Langit Sana’a berwarna saga ketika raja memanggil para panglima ke ruang pertemuan. Angin Laut Merah membawa debu, seperti pertanda perang yang akan mereka bahas bukan penaklukan biasa.
Di tengah aula berdiri sosok tinggi berwajah batu. Abrahah, penguasa Yaman yang diangkat kerajaan Habasyah, kekuatan Kristen dari dataran tinggi Ethiopia. Ia menunjuk peta, jarinya berhenti pada satu titik kecil di tengah jazirah: Makkah.
“Kita akan menghancurkan Ka‘bah,” katanya datar, mengandung api.
Ruangan sunyi. Para panglima saling pandang. Salah satu dari mereka seorang jenderal tua, Gebre Meskel, melangkah maju. Wajahnya seperti pahatan dinding gereja, matanya memuat kelelahan yang hanya dimiliki orang yang pernah yakin dan kini takut pada keyakinannya sendiri. Dulu ia Hamba Salib yang tak gentar, tapi tahun-tahun panjang di medan perang mengikis keyakinannya satu per satu — tinggal fanatisme keras dan luka yang tak sempat sembuh.
“Tuanku,” katanya pelan tegas, “Ka‘bah bukan sekadar batu. Itu warisan Ibrahim, pusat ziarah, kebanggaan orang-orang gurun. Robohkan Ka‘bah, engkau akan membangkitkan sesuatu yang lebih berbahaya dari perang. Keyakinan.”
Abrahah tersenyum sinis. “Mereka ke Ka’bah menyembah berhala. Aku punya al-Qullays, gereja termegah di semenanjung ini. Jika Ka‘bah runtuh, Makkah lenyap dari peta, dan Sana’a jadi pusat ziarah. Apa yang salah?”
“Yang salah,” Meskel menatapnya lekat, “berpikir bahwa batu bisa dilawan batu.”
Abrahah tertawa, gemanya memenuhi aula. “Kita punya gajah-gajah Afrika! Apa yang bisa dilakukan Quraisy selain berdagang dan menggambar siluet unta di kulit kambing?”
Tidak ada yang membantah. Perintah telah dikeluarkan. Pasukan pun disiapkan. Ribuan prajurit, ratusan unta, dan gajah-gajah besar yang tak pernah dilihat orang gurun dibariskan.
Beberapa hari sebelum pasukan mencapai Makkah, utusan datang membawa pesan damai dari seorang lelaki tua bernama Abdul Muthalib, pemimpin Quraisy dan penjaga Ka’bah. Abrahah, yang saat itu berkemah di luar Thaif, memerintahkan menghadap. Di tenda perangnya, ia duduk di kursi tinggi dikelilingi penasihat dan panglima, termasuk Gebre Meskel, yang berdiri di sudut mengamati.
Ketika Abdul Muthalib masuk, seluruh tenda hening. Tak terlihat seperti pemimpin. Pakaiannya sederhana, langkahnya pelan. Tapi ada wibawa di wajahnya, sesuatu yang membuat Abrahah tanpa sadar berdiri.
“Kau pemimpin mereka?” tanya Abrahah. “Aku penjaga Ka’bah. Aku datang hanya untuk satu hal. Unta-unta kami dirampas pasukanmu.”
Abrahah tertawa kecil. “Aku datang untuk meruntuhkan Ka’bah, dan kau meminta ternak? Kukira kau akan memohon agar rumah sucimu diselamatkan.”
Abdul Muthalib menatap Abrahah. Suaranya tenang.
“Aku pemilik unta itu, dan aku bertanggung jawab atasnya. Adapun Ka‘bah, itu rumah Allah. Dialah yang akan menjaganya.”
Hening menyelimuti ruangan. Bahkan Gebre Meskel merasa sesuatu menusuk dadanya. Ada keteguhan tanpa kebencian dan keyakinan yang tak diucap dengan pedang pada sosok ini.
Abrahah memandangi lelaki itu, mencoba membaca kelemahan, tapi hanya menemukan ketenangan. Ia mengangguk singkat. “Ambil kembali unta-untamu.”
Abdul Muthalib membungkuk hormat, lalu pergi. Setelah menghilang di luar tenda, Abrahah duduk kembali, wajahnya murung.
Di sudut tenda, Gebre Meskel berdiri membisu. Untuk pertama kalinya ia bertanya dalam hati “Bagaimana jika lelaki ini benar?”
Saat mereka berangkat, kota-kota di jalur dagang membisu. Tanah berguncang oleh langkah makhluk raksasa bermata sunyi.
Makkah tidak bersiap perang. Ini kota ziarah, bukan benteng, bukan bagian dari kerajaan Persia atau mana pun. Kota mandiri seperti kebanyakan kota-kota Hijaz. Ketika pasukan Abrahah mendekat, dentum kaki gajah terdengar seperti lonceng kematian. Penduduk Quraisy lari ke perbukitan, meninggalkan rumah dan pasar yang lengang. Ka‘bah berdiri sendirian di tengah sunyi.
Pasukan Abrahah masuk kota tanpa perlawanan. Debu belum turun ketika para prajurit menggiring gajah-gajah menuju Ka’bah.
Seekor gajah tiba-tiba berhenti.
Penjaganya memukul, menarik, meneriaki. Si gajah diam, menatap Ka‘bah sejenak, lalu duduk perlahan di tanah. Tubuhnya gemetar.
Abrahah marah. Turun dari kuda berjalan ke depan, hendak memberi perintah. Namun sebelum sempat bicara, angin menderu kencang menerbangkan debu, bergumpal-gumpal membentuk gulungan. Langit mengatup hitam.
Lalu datang suara. Bukan gemuruh, bukan teriakan. Tapi desir benda benda jatuh.
Burung-burung asing mengepak di atas, menjatuhkan batu sebesar kepala bayi—panas, hitam, membara meluncur ke bawah, membelah awan. Batu-batu menghempas tanah, rumah, orang, gajah-gajah, menghantam pasukan seperti hujan kematian. Gajah-gajah mengamuk, para prajurit melolong lari berhamburan, tubuh daging terkoyak, terpotong, tulang-tulang hancur.
Meskel menyaksikan dari balik debu. Ia melihat Abrahah jatuh dari kudanya, tertimpa pecahan perisai dan batu panas. Ia berlari.
“Tuanku!” panggilnya, merunduk di sisi pemimpin yang kini penuh luka. Abrahah membuka matanya perlahan. Nafasnya berat. “Meskel… apa ini…?”
Meskel menahan tangisnya.
“Ini bukan perang, Tuanku. Ini teguran.”
Abrahah mencoba bicara, tapi darah membungkam lidahnya. Ia hanya sempat berbisik, “Ka‘bah… masih berdiri?”
Meskel mengangguk perlahan. Abrahah tersenyum tipis—bukan senyum lega, tapi pahit, seperti lelaki yang akhirnya sadar seluruh hidupnya terbentur dinding tebal.
Di tengah reruntuhan dan hujan batu, Gebre Meskel berdiri sendiri, wajahnya berdarah dan mata kosong menatap Ka’bah yang tak bergeser sedikit pun. Ia tidak berlutut, tidak menangis. Ia hanya memandang dan berbisik pelan, “Jika ini kehendak-Nya…mungkin selama ini aku tak pernah mengenal Nya.”
Pasukan yang tersisa mundur, terseok seperti bayangan. Makkah kembali diam.
Hari-hari berlalu. Penduduk Quraisy turun dari bukit-bukit, kembali ke kotanya yang rusak. Mereka menemukan reruntuhan, mayat-mayat, dan gajah gajah mati. Tapi Ka‘bah berdiri tanpa goresan.
Orang-orang mulai membersihkan, menata. Gang-gang perlahan hidup. Anak-anak kembali bermain di dekat Zamzam, meski mata mereka masih menyimpan trauma.
Lalu datang malam dua belas Rabiul Awal. Langit begitu jernih, seperti baru dicuci hujan. Udara diam, bumi menahan napas menanti sesuatu yang belum pernah dilahirkan.
Dan di sebuah rumah sederhana, suara tangisan bayi pecah. Tangisan yang lembut, nyaring, menembus seluruh kota. Beberapa orang yang mendengarnya berhenti sejenak, menoleh tanpa sadar.
Tak ada yang tahu apa makna tangisan itu.
Tapi mereka tahu — entah bagaimana– dunia akan berubah.
KH Farid Musthofa
Dosen Fakultas Filsafat UGM

