Paruh kedua abad 20, boleh jadi, adalah satu rnasa dimana kecemasan menggelayut di benak setiap orang. Betapa tidak, di tengah pesatnya perkernbangan sains dan teknologi yang tampak begitu digdaya, dunia kala itu dihadapkan kepada pelbagai absurditas. Ancaman perang nuklir, eksploitasi, lingkungan, krisis energi, inflasi, ledakan populasi dan pengangguran, kemiskinan untuk menyambut beberapa gejala membuat nasib kehidupan di muka bumi seakan tengah berada di ujung tanduk.
Atmosfer Perang Dingin yang menyeret industrialisme untuk memproduksi senjata pemusnah massal dalarn skala besar barangkali bisa sedikit menjelaskan kondisi tersebut. Tak pelak lagi, ancaman perang nuklir menjadi bahaya terbesar yang dihadapi umat manusia pada rnasa itu, meski bukan satu-satunya. Ekosistem global dan evolusi kehidupan selanjutnya berada dalam bahaya yang serius. Bencana ekologis mahadahsyat pun berada di depan mata.
Sementara itu, di negara-negara industri rnaju mewabah berbagai penyakit yang waktu itu masih tergolong baru. Kanker, penyakit hati, dan stroke, hingga tekanan psikologis semacarn depresi hebat, dan scizofrenia, yang menyeruak kala itu merupakan epidemi yang sebelumnya tidak pernah tercatat sepanjang sejarah peradaban rnanusia. Semua bentuk penyakit itu muncul dari kemerosotan lingkungan sosial masyarakat industri. Bahkan, “epidemi” itu sendiri menjadi terma yang hampir terlalu miskin untuk menggambarkan situasi ini. Kemunculan berbagai patologi sosial itu masih hams ditambah dengan adanya berbagai anomali ekonomi: inflasi, pengangguran besar besaran, dan ketimpangan yang kian lebar menandai sifat-sifat struktur sebagian besar ekonomi nasional berbagai negara.
Kebingungan yang akut pun melanda para politisi dan kalangan media. Mereka tidak tahu mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu untuk menangani masalah ini dan mengurangi kerusakan. Dan yang paling mengejutkan, zaman ini mendapati di mana orang-orang yang seharusnya ahli dalam berbagai bidang tidak mampu lagi menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang telah muncul di bidang keahlian mereka. Kami kira, inilah suatu panorama yang memperlihatkan kebuntuan teknoratisme.
Adakah kini berbagai problem di atas telah menjadi sejarah–sesuatu yang dapat sesekali kita tengok dalam arsip atau album kaledoiskop dari sebuah era yang telah lampau? Pelajaran apa yang sesungguhnya dapat kita petik dari optimisme yang meluap-luap akan kedigdayaan sains dan teknologi di awal abad silam?
Kini, kita hidup di abad 21 yang ditandai dengan t;mtangan dan kegairahan-juga kecemasan-baru. Teknologi abad 21 dengan corak dan karakternya yang baru pula hadir di tengah hidup kita: artificial intellegence, machine learning, mesin mesin cerdas, biologi sintetis, pengeditan gen, bioprinting-untuk menyebut beberapa contoh. Kehadirannya tentu akan semakin memperkaya dan mempermudah hidup manusia. Namun, siapakah sesungguhnya yang memiliki akses dan kendali terhadap berbagai teknologi mutakhir tersebut? Sudahkah ia memberi dampak bagi kemaslahatan dan kemakmuran bagi masyarakat, terutama di negeri berkembang seperti Indonesia?
Apa yang menjadi kecemasan banyak orang bahwa akan terjadi perang senjata nuklir di abad 20, ternyata tidak pernah terjadi. Ketegangan dan konflik antar bangsa mereda di sejumlah belahan bumi. Namun jangan lupa, abad 21 mewarisi masalah yang tak kalah serius. Konflik global, Perubahan iklim, ketimpangan, pengungsi, danledakan populasi. Hal ini menyadarkan kita bahwa manusia dapat terancam karena lingkungan semakin tak .kondusif untuk dihidupi dan akan berakhir. Namun, hal ini terjadi bukan oleh perang nuklir seperti banyak digambarkan pada film-film fiksi ilmiah, tetapi justru karena efek industrial yang dikembangkan oleh manusia sendiri. Lantas, gambaran skenario masa depan seperti apakah yang akan kita wariskan pada generasi mendatang?
Kegairahan dan optimisme baru yang mewarnai abad 21 antara lain ditandai dengan datangnya era digital. Hams diakui bahwa kehadiran teknologi informasi dan komunikasi berhasil membuka akses sedemikian luas bagi masyarakat atas informasi dan sumber-sumber pengetahuan. Siapapun Anda, selama memiliki akses atas koneksi internet, kini memiliki akses yang setara atas informasi dan pengetahuan. Dengan kata lain, monopoli informasi dan pengetahuan kini hampir mustahil terjadi di tengah kuatnya arus demokratisasi pengetahuan yang didorong oleh teknologi informasi tersebut. Dengan akses atas teknologi informasi, masyarakat dapat belajar secara mandiri. Teknologi informasi menjadi instrumen penting untuk mewujudkan masyarakat pintar, sebagaimana diyakini para pakar IT. Hanya saja, dalam perkembangannya, rupanya kondisi serupa ini terlampau ideal. Mengapa?
Di level empiris, demokratisasi pengetahuan itu memang terjadi. Seorang pekerja rumah tangga, misalnya, dapat memasak menu baru berbekal pengetahuan baru yang diperolehnya dari Tiktok, Youtube, dan plaftform digital lainnya. Begitu pula, seorang petani di Lembang, acapkali tidak kekurangan ide atau inspirasi tentang cara-cara berkebun labu yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Insipirasi itu diperolehnya dari hasil browsing di internet melalui android-nya. Namun, ini baru separuh cerita. Sebab, yang paling kentara dan dampaknya sangat terasa mempengaruhi interaksi sosial akhir-akhir ini adalah banyaknya masyarakat kita yang terpapar berita bohong (hoax), ujaran ujaran provokatif (hate speech), disinformasi, dan sebagainya. Sehingga, memunculkan situasi yang penuh ketegangan dan berujung pada polarisasi di masyarakat. Celakanya, pemerintah sebagai pemangku otoritas tertinggi, tampak sekali kewalahan membendung fenomena tersebut, terlebih di tahun politik, lantaran instrumen regulasi yang ada tak cukup mempan, alih-alih memadai.
Demikianlah, media sosial membawa kita pada era big data. Dunia dengan limpahan informasi yang tiada tara, tetapi kadang menyesatkan, membawa kita ke era post-truth. Beberapa politisi di dunia menggunakan hal ini untuk kepentingan politik yang tidak masuk akal. Naiknya Donald Trump di Amerika Serikat dan keputusan Brexit di Britania Raya adalah contoh penggunaan analisis algoritma untuk kepentingan tersebut. Walhasil, merebak ketidakpercayaan masyarakat dunia terhadap apa yang telah ditawarkan oleh dunia liberalisme dan sistem demokrasi.
Setelah runtuhnya komunisme di Eropa Timur, kita memang hampir tidak lagi memiliki alternatif yang dapat mengirnbangi sistem yang menjadi arus utama dunia. Sebagai pemenang Perang Dingin, memaksakan nilai-nilai liberalisme, kapitalisrne, dan demokrasi, sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkan tatanan dunia baru. Inilah yang kemudian memunculkan yang disebut Pax Americana. Namun hal ini kernudian memunculkan paradoks baru karena ulah Amerika sendiri, seperti perang di Timur Tengah yang tidak berkesudahan, menguatnya radikalisme dan fundamentalisme yang mencapai klimaksnya dalam tragedi 9/11, dan munculnya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia. Dari segi ekonomi, Tiongkok memiliki kebijakan ekonomi luar negeri yang sangat liberal di satu sisi. Namun sebagai bekas negara Komunis, mereka tidak bisa menghapus wataknya yang sosialistik, dan tentu saja totaliter. Mereka sangat membatasi gerak-gerik warga negaranya di dalam negeri. Lalu, kemajuan apa yang sesungguhnya mau ditawarkan Abad ini’?
Abad 20 melahirkan ide-ide kesetaraan baik dari segi hak politik, ras dan gender. Tetapi, Harari mencatat, faktanya manusia tetap saja terbagi-bagi menjadi kelas dan kasta. Secara bersamaan perkembangan kecerdasan buatan clan bioteknologi di atas akan mengantarkan manusia pada · pembagian kelas clan kasta yang susah dibayangkan sebelumnya.
Tidak hanya itu. Munculnya big data dan perkembangan media sosial membuat potensi pada monopoli data dan diktator digital. Negara, elite, clan korporat bisa saja rnemonopoli informasi yang masuk pada masyarakat, mana yang harus disensor mana yang perlu di publikasi sekaligus menambang informasi dari setiap pribadi warga negara yang terakses dengan media sosial apapun bentukplatform-nya. Praktik rnemanfaatkan informasi pribadi di media sosial sudah pernah dilakukan untuk kemenangan Donald Trump. Selain itu, jual beli data genetik sudah mulai dilakukan, baik untuk kepentingan perusahaan farmasi maupun untuk mengontrol populasi dan warga negara. Singkatnya, barang siapa yang mernpunyai akses dan kontrol atas data akan menguasai dunia. Jika memang demikian adanya, demokratisasi informasi dan pengetahuan yang dijanjikan sebagai capaian baru abad ini pun tidaklebih hanya mitos belaka.
Dalam buku 21 Lessons of the 21st Century (2018), Harari mengatakan bahwa ancaman gabungan dari teknologi informasi dan bioteknologi terhadap pusat nilai-nilai modern seperti kebebasan dan kesetaraan hanya bisa diselesaikan oleh kerjasama secara global umat manusia. Tetapi sekat sekat kebangsaan, agama, dan kebudayaan, membelah kemanusiaan menjadi kamp dan membuatnya sangat sulit untuk kerja sama, terlebih dalam level global. Masalah global membutuhkan jawaban global bukan jawaban yang ditafsirkan antara setiap negara. Ancaman perubahan iklim dan pengungsi, tidak bisa diselesaikan oleh satu negara tetapi membutuhkan kerja sama global.
Pada titik inilah agama, dengan ajaran keadilan dan semangat welas asihnya ( al-mukhafadhoh ala-qodimis sholih), diharapkan dapat memainkan perannya yang strategis. Semangat kosmopolitanisme akan memaksa agama menjadi lebih adaptif dan luwes, alih-alih menjadi lebih konservatif mempertahankan berbagai tradisi yang mungkin sudah ketinggalan zaman (al-ahdzu wal-ijad bil jadidil ashlah). Pesantren, sebagai lembaga keislaman yang telah bertahan berabad-abad, diharapkan memainkan peran utama tersebut. Sains dan teknologi perlu dipandu oleh nilai-nilai maqoshid syariah, nilai-nilai pesantren, nilai keadilan dan kemanusian serta kebijakan politik nan bijaksana. Jika tidak, alih-alih memberi solusi, sains, teknologi, pemikiran keagamaan, dan tradisi agama akan semakin tidak relevan ketika dihadapkan pada pelbagai permasalahan umat manusia. Akhirnya, selamat membaca, bertafakkur, dan berharokah. [Tim Redaksi]