Teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Hampir semua aspek kehidupan—mulai dari komunikasi, ekonomi, hingga pendidikan—dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat. Di bidang pendidikan, teknologi digital sering dipandang sebagai solusi inovatif yang mampu meningkatkan efisiensi pembelajaran, memperluas akses informasi, dan menghadirkan metode belajar yang lebih menarik. Namun, jika dilihat melalui perspektif pendidikan kritis, kehadiran teknologi digital tidak bisa dipahami secara netral. Teknologi membawa serta nilai, kepentingan, dan ideologi tertentu yang dapat memengaruhi cara siswa belajar dan memahami dunia. Oleh karena itu, penting untuk meninjau peran teknologi digital dalam pendidikan bukan hanya dari segi praktis, tetapi juga dari segi kesadaran kritis.
Teknologi sebagai Medium Kekuasaan
Sering kali teknologi dipersepsikan sebagai alat yang bebas nilai. Namun, teori kritis menunjukkan bahwa teknologi bukanlah sekadar instrumen netral. Platform digital, algoritma, dan aplikasi pendidikan dikembangkan dalam konteks sosial-ekonomi tertentu dan sering kali mencerminkan kepentingan industri teknologi maupun ideologi dominan. Misalnya, platform pembelajaran daring yang berbasis langganan memperlihatkan bagaimana akses terhadap pendidikan digital sering kali ditentukan oleh kemampuan ekonomi. Mahasiswa dari keluarga mampu dapat dengan mudah berlangganan kursus premium, sementara mereka yang tidak memiliki sumber daya finansial tertinggal.
Selain itu, algoritma yang digunakan dalam media sosial atau mesin pencari cenderung memprioritaskan konten populer atau yang menguntungkan secara komersial, bukan konten yang paling mendidik. Dengan demikian, teknologi digital bisa secara tidak langsung mempersempit ruang kritis karena mendorong pengguna untuk terus mengonsumsi informasi seragam yang sesuai dengan logika pasar. Di sinilah teknologi beroperasi bukan sekadar sebagai alat, melainkan juga sebagai medium kekuasaan.
Akses Pengetahuan dan Reproduksi Ketidakadilan
Teknologi digital memang membuka akses yang luas terhadap pengetahuan. Melalui internet, mahasiswa dapat menemukan berbagai sumber belajar, jurnal ilmiah, atau materi ajar yang sebelumnya sulit dijangkau. Akan tetapi, akses ini tidak selalu merata. Ada jurang digital (digital divide) yang membedakan antara mereka yang memiliki perangkat, koneksi internet stabil, serta literasi digital, dengan mereka yang tidak. Jurang ini sering kali memperkuat ketidakadilan sosial yang sudah ada sebelumnya.
Di perguruan tinggi, mahasiswa dari daerah perkotaan biasanya lebih mudah mengikuti kuliah daring, sementara mahasiswa dari daerah terpencil mengalami kesulitan karena keterbatasan jaringan. Situasi ini menunjukkan bahwa teknologi digital, alih-alih menjadi jalan keluar dari ketidaksetaraan, justru berpotensi mereproduksi ketidakadilan jika tidak diiringi dengan kebijakan yang adil. Pendidikan kritis mengingatkan kita untuk tidak terjebak pada euforia teknologi, tetapi untuk melihat bagaimana akses yang timpang dapat menghambat tujuan pendidikan sebagai alat pembebasan.
Teknologi, Bahasa, dan Ideologi Global
Bahasa yang digunakan dalam platform digital pendidikan juga mengandung ideologi tertentu. Banyak aplikasi, jurnal ilmiah, maupun kursus daring yang tersedia dalam bahasa Inggris, yang secara tidak langsung memperkuat dominasi bahasa tersebut dalam ranah akademik. Akibatnya, mahasiswa dari negara-negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris sering merasa berada dalam posisi subordinat. Pengetahuan lokal yang ditulis dalam bahasa daerah atau bahasa nasional menjadi kurang terlihat, sementara standar global yang berbasis bahasa Inggris semakin dominan.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana teknologi digital bukan hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membawa serta ideologi globalisasi. Pendidikan kritis perlu mengajarkan mahasiswa untuk memahami dinamika ini agar mereka tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan global, tetapi juga produsen yang mampu menulis, mengartikulasikan, dan menyebarkan pengetahuan dari perspektif lokal.
Ruang Publik Digital dan Kesadaran Kritis
Salah satu potensi besar teknologi digital adalah kemampuannya membuka ruang publik baru bagi diskusi dan partisipasi. Media sosial, forum daring, dan platform kolaboratif memungkinkan mahasiswa untuk menyuarakan pendapat, berdebat, dan membentuk komunitas belajar di luar batas kelas tradisional. Dalam perspektif pendidikan kritis, ruang digital ini bisa menjadi arena untuk membangun kesadaran bersama tentang isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.
Namun, ruang digital juga sarat dengan tantangan. Disinformasi, ujaran kebencian, dan manipulasi politik mudah menyebar melalui algoritma yang memperkuat polarisasi. Mahasiswa yang tidak memiliki literasi kritis mudah terjebak dalam echo chamber, di mana mereka hanya mendengar suara yang sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Oleh karena itu, pendidikan kritis perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan literasi digital yang melampaui sekadar kemampuan teknis. Literasi digital kritis berarti kemampuan untuk mengevaluasi sumber, memahami motif di balik sebuah wacana, serta berani menantang narasi dominan yang menyesatkan.
Transformasi Peran Mahasiswa
Teknologi digital memberi peluang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen pengetahuan. Dengan blog, kanal video, atau platform media sosial, mahasiswa dapat mempublikasikan gagasan, melakukan riset mandiri, atau menyebarkan opini kritis. Dalam konteks ini, pendidikan kritis menekankan pentingnya menggunakan teknologi sebagai alat emansipasi, bukan sekadar hiburan atau komoditas.
Misalnya, mahasiswa yang menggunakan media digital untuk mengadvokasi isu lingkungan sedang mempraktikkan kesadaran kritis melalui teknologi. Mereka tidak hanya belajar teori tentang krisis iklim, tetapi juga menggunakan teknologi untuk membangun solidaritas, menyebarkan informasi alternatif, dan memobilisasi aksi nyata. Inilah wujud konkret dari integrasi teknologi digital dengan pendidikan kritis: pengetahuan yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi bertransformasi menjadi gerakan sosial.
Tantangan Ideologi Neoliberal dalam Pendidikan Digital
Salah satu bahaya terbesar dari integrasi teknologi digital dalam pendidikan adalah komersialisasi. Banyak platform e-learning beroperasi dengan model bisnis yang menempatkan pendidikan sebagai produk yang dijual kepada konsumen. Bahasa yang digunakan pun sering kali menekankan “kompetensi kerja”, “efisiensi belajar”, atau “keterampilan industri”, sejalan dengan ideologi neoliberal yang memandang pendidikan terutama sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.
Jika pendidikan dibiarkan sepenuhnya tunduk pada logika pasar, maka aspek kritis dan reflektif akan terpinggirkan. Mahasiswa didorong untuk mengambil kursus yang “menguntungkan” secara finansial, sementara mata kuliah yang mendorong refleksi sosial atau filsafat dianggap kurang relevan. Pendidikan kritis menantang logika ini dengan menekankan bahwa tujuan pendidikan tidak semata-mata mencetak tenaga kerja, melainkan membentuk warga yang sadar dan mampu memperjuangkan keadilan sosial.
Menuju Integrasi Kritis antara Teknologi dan Pendidikan
Untuk memastikan bahwa teknologi digital benar-benar mendukung pendidikan kritis, perlu ada kesadaran dan strategi khusus dalam penyusunan kurikulum serta kebijakan pendidikan. Teknologi harus dipandang bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai alat untuk memperluas ruang dialog, memperkuat akses, dan mendorong partisipasi kritis mahasiswa. Universitas dapat merancang program yang mengintegrasikan literasi digital kritis ke dalam setiap bidang studi, agar mahasiswa tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menilai dampaknya secara sosial dan ideologis.
Selain itu, penting untuk memperkuat produksi pengetahuan lokal melalui teknologi digital. Publikasi terbuka, platform jurnal berbahasa nasional, atau inisiatif digital berbasis komunitas dapat menjadi cara untuk menantang dominasi pengetahuan global yang sering kali berpusat di Barat. Dengan demikian, teknologi digital bisa benar-benar menjadi sarana pembebasan, bukan sekadar alat reproduksi ideologi dominan.
Teknologi digital menawarkan peluang besar bagi dunia pendidikan, tetapi juga menghadirkan tantangan serius jika tidak disikapi secara kritis. Di satu sisi, ia membuka akses pengetahuan, memperluas ruang diskusi, dan memungkinkan mahasiswa menjadi produsen pengetahuan. Di sisi lain, teknologi digital bisa memperkuat ketidakadilan, mendominasi dengan ideologi global, serta menjerumuskan pendidikan ke dalam logika neoliberal.
Pendidikan kritis memandang bahwa teknologi digital harus digunakan untuk membangun kesadaran, bukan hanya untuk menambah keterampilan teknis. Dengan membekali mahasiswa literasi digital kritis, membuka ruang bagi keragaman pengetahuan, dan menantang dominasi ideologi pasar, pendidikan dapat memanfaatkan teknologi digital sebagai alat pembebasan. Pada akhirnya, tujuan utama bukanlah sekadar menciptakan universitas yang modern secara teknologi, melainkan membentuk generasi yang mampu membaca dunia secara kritis dan berani mengubahnya ke arah yang lebih adil.