selalu digambarkan sebagai hasil dari persoalan ekonomi, entah itu karena krisis ekonomi, sehingga membuat terjadi persaingan yang sangat ketat antar pekerja atau pengusaha.

Seperti misalnya serial “Warrior”, yang naskahnya ditulis oleh Bruce Lee. Dalam serial ini digambarkan apa yang menjadi akar rasisme terhadap etnis Tionghoa di Amerika Serikat, pada masa itu, yaitu adalah karena krisis ekonomi, yang menimbulkan krisis lapangan kerja. Hal yang membuat persaingan antara para imigran Eropa yang dalam hal ini adalah Irlandia, dengan imigran Tiongkok menjadi sangat keras.

Dalam Film “The Citizen”, juga demikian, sikap anti imigran Timur Tengah, terlihat begitu menonjol, setelah Tragedi WTC (World Trade Centre), 11 September 2001. Ekonomi Amerika Serikat juga digambarkan sedang mengalami krisis. Hal ini terlihat jelas saat Ibrahim, tokoh utama dalam film itu, kesulitan mencari pekerjaan, karena para pengusaha kecil dan menengah memilih untuk tidak menambah pekerja, dengan alasan tidak mampu untuk membayar gaji pekerja.

Untuk kasus rasisme di Indonesia, sebenarnya juga kurang lebih sama. Persoalan ekonomi, adalah hal yang dalam sejarah, selalu memicu aksi-aksi rasis terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Kerusuhan Mei 1998, yang berlangsung sekitar 13-14 Mei, terjadi karena penguasa Orde Baru, yang sudah terpojok, akibat massifnya berbagai demonstrasi anti pemerintah, kemudian melakukan aksi provokasi terhadap masyarakat Indonesia, yang ditimpa persoalan krisis ekonomi dan kesulitan hidup.

Konflik horizontal yang berujung pada persekusi, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap etnis Tionghoa, terjadi akibat dari provokasi tersebut. Etnis Tionghoa dalam sejarah memang adalah salah satu etnis yang terkenal akan kegigihannya untuk berusaha, oleh karena itu, secara ekonomi, sebagian dari mereka cukup mapan, bahkan menempati posisi kelas atas, dari segi pendapatan dan penghasilan.

Persoalannya, secara politik, etnis Tionghoa memang lemah. Hal ini dikarenakan jumlah politisi beretnis Tionghoa, sangat minim, sehingga akses mereka terhadap kekuasaan, juga tidak sebesar etnis-etnis non-Tionghoa lainnya. Kebijakan pembatasan politik terhadap etnis Tionghoa oleh Rezim Orde Baru, adalah salah satu penyebabnya. Sebelumnya, pada era pemerintahan Soekarno, etnis Tionghoa dibatasi secara ekonomi, dengan pelarangan untuk mendirikan warung-warung di wilayah pedesaan. Pemerintahan paska Soekarno, yaitu Orde Baru memang memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi akses ekonomi untuk masyarakat Tionghoa. Akan tetapi, secara sosial politik, budaya, keagamaan, dan administrasi, etnis Tionghoa dibatasi (Dikutip dari artikel “Diskriminasi terhadap Tionghoa Indonesia pada Masa Orde Baru”, oleh Susanto Jumaidi dan Tri Indriawati, kompas.com, akses 24/08/2025).

Kesimpulannya, berbagai wacana dan aksi rasis terhadap etnis Tionghoa bukanlah hal yang berdiri sendiri. Faktor ekonomi-politik merupakan akar utama yang melatarbelakangi. Oleh karena itu, film yang mengangkat tema antirasis seharusnya menggambarkan akar permasalahan tersebut secara tepat dan mendalam. Kekeliruan dalam penggambaran hanya akan membuat kesadaran masyarakat tidak berkembang, karena akar rasisme tidak terjelaskan dengan baik.

Untuk itu, studi dan riset yang mendalam mengenai rasisme di Indonesia penting dilakukan oleh para sineas yang mengangkat tema antirasisme. Dengan begitu, penggambaran fenomena rasisme di Indonesia dapat disampaikan secara tepat dan benar, sehingga pesan antirasis dapat tersampaikan dengan kuat kepada masyarakat luas.

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru