Masjid Tertua di Tiongkok: Jejak Islam di Jantung Jalur Sutra Xi’an

Oleh: Nofica Andriyati
(Mahasiswa Doktoral Shaanxi Normal University, Dosen PGSD UNU Yogyakarta)

Di jantung daratan Tiongkok, di wilayah utara-tengah yang diapit pegunungan dan bentangan dataran loess berwarna kuning keemasan, berdirilah kota tua Xi’an (西安) — ibu kota Provinsi Shaanxi dan salah satu kota tertua di dunia yang masih berdenyut hingga hari ini. Dahulu, kota ini dikenal dengan nama Chang’an, yang berarti kedamaian abadi, dan menjadi saksi lahirnya peradaban Tiongkok yang berulang kali memengaruhi sejarah Asia Timur. Selama berabad-abad, Chang’an menjadi pusat dinasti besar seperti Han, Sui, dan Tang, yang menegaskan kemegahan budaya dan politik Tiongkok klasik.

Pada masa Dinasti Tang (618–907 M), Chang’an menjelma menjadi kota metropolitan pertama di Asia Timur, tempat istana megah berdiri beriringan dengan pasar yang ramai dipenuhi rempah, batu mulia, dan kain sutra dari negeri-negeri jauh. Dari sinilah Jalur Sutra membentang ke barat, menghubungkan Xi’an dengan Samarkand, Persia, dan hingga tepian Laut Tengah, menjadikannya titik pertemuan perdagangan, diplomasi, dan pertukaran budaya.

Masa keemasan Chang’an sempat meredup seiring runtuhnya Dinasti Tang, namun kota ini tak pernah benar-benar hilang dari peta sejarah. Kini, Xi’an bangkit sebagai pusat kebudayaan, pendidikan, dan teknologi modern. Di antara tembok-tembok kuno yang masih kokoh berdiri, universitas, museum, dan laboratorium riset berpadu dengan aroma khas roti panggang, sate domba, dan mie tarik dari Muslim Street (Huimin Jie) — kawasan yang selama berabad-abad menjadi rumah bagi komunitas Muslim. Komunitas ini dikenal sebagai Hui, keturunan pedagang dan pelaut Arab serta Persia yang datang melalui Jalur Sutra, kemudian menikah dan berbaur dengan penduduk lokal. Dari percampuran tersebut lahirlah identitas Muslim Tionghoa yang tetap memegang ajaran Islam, berbahasa Mandarin, berpakaian seperti warga lokal, dan hidup selaras di tengah budaya Tionghoa.

Awal Mula Jejak Islam di Xi’an
Islam memasuki Tiongkok sekitar abad ke-7 M, ketika Chang’an berperan sebagai ibu kota Dinasti Tang dan menjadi titik awal Jalur Sutra. Jalur ini tidak hanya menjadi jalur perdagangan barang, tetapi juga medium pertukaran gagasan, budaya, dan keyakinan. Para pedagang dari Arab, Persia, dan Asia Tengah membawa rempah, kain, perhiasan, serta praktik keagamaan baru, termasuk Islam. Beberapa catatan sejarah menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Kaisar Gaozong (era Yonghui, sekitar 651 M), utusan dari wilayah Arab kemungkinan datang ke Chang’an untuk membangun hubungan diplomatik, menandai salah satu bukti awal interaksi resmi antara dunia Islam dan Dinasti Tang. Selain utusan, pedagang Muslim tiba secara terus-menerus, menetap, dan membentuk komunitas permanen di kota tersebut. Selama masa Pemberontakan An Lushan (755 M), beberapa komunitas Muslim tetap menetap di Chang’an, menambah keragaman etnis dan budaya di kota tersebut.

Komunitas Muslim awal berpusat di Pasar Barat, kawasan perdagangan internasional yang sibuk. Di sini, pedagang Muslim berinteraksi dengan penduduk lokal melalui perdagangan, pernikahan campur, dan kegiatan sosial lainnya. Aktivitas ini memfasilitasi pengenalan Islam sekaligus memperkenalkan unsur budaya asing yang kemudian diadaptasi dalam konteks lokal. Para pedagang juga berperan sebagai mediator budaya, seperti pialang yang dikenal sebagai ya ren, yang memfasilitasi perdagangan kuda, domba, buah kering, dan barang antik.

Sejak Dinasti Tang, umat Muslim di Xi’an mengalami lokalisasi bertahap. Mereka tetap mempertahankan keyakinan dan praktik keagamaan, namun juga dipengaruhi budaya Tiongkok, termasuk bahasa, adat istiadat, dan sistem administrasi. Penemuan arkeologis, seperti koin emas Arab dari Makam Tang di Xi’an (1964) dan artefak bergaya Islam dari Kuil Famen, menegaskan keberadaan fisik komunitas Muslim sejak abad ke-7. Enklave Muslim, seperti Xi’an Huifang, menyimpan tujuh masjid kuno, termasuk Masjid Huajue Lane dan Masjid Daxuexiang, yang dibangun sejak Dinasti Tang dan direnovasi pada era berikutnya. Prasasti batu di masjid-masjid ini merekam sejarah komunitas, interaksi sosial, serta aktivitas ibadah dan pendidikan mereka. Kehadiran komunitas Muslim ini menegaskan peran Xi’an sebagai pusat penyebaran Islam di Tiongkok melalui kombinasi praktik keagamaan, adaptasi budaya, dan interaksi sosial.

Masjid Agung Xi’an: Simbol Pertemuan Dua Dunia
Masjid Agung Xi’an, dibangun sekitar abad ke-8 Masehi, menjadi artefak penting yang mencerminkan interaksi Islam dan budaya Tionghoa. Masjid ini diperluas pada masa Dinasti Ming dan Qing, menegaskan perannya tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi lintas peradaban. Terletak di wilayah Guanzhong, masjid ini menjadi saksi utama Jalur Sutra, jalur yang membawa pedagang, utusan, dan cendekiawan Muslim dari Asia Barat dan Tengah ke Tiongkok.

Arsitektur Masjid Agung Xi’an menonjolkan harmoni antara prinsip Islam dan estetika Tionghoa. Atap bergaya pagoda khas Tiongkok, kaligrafi Arab berpadu dengan motif naga dan awan, serta halaman dan taman yang menyerupai kuil Tiongkok kuno menunjukkan akulturasi visual yang unik. Menara azan berbentuk paviliun kayu menandai identitas keislaman masjid, sementara pintu gerbang utama menampilkan tulisan “Qing Zhen Si” (清真寺). Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat sosial, budaya, dan perdagangan sejak kedatangan Muslim pertama.

Foto Masjid Agung Xi’an (Sumber: Dokumen Pribadi)

Keberadaan Masjid Agung Xi’an menegaskan sejarah panjang komunitas Muslim di Shaanxi. Artefak, prasasti, dan dokumen masjid menegaskan akar kuat komunitas sejak abad ke-8, dengan peran mereka dalam perdagangan, pendidikan, dan kehidupan religius. Lokalisasi Islam ini mencerminkan kemampuan umat Muslim untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tanpa kehilangan identitas keagamaan, menciptakan harmoni sosial di tengah perbedaan budaya.

Menelusuri jejak Islam di Xi’an membuka pemahaman mendalam tentang dinamika peradaban, perdagangan, dan akulturasi budaya.
Masjid Agung Xi’an menjadi simbol perjalanan panjang pertemuan Timur dan Barat, di mana agama, budaya, dan perdagangan saling berinteraksi. Kehadiran komunitas Hui menunjukkan bagaimana migran mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas, menciptakan harmoni di tengah keberagaman. Xi’an, dengan tembok kota kuno, Muslim Street, dan masjid-masjidnya, memperlihatkan bahwa sejarah adalah hasil pertukaran, adaptasi, dan pemahaman lintas budaya. Jalur Sutra bukan hanya jalur perdagangan, tetapi medium pertukaran gagasan dan keyakinan. Refleksi ini menumbuhkan apresiasi bahwa warisan budaya dan agama dapat menjadi jembatan untuk memahami manusia lain, memperkaya identitas kolektif, dan menunjukkan bahwa keberagaman yang dihormati dapat menjadi fondasi keharmonisan sosial yang abadi.

Related Articles

Artikel baru